Kamis, 6 Jumadil Awwal 1444 H / 1 Desember 2022

Kebaikan Berbalas Kebaikan

Saat saya masih mahasiswa, saya —dan kawan-kawan ber-sembilan— mengontrak sebuah rumah di sekitar kampus, tepatnya di sebuah kampung bernama Sarmili. Suasana Kampung Sarmili cukup sejuk dan meneduhkan. Hijau pepohonan masih nampak luas membentang, gumpalan kabut dan butiran embun di waktu pagi masih sering saya jumpai tatkala berjogging, jalan yang menghubungkan antar kampung dan juga jalan menuju kampus masih terlihat orisinil yaitu berwarna merah, kenyal, dan becek tatkala diguyur oleh hujan.

Suara hewan yang bersahutan di waktu pagi pun —baik burung, angsa, ayam, atau kambing— masih dijumpai berkeliaran di sekitar perkampungan. Nuansa perkampungan dan segala perniknya masih kental terasa. Penduduk kampungnya pun masih lugu dan tradisional yang kadang masih suka berselimut sarung ketika berjalan di pagi atau malam hari mengunjungi tetangga.

Kontrakan kami, terdiri dari 5 kamar, menghadap ke arah selatan di mana di depan kami ada jalan kampung. Halaman kontrakan cukup luas sehingga terasa nyaman bila kami duduk di beranda memandangi orang-orang yang lewat. Di samping kanan rumah kami adalah rumah pemilik kontrakan. Letaknya tidak sejajar, tetapi agak jauh masuk ke belakang, sehingga samping kanan persis kontrakan kami adalah tanah kosong yang menjadi halaman rumahnya.

Tepat di sebelah kanan dari halaman itu berdiri sebuah musholla, yang tanahnya merupakan tanah wakaf dari Haji Sarbini, nama pemilik kontrakan kami itu. Teman-teman memberikan nama musholla itu dengan nama Al-Muhajirin, karena yang banyak memakmurkannya adalah para mahasiswa yang merupakan warga pendatang (muhajirun). Pak Haji merasa senang dengan kesemarakan suasana mushollanya itu dan mempersilahkan mahasiswa mengoptimalkan fungsi musholla baik untuk ibadah maupun kegiatan pembinaan.

Haji Sarbini adalah warga penduduk asli yang cukup terpandang di kampung Sarmili. Orang tuanya dulu adalah tuan tanah di kampung itu. Setelah orang tuanya meninggal, maka sebagian tanah itu diwariskan kepada beliau dan saudara-saudaranya. Dulu tanah Pak Haji sangat luas (berhektar-hektar), namun lambat laun, seiring dengan banyaknya para pendatang dan meningkatnya kebutuhan tanah untuk hunian, maka tanahnya kini hanya tersisa beberapa petak saja untuk ditanami buah-buahan (Kecapi, Rambutan, Pisang, Ketela, Jambu, Mangga, dan lain-lain) dan sayur-sayuran (Bayam, Kangkung, Kacang Tanah, dan lain-lain). Lokasi petak tanahnya tersebar, di antaranya di sekitar belakang rumah beliau dan kontrakan kami.

Kami —yang kebanyakan berasal dari keluarga pas-pasan—merasa bersyukur dipertemukan dengan Haji Sarbini yang murah hati. Tahun-tahun pertama perkuliahan (semester satu hingga tiga) adalah masa-masa kritis kami, baik dari segi pembiayaan hidup maupun tingkat persaingan untuk bisa lolos ujian kenaikan tingkat yang menggunakan sistem gugur. Jika kami tidak mencapai indeks prestasi (IP) yang dipersyaratkan, maka kami akan dieliminasi alias DO (drop out).

Peranan keluarga Pak Haji tidak bisa saya lupakan. Dengan kemurahannya, Pak Haji dan keluarga sering memberikan bantuan berupa supplai makanan, sehingga kami yang memiliki budget sangat terbatas, tidak pernah merasa kekurangan makan. Ibu haji memasakkan kami dengan imbalan biaya yang amat sangat murah. Sudah begitu, ia sering memberikan hasil kebunnya berupa buah-buahan dan sayur-sayuran tanpa perhitungan. Subhanallah. Tidak cukup dengan itu, setiap kali ada acara kenduri atau acara apapun, bilamana ada tersisa makanan atau kue, maka kami-kami inilah yang diprioritaskan untuk menerimanya.

