Sabtu, 14 Muharram 1444 H / 13 Agustus 2022

Karnaval Kematian dan Planning Kematian Kita

Kalau kita menonton televisi dan menyimak berbagai media masa akhir-akhir ini, sampai sekarang, ‘pemandangannya’ tidak jauh dari pemberitaan Mbah Surip, W.S. Rendra, dan Noordin M. Top. Seputar tiga tokoh itu. Dan kita dapatkan satu sumbu yang sama, yakni tentang episode kisah di akhir / batas kerja manusia di dunia, yakni kematian.

Katanya, Mbah Surip meninggal dunia karena penyempitan pembuluh darah, karena disebabkan oleh terlalu banyaknya Si Mbah mengkonsumsi kopi, sampai-sampai saya denger kabar per hari Mbah Surip ‘nyruput’ 20 cangkir kopi.

Si Burung Merpati W.S. Rendra pun dipanggil Yang Maha Kuasa di rumah sakit, setelah tergolek lama dengan penyakitnya. Tidak lama beberapa setelah Mbah Surip diberitakan meninggal dunia.

Orang yang diduga Noordin M. Top diberitakan meninggal dunia tadi pagi sekitar jam 10 setelah tertembak oleh anggota Densus 88 POLRI di daerah Temanggung Jawa Tengah. Warga Malaysia ini diperkirakan meninggal dunia setelah operasi pengepungan lebih dari 18 jam mulai kemarin sore.

Di program berita salah satu stasiun TV, diberitakan ada mayat yang 26 tahun lalu dikubur, setelah dibongkar, ternyata jasadnya masih utuh. Ini kisah nyata, bukan sinetron religi. Diketahui bahwa dia dulu seorang guru ngaji Al Quran yang tiap harinya tak pernah bosan mengajar warga, mulai anak-anak sampai orang tua, agar mereka lebih dekat dengan ALLAH.

Beberapa hari sebelum mereka semua, tetangga saya juga meninggal dunia karena penyakit ‘angin duduk’. Beliau pernah dua kali menjadi saksi salah satu partai dakwah pada dua pemilu yang lalu. Dan satu pekan lagi, sebelum kematiaanya, harusnya ia mulai halaqoh pertamanya dengan om saya.

Beberapa tahun yang lalu, kita mengenal Mirza Ghulam Ahmad, orang kurang ajar yang mengaku nabi ini, meninggal dunia di kamar mandi karena menderita suatu penyakit yang aneh.

Beberapa abad yang lalu, kita mengenal sahabat Kanjeng Nabi yang bernama Hanzhalah, yang jasadnya dimandikan malaikat, karena dia tidak sempat mandi junub setelah beribadah dengan istrinya, saat panggilan jihad terdengar di telinganya.

Tak lama setelahnya, kita tahu Umar Ibnul Khattab terbunuh oleh Abu Lu’lu’ah ketika beliau sedang mengimami sholat.

Itulah sebuah karnaval kematian manusia. Mungkin banyak yang belum saya ceritakan. Tapi ada satu keniscayaan, yakni bahwa kita pasti kelak akan menjadi peserta karnaval itu, cepat atau lambat. Pasti. Kita tidak bisa mengelak, memajukan, memundurkan, atau belindung dengan suatu tembok yang kokoh. Itu kata Kitab Suci.

Orang-orang di atas meninggal dunia dengan cara-caranya sendiri. Begitu juga dengan kita. Kita tidak tahu kapan, dimana, dan dalam keadaan apa. Kematian akan selalu menjadi misteri. Dan selalu terus menjadi misteri. Tidak ada satu alasan yang dikemukakan oleh Kitab Suci kenapa kematian harus menjadi misteri. Tapi ada satu hikmah besar: agar kita selalu siap dalam menghadapinya.

Mungkin kematian itu harus direncanakan. Lho kok? Ya , harus direncanakan. Karena hidup ini tidak lain adalah menyesuaikan rencana-rencana kita dengan rencana-rencana ALLAH. Kita punya rencana, ALLAH pun punya rencana. Yang pasti kita oleh ALLAH diberikan waktu dan pilihan agar kita mempersiapkan kematian sebaik-baiknya, agar Dia tersenyum ketika kita bertemu dengan-Nya. Kita diberikan pilihan apakah menuruti hukum-Nya, atau sombong terhadap-Nya.

Tapi kita tidak dibiarkan begitu saja. Kita dibekali dengan hati, akal dan perasaaan. Agar kita tahu dan dapat membedakan baik dan buruk. Benar dan salah. Wahyu atau nafsu. Semua orang, siapupun saya dan Anda, pasti memilih kematian yang indah, yakni ketika kita sedang melakukan kebajikan.

Orang yang hobi nonton film porno, maaf, tak ingin dia meninggal dunia saat asyik mengunjungi sitis-situs porno.
Orang yang suka mabuk, minum minuman keras, tidak ingin dijemput malaikat maut saat ia asyik memegang botol minuman keras.
dan seterusnya. Semua orang sama.

Kematian adalah hak prerogratif ALLAH. Mutlak. Kita hanya hamba. Ciptaan Allah. Maka tidak sepatutnya kita melawan-Nya. Sudah cukup kurang ajar apabila kita tetap fesbukan apabila kita mendengar adzan, tapi tidak segera berangkat ke masjid. Sudah cukup kita disebut durhaka apabila kita tidak pernah sekalipun membaca surat-surat cinta-Nya berupa Al Quran.
Sudah ingkar apabila kita lebih mudah berbelanja barang-barang mahal tetapi infaq ke masjid masih berat hati.

Saya tidak tahu, kapan, dimana, dalam keadaan apa, saya meninggal dunia. Tapi mumpung ada kesempatan, saya mohon maaf atas kesalahan saya.

Ada beberapa pertanyaan renungan yang saya dapatkan dari ustadz Anis Matta:
1. Kalau diberikan pilihan, pada umur berapa Anda merasa tepat meninggal dunia?
2. Jika sekarang Anda meninggal dunia, apakah Anda merasa sudah siap dan akan cukup tenang menghadapinya?
3. Jika sekarang Anda meninggal dunia, apakah ANda cukup yakin bahwa amal Anda sudah memadai mengantar Anda menuju surga? amalan2 unggulan apakah yang menurut Anda akan mengantarkan Anda ke surga?

Jawaban2 di atas mungkin tidak bisa dijawab beberapa saat setelah Anda baca tulisan ini, tapi butuh perenungan yang panjang dan mendalam. Semoga bisa direnungkan

Mari kita planning kematian kita, dengan selalu berusaha memproduksi kebajikan-kebajikan, mendistribusikannya secara benar kepada masyarakat, sehingga kelak ALLAH memilihkan untuk kita akhir hidup yang indah, husnul khotimah. Amin.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Harmony Hati

Sabtu, 08/08/2009 08:11

Hanya Sebuah Renungan

Jumat, 07/08/2009 15:57

Anakku, Engkau Mau Kemana?

Kamis, 06/08/2009 14:37

Berguru dari Wahyu

Kamis, 06/08/2009 07:51

Mencintai Dengan Sempurna

Rabu, 05/08/2009 07:13

Oase Iman Lainnya

Trending