Senin, 3 Zulhijjah 1443 H / 4 Juli 2022

Mahasiswa Ampas

Begitu saya katakan! Sebutan untuk mahasiswa yang ingin back to campus! Ingin mengenyam bangku kuliah kembali. Atau, sebutan bagi mahasiswa yang mengambil perkuliahan pada jam khusus. Masuk pada perkuliahan malam hari. Begitu pun dengan dosennya. MUNGKIN?!

Ampas, di sini bukan arti harfiah yang sebenarnya yang saya katakan melainkan sebuah perumpamaan (majas). Atau, juga bukan sebuah singkatan dari Anak Mahasiswa (bermuka) Pas-pasan. Pun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ampas adalah sisa barang yang telah diambil sarinya atau patinya—sesudah tidak berguna lagi lalu dibuang (tidak diperdulikan lagi). Tidak! Itu jauh dari makna sebenarnya yang saya tuliskan di sini.

Ampas mungkin menurut streotip bahwa hal itu tak berguna sama sekali dalam sebuah kehidupan. Tetapi saya katakan lagi hal ini tidak ada sama sekali menyangkut sesuatu atau pun benda. Karena di sini saya membicarakan tentang sebuah sikap—yang patut diacungi jempol! Sebuah sikap yang dilahirkan dari lubuk hati yang ikhlas dan penuh semangat baja yang bersumber dari manusia bernama MAHASISWA.

Coba bayangkan ketika badan sudah luluh lantak seharian bergelut penuh dengan berbagai kegiatan rutinitas masih diharuskan diri untuk menggugurkan kewajiban kita sebagai manusia yang berpredikat mahasiswa. Harus hadir dalam perkuliahan. Tentu hal ini tak mudah untuk dilakukan bagi mahasiswa yang saat itu dengan secara dipaksakan untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang mahasiswa untuk menghadiri perkuliahan disaat-saat kondisi yang sangat-sangat melelahkan. Tetapi itulah kenyataan yang saya alami atau yang pernah saya lihat. Bagaimana kondisi mahasiswa yang benar-benar harus (pintar) memilih. Antara memilih kondisi atau kuliah (lagi)—dari kesemua itu untuk masa depan mereka yang lebih baik nanti. Ketimbang mendapatkan status Madesu. Mahasiswa Masa Depan Suram. Atau, Mabad. Mahasiswa Abadi. Ironi sekali!

Analoginya saya tuliskan seperti ini. Jika mereka yang berstatus mahasiswa sekaligus pekerja dan seusai melakukan kegiatan rutinitasnya mereka harus disibukan kembali dengan memenuhi kewajiban mereka untuk menghadiri perkuliahan. Tentu itu suatu pilihan berat. Dengan kondisi seperti itu mereka harus pandai pula mengatur waktu yang tepat agar tidak kewalahan. Atau, akan tercerabut masa depan mereka. Jadi memang mau tidak mau mereka harus pandai-pandai mengatur waktu. Kalau tidak? Tentu hal yang tidak diinginkan akan terjadi. Seperti mengulang (her) mata kuliah yang tidak memuaskan dari segi nilai. Mendapatkan nilai D. Diulang! Sungguh cobaan terberat bagi mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa ampas.

Memang diakui ketika mereka atau juga saya ketika malam harinya harus menghadirkan dalam kondisi penat. Adalah suatu ujian berat. Apakah mampu untuk hadir diperkuliahan atau tidak dengan kondisi seperti itu. Dan itu kembali pada invidu masing-masing. Jika tidak ingin ketidakhadiran-nya mengalahkan jumlah mahasiswa yang ada ya harus hadir! Entahlah.

Namun saya juga tidak bisa men-judge apabila ada mahasiswa saat menghadiri perkuliahan tidak bisa memahami dan mencerna materi perkuliahan dengan baik. Itu lumrah. Wajar. Tetapi lagi-lagi saya katakan kembali, tidak selamanya mahasiswa yang mengikuti perkuliahan pada malam hari malam atau mahasiswa yang berusia tak muda lagi semua mahasiswa yang ada ber-IQ tetap sama. STD BGT! Biasa-biasa saja. No…no…Itu salah besar. IQ mereka boleh saja diadu oleh mahasiswa yang melakukan perkuliahan secara regular. Mahasiswa yang mengikuti perkuliahan pada pagi dan siang hari.

