Senin, 10 Jumadil Awwal 1444 H / 5 Desember 2022

*Ijime Nante Kowakunai, Datte Muslim damon…

"Diledekin sih ngga takut, Aku kan Muslim…"

Begitu kira-kira arti dari judul di atas. Kalimat yang terlontar dari salah seorang anak didik saya. Gadis muslim kecil blasteran Jepang-Pakistan, berusia belum lagi genap 6 tahun saat itu. Kalimat yang kadang membuat hati saya mengharu biru, dengan mata berkaca-kaca jika mengingatnya.

Sembilan orang gadis kecil yang saat ini ada dalam didikan saya. Bersama-sama belajar tentang Islam, dalam lingkungan Sekolah Qur`an yang bernama "International Islamiah School Otsuka-Kindergarden."

Taman kanak-kanak Islam pertama di Jepang, yang baru berdiri resmi sekitar 5 tahunan ke belakang. Kurikulum yang di ajarkan, tak jauh berbeda dari kurikulum TK umum di Jepang, hanya saja dalam bobot pelajarannya ditambahkan mata pelajaran Islam berupa aqidah, akhlak, shirah dan Qur`an-sunnah dalam kesehariannya.

Bulan Maret-April ini Jepang mulai masuk musim semi. Tanda pergantian tahun ajaran baru akan dimulai. Beberapa sekolah biasanya mulai menyiapkan kelulusan ataupun penerimaan murid baru. Pun begitu dengan TK Islam tempat saya mengajar.

Beberapa orang jundi kecil -yang hampirsebagian besarmerupakan anak-anak muslim blasteran Jepang dan orang asing- dalam bulan ini akan lulus, serta mulai masuk SD umum di Jepang.

Kalimat dalam judul di atas terlontar ketika saya sedang membahas tentang acara kelulusan dengan para jundi jundilah kecil. Secara tidak sengaja, saya mengeluarkan pertanyaan pada mereka. "Kalau nanti masuk SD, mau tetap pakai jilbab?"

Pertanyaan yang sebetulnya saya lontarkan secara iseng. Mengingat, selama bersekolah di TK Islam, para gadis kecil tersebut menggunakan jilbab kecilnya yang terlihat cantik. Dan mereka tampak tak merasa canggung dengan kibaran jilbab kecilnya ketika saya ajak main di taman umum ataupun berjalan-jalan piknik di kebun binatang, misalnya.

Saya tak mengira kalau kesembilan gadis kecil anak didik saya serentak menjawab, "Hijab kaburu…! (Pakai jilbab dong!)" Diiringi riuh rendah beberapa orang yang berebut bicara sambil mengemukakan alasan baiknya memakai jilbab. Tentu, sebagai seorang pendidik, saya merasa bahagia bercampur bangga dengan jawaban tersebut.

Hingga kembali saya melontarkan pertanyaan yang merupakan fenomena sangat sensitif bagi anak-anak Jepang. Pertanyaan yang berhubung dengan kata "ijime" yang memiliki makna negatif yaitu bisa berarti diledekin-dihina ataupun digencet, dilecehkan oleh teman-temannya.

"Hijab kaburu to tomodachi ni ijimeraretara, dou suru…?" (Kalau pake jilbab, terus nanti diledekin teman-teman gimana?). Sejenak suasana kelas hening. Beberapa gadis kecil nampak berpikir.

Sampai akhirnya, salah seorang gadis kecil berhidung bangir menjawab lantang "Ijime nante kowakunai, datte muslim da mon…" (Diledekin sih nggak takut, Aku kan Muslim…).

Lalu masih dengan suara lantangnya, gadis tersebut berkata "Seorang muslim hanya takut sama Allah…!" Yang kemudian mendapat sambutan riuh rendah kembali dari teman-teman kecilnya yang sedari tadi diam sejenak, dengan inti kalimat bernada sama. "Betul…! Setuju…! Kita ngga perlu takut diledekin, kan ada Allah."

Kali ini, saya yang dibuat tertegun diam tak bergerak oleh jawaban anak-anak. Dalam riuh rendah suaranya yang mungil, ada setitik air mata bahagia bercampur bangga yang keluar dari dua bulir mata saya.

Mungkin, saya akan terus dalam suasana ‘biru’ jika tidak disadarkan oleh anak-anak yang mulai memeluk saya sambil berkata "Sensei daisuki.." (Aku sayang bu guru…). Yang kemudian saya balas dengan pelukan hangat paling erat untuk mereka satu persatu, sambil tak lupa menggelitik badan kecilnya, hingga mereka tertawa-tawa lucu, lalu saling menggelitik dengan sesama temannya.

Saya memandangi mereka satu persatu. Jundi jundilah kecil dengan jiwa dan hati masih jernih, yang sebentar lagi akan berpisah. Amanah terindah yang telah Allah berikan untuk saya, menjadi salah seorang pendidik bagi mereka. Ada banyak doa yang dipanjatkan untuk para anak didik saya.

Anak-anakku….
Semoga Allah selalu menjagamu tetap dalam fitrah-Nya agar berada dalam keshalehan aqidah. Memiliki akhlak mulia yang mampu berinteraksi dengan sesamanya, hingga makin dapat mengangkat nama baik citra Islam. Memiliki kecerdasan emosi dan intektual yang mumpuni, hingga mampu menjadi cendekiawan muslim terpandang. Menjadi generasi penerus yang dapat mengibarkan bendera Islam setinggi-tingginya hingga terbentuk peradaban Islam di seluruh penjuru bumi sakura dan dunia.

Amin ya Rabbal`alamin.

Sepenggal kisahdi bumi sakura ~ aishliz.multiply.com ~

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Dilema, Kerja atau Keluarga

Selasa, 09/03/2010 13:15

Beramal dengan Cara Terbaik

Selasa, 09/03/2010 00:06

Senyummu Pak Satpam

Senin, 08/03/2010 13:46

"Kehilangan" Komitmen?

Senin, 08/03/2010 07:39

Jilbab Menjagaku Dari Makanan Haram

Sabtu, 06/03/2010 05:11

Rumah yang Bagus

Jumat, 05/03/2010 13:44

Oase Iman Lainnya

Trending