Selasa, 7 Rabiul Awwal 1444 H / 4 Oktober 2022

Melahirkan Para Syuhada

"Ummi, kenapa Ummi meneteskan air mata? Kenapa Ummi terlihat begitu bersedih? Ummi, ceritakanlah pada Abi duka apa yang telah merusak taman bahagia di hati Ummi! Ummi, ku tak kuasa melihat matamu basah berair. Ummi, dukamu adalah dukaku juga. Ayolah Ummi, bukalah jendela hatimu, agar ku dapat melihat isi hatimu yang terluka itu!"

Farhan menyeka air mata yang menetes di pipi istrinya yang sangat ia cintai itu. Ia rangkul isrinya penuh kasih sayang. Ia dekap erat dengan sepenuh cinta. Kamila masih mengenakan pakaian shalat. Ia terlihat begitu anggun di mata Farhan. Laksana bidadari yang turun ke bumi. Memandangnya menyejukkan hati. Mendengarkan kata-katanya menentramkan jiwa. Menyentuhnya mengalirkan ketenangan luar biasa dalam jiwanya.

"Ayolah Ummi, ceritakan lah apa yang terjadi. Sebegitu dalamkah duka itu? Sebegitu perihkah sakit itu?"

Farhan dengan sabar menunggu kata-kata Kamila. Baru kali ini istrinya menangis begitu sedih. Tak seperti biasanya. Setiap pulang dari luar rumah istrinya selalu tersenyum menyambut kedatangannya. Tapi kali ini, Kamila menyambutnya dengan deraian air mata.

"Berita pagi ini begitu menyakitkan. Tentara-tentara Israel menyerang kapal yang membawa bantuan untuk rakyat Palestina. Barusan Ummi buka situs Eramuslim.com dan membaca berita penyerangan itu."

Farhan mengarahkan matanya pada layar monitor komputer yang masih menyala. Ia beranjak lalu duduk di depan layar komputer. Membaca berita tentang penyerangan tentara Israel terhadap kapal pembawa bantuan untuk rakyat Palestina. Dadanya bergemuruh seketika. Rona wajahnya berubah. Emosinya naik beberapa derajat. Dadanya terasa sesak. Sungguh sangat biadab!! Kebenciannya pada orang-orang Israel semakin meluap-luap. Darahnya mendidih.

"Kekejian ini tidak boleh dibiarkan terus berlanjut. Umat Islam harus bertindak. Harus melakukan perlawanan!!"

"Abi, duka ini begitu dalam. Luka ini begitu sakit. Sungguh tak kuasa Ummi menahan sakit ini. Tindakan pasukan biadab Israel itu sungguh di luar prikemanusiaan. Mereka adalah bangsa barbar dan biadab. Abi, ku teguhkan hati ini untuk mengabdi pada agama yang ku cintai ini. Abi mari kita berdoa pada Allah agar Ia mengabulkan permintaan kita untuk melahirkan para syuhada yang akan berjuang di jalan-Nya, menghancurkan musuh-musuh-Nya. Abi, jika genderang jihad telah ditabuh, teguhkan iman dalam dada, sambutlah seruan itu dengan sepenuh jiwa dan sepenuh cinta. Ummi relakan Abi di jalan-Nya dan semoga Allah menerimannya."

Pagi itu mereka melaksanakan shalat hajat. Bersimpuh dan meminta pada Allah, Sang Maha Kuasa. Air mata mereka mengalir deras. Mereka berdoa dengan penuh khusyuk dan tadharru’. Memohon pada Allah agar menjadikan mereka para syuhada di jalan-Nya dan mengaruniakan keturunan-keturunan yang akan berjuang di jalan-Nya, membela agama-Nya, menghancurkan musuh-musuh-Nya."

[][][]

Wassalam,

[email protected]

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Memilih Antara Suami dan Orang Tua

Senin, 17/11/2008 06:00

Energi Langit dan Bumi

Senin, 02/11/2020 16:20

Kuda dan Panah Senjata Akhir Zaman

Sabtu, 30/10/2021 14:20

Pembawa Cahaya Illahiah

Minggu, 17/02/2013 08:18

Terpenjara di Alam Bebas

Minggu, 10/01/2021 10:55

Dunia Lain di Luar Dunia Kecilmu

Kamis, 29/05/2008 13:29

Lebih Tipis dari Sehelai Rambut

Jumat, 28/12/2007 17:50

Baca Juga

Tantangan Waktu

Selasa, 01/06/2010 08:27

Dzikir untuk Sang Bupati

Senin, 31/05/2010 14:00

Sisi Peradaban yang Terabaikan

Senin, 31/05/2010 08:06

Pergi Haji “Naik” Burung Walet

Minggu, 30/05/2010 13:51

Pelajaran dari Sebuah Reuni

Minggu, 30/05/2010 08:08

Kebenaran Tidak Tergantung Orang

Jumat, 28/05/2010 06:11

Oase Iman Lainnya

Trending