Ya, saya akui mengikuti perkuliahan dalam kondisi yang sehariannya sudah dipenuhi oleh kegiatan rutinitas sehari-hari tak bisa disamakan oleh mahasiswa yang mengikuti perkuliah regular seperti biasa. Mahasiswa yang mengikuti perkuliahan pada pagi dan malam hari walau dalam kapasitas kewajiban seorang mahasiswa itu tetaplah sama saja. Namun hanya saja dalam waktu dan kesempatan saja yang membedakannya. Ketika mereka (mahasiswa) disibukan oleh kewajiban sebagai makhluk Tuhan yang sempurna. Bekerja. Dan menjemput nafkah. Baik untuk anak dan istri maupun untuk diri mereka sendiri—yang masih meng-update status facebooknya: masih jomblo nih! Tentu itu tak berpengaruh banyak. Tetapi tetap saja sama dalam hal kondisi waktu dan kesempatan. Terlebih ketika diketahui bahwa mahasiswa yang mengikuti perkuliahan pada malam hari banyak dipadati para mahasiswa dari berbagai usia, kalangan bahkan profesi sekalian.

Mengenai usia? Mungkin sangatlah beragam. Halnya di tempat saya menuntut ilmu (kuliah) mahasiswa yang paling termuda diduduki berusia 17 tahun. Dan yang sudah dewasa berusia mendekati kepala 3 tahun. Pun dari kalangan dan profesi juga sama. Sangatlah berbeda. Dari yang menganggur (hanya kuliah saja), pekerja sampai para pendidik pula. Jadi tidak salah kalau saya mengatakan mahasiswa ampas. Namun dengan kondisi seperti itu pun sudah saya katakan sebelumnya mahasiswa seperti ini patut dijempoli. Ternyata dibalik kepenatan mereka menuntut ilmu sudah ter-mindset ada dideretan nomor satu dibenak mereka. Amazing! Usia (boleh) tua tetapi jiwa tetap muda. Masih mau berkeinginan belajar. Never old to learn.

Tetapi bagaimana dengan pengajarnya (dosen) itu sendiri? Hmm…saya kira saya tak mau men-judge. Tetapi inilah yang berlaku ketika ilmu (materi) yang disampaikan tentu saja ilmu sisa-sisa yang sudah diberikan pada perkuliahan di pagi dan siang hari. Tapi itu tak mengapalah. Karena dalam hal ilmu tak ada kata sisa. Selalu saja didapat dimana pun berada kalau memang mahasiswa itu sendiri ingin aktif dan mau maju. Namun ada satu hal lagi yang menjadi kekhawatiran mahasiswa ampas. (Kok tidak ada selesainya ya?). Jika suatu saat jika pengajarnya (dosen) itu sendiri memberikan materi perkuliahan tanpa melihat kondisi dan situasi anak didiknya itu yang menjadi momok mahasiswa. Sudah barang tentu lagi-lagi akan menjadi problematika mahasiswa itu sendiri. Kalau sudah begitu siapa yang perlu dipersalahkan? Mahasiswanya atau pengajarnya (dosen)? Ya, begitulah nasib mahasiswa ampas. Tak bisa berbuat banyak! (fy)

Ulujami—Jakarta, 22 Oktober 2009

Keterangan:
*) Penulis adalah Mahasiswa Semester Satu Jurusan Manajemen Informatika dan penulis Buku Bela Diri For Muslimah.
Ingin berkelana dan mengetahui dengan tulisan-tulisan saya silakan mampir:www.sebuharisalah.multiply.com/facebook.bujangkumbang.co.id

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Karena Aku Memang Sudah Berkeluarga

Sabtu, 24/10/2009 08:42

Tantrum

Jumat, 23/10/2009 07:44

Memberi Bila…

Kamis, 22/10/2009 13:57

Ber-Islam di Belanda

Kamis, 22/10/2009 08:01

Senangnya Bepergian Bersamanya

Rabu, 21/10/2009 14:16

Buruh Asal Nepal Itu …

Rabu, 21/10/2009 07:48

Oase Iman Lainnya

Trending