Waktu itu, dengan bekal kiriman uang dari kampung yang sangat minimal, saya bisa mencukupi kebutuhan-kebutuhan mendasar selama masa dua tahun masa perkuliahan. Jika bukan karena pertolongan Allah SWT lewat kemurahan hati Haji Sarbini dan keluarga, sulit dibayangkan bagaimana saya akan memenuhi kebutuhan hidup dan perkuliahan yang tentunya jauh lebih besar daripada itu. Sungguh, suatu kebaikan yang tidak pernah saya lupakan.

***

Sebagai mahasiswa yang baru bangkit ghirah Islamnya, kami berusaha memberikan warna Islam pada lingkungan sekitar, tidak terkecuali keluarga Pak Haji yang baik hati namun masih berpemahaman tradisional itu. Banyak kisah-kisah yang cukup berkesan berkenaan dengan aksi dan reaksi (respon) dalam penyebaran nilai-nilai Islam itu. Satu di antaranya adalah menyangkut masalah Maulid Nabi.

Acara peringatan Maulid Nabi adalah acara yang dipandang spektakuler oleh masyarakat di sana. Ada perasaan bersalah atau berdosa manakala mereka tidak bisa memeriahkan acara tersebut dengan memberikan sumbangan yang cukup berarti (signifikan) karena boleh jadi hal itu menjadi parameter kecintaan mereka kepada Rasulullah Saw. Maka wajar jika mereka berlomba memberikan sumbangan semampunya demi kemeriahan acara peringatan Maulid Nabi. Rasanya tidak ada kegiatan ke-Islaman yang gemerlapnya mampu melebihi acara maulid waktu itu.

Mengingat pemahaman yang seperti itu, saya memaklumi jika keluarga Pak Haji tidak merasa berat mengeluarkan tenaga dan biaya untuk memeriahkan acara maulid. Mereka bahu- membahu bergelut di dapur sepanjang hari hingga larut malam menyiapkan aneka hidangan. Kaum laki-lakinya tidak kalah dengan aksi membersihkan musholla dan menyiapkan segala perlengkapan untuk acara besar itu.

Tetangga mahasiswa, terutama kami selaku “anak-anak”, tidak lupa diundang untuk menghadiri acara kenduri yang dilangsungkan sehabis shalat isya berjama’ah. Dari kami, biasanya Taufik yang paling merasa tidak enak dan kemudian turut serta dalam acara kenduri itu. Sedangkan yang lainnya —termasuk saya— cenderung lebih mementingkan tugas belajar dan mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Untungnya keluarga Pak Haji cukup memahami sistem perkuliahan kami yang cukup ketat yang mengharuskan kami rajin membuka-buka materi perkuliahan dan mengerjakan banyak tugas, sehingga ketidakhadiran kami pun dimaklumi.

Selesai acara maulid, memang ada semacam tanda tanya di benak keluarga Pak Haji. Acara yang menurut mereka demikian agung itu kok direspon biasa-biasa saja oleh para mahasiswa yang notabene adalah orang-orang yang taat dalam beragama dan lebih baik dalam memahami Al-Islam. Mereka taat menjalankan shalat berjamaah, tilawah qur’an, puasa sunnah, dan ibadah-ibadah yang lain. Namun mengapa untuk mengikuti acara maulid mereka rasanya enggan? Demikian boleh jadi bentuk pertanyaan yang timbul. Pertanyaan-pertanyaan bernada konfirmasi itu sering dilontarkan oleh Khadijah, putri Pak Haji yang dekat dengan Taufik, sahabat kami itu.

Alhamdulillah, berkat pencerahan oleh Taufik (dan terkadang oleh beberapa sahabat yang lain), mereka perlahan-lahan mulai memahami bagaimana hakikat maulid itu dan bagaimana hakikat agama Islam itu sebenarnya. Merayakan maulid itu tidaklah sekedar membacakan riwayat hidup Rasulullah Saw dan kemudian makan-makan, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana menggali dan meneladani perikehidupan dan perjuangan beliau dalam mengaplikasikan dan menegakkan kalimat Laa ilaaha illa Allah.

Salah satu yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw kepada para isteri beliau dan kaum muslimah adalah mengenakan jilbab. Menyadari hal demikian, Khadijah, putri satu-satunya Pak Haji pada akhirnya juga mau mengenakan Jilbab. Sedangkan Pak Haji yang terkadang suka latah dengan omongan yang tidak baik, menjadi lebih terjaga. Bu Haji pun kelihatan lebih santun dan pengertian kepada kami.

