Kamis, 17