***

Tahun ketiga saya memisahkan diri teman-teman lama kemudian pindah ke kontrakan lain yang relatif agak jauh dari kampus bersama teman-teman baru. Sejak saat itu, saya tidak mengetahui bagaimana perkembangan kisah dakwah di Kampung Sarmili. Saya sudah mulai sibuk dengan kegiatan dakwah di tempat yang baru.

Setelah tahun ketiga dan tamat kuliah D III, masing-masing kami berpencar memenuhi ikatan tugas ke berbagai penjuru daerah. Saya ditugaskan ke kota Ambon, kota yang sangat asing dan menimbulkan kegamangan saya waktu itu. Sedangkan yang lain ada yang ke Palu, Kendari, Jember, Purwokerto, Jakarta, dan Lampung.

Beberapa bulan kemudian, saya mendengar Taufik menikah dengan Khadijah, dan membawanya ke tempat tugas Taufik di Palopo, Sulawesi Tenggara. Dalam hati saya bersyukur, mudah-mudahan pernikahan mereka mendatangkan keberkahan. Setidaknya saya bersyukur karena kebaikan dan kemurahan Pak Haji berbalas dengan kemurahan satu di antara kami untuk menjadi menantunya.

Beberapa tahun kemudian, saya juga mendengar Taufik melanjutkan studi S1 di Yogyakarta. Setelah menamatkan studi di sana, dia mendapat tugas penempatan di Jakarta. Setelah sekian lama keluar daerah, kini mereka tinggal di sebuah perumahan di kawasan Cipadu yang jaraknya relatif dekat dengan rumah orang tua/mertua di kawasan Pondok Aren.

Dalam bayangan saya kini, keluarga Pak Haji Sarbini dan keluarga tentu telah mengalami banyak perubahan pemikiran dan sikap. Dari yang sangat tradisional menjadi lebih modern, dari yang bodoh menjadi tahu, dari yang berakhlak jahili menjadi berakhlak Islami. Ketaatan mereka boleh jadi juga sudah berubah, yang pada awalnya didasarkan atas taklid dan provokasi semata kini didasarkan atas ilmu dan pemahaman. Jika dulu meramaikan maulid karena ikut-ikutan, kini mencoba memberikan pandangan baru agar mereka juga mengikuti pemikiran yang baru, yaitu menjadikan maulid sebagai sarana mengambil spirit dari perjuangan Rasulullah SAW dan menegaskan akan arti keberadaan beliau sebagai suri teladan dalam mengaplikasikan keimanan yang sebenarnya.

Kebaikan dan keberkahan itu berasal dari bimbingan putrinya, yang dibimbing oleh suami sahabat saya itu. Semua berada dalam skenario Allah, di mana sebuah kebaikan pasti akan berbalas dengan kebaikan pula (QS 55: 60). Bahkan lebih baik dari kebaikan semula. (QS 27:89, 28:84)

***

Ada banyak hikmah yang bisa saya petik. Allah adalah dzat yang maha kaya dengan kebaikan. Kebaikan Haji Sarbini menghantarkan kami pada keberhasilan meniti hari-hari perkuliahan. Rasanya saya belum bisa membalas kebaikan-kebaikan keluarga Haji Sarbini itu, namun saya yakin bahwa sesungguhnya Allah tiada pernah melupakan orang-orang yang berbuat kebaikan.

Ada satu pesan yang bisa saya tangkap, janganlah ragu berbuat kebaikan. Dengan kebaikan yang engkau berikan, tidaklah menjadikan apa yang ada pada dirimu menjadi berkurang. Justru Allah akan membalasnya dengan kebaikan pula, yang lebih baik (kualitasnya) dan berlipat-lipat (kuantitasnya).

Waallahu’alamu bishshawaab
([email protected] SMS 0817-99-OIMAN)

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Ketika Masjid Jadi Museum

Selasa, 25/03/2008 05:00

Pusara Tanpa Nama

Senin, 24/03/2008 05:32

Sosok Seorang Ibu

Minggu, 23/03/2008 06:40

29 Februari di Jogja

Sabtu, 22/03/2008 06:57

Mencintaimu Karena Allah SWT

Jumat, 21/03/2008 18:57

Kami Butuh Mereka

Jumat, 21/03/2008 07:11

Jangan Sedih, Sayang

Kamis, 20/03/2008 05:04

Oase Iman Lainnya

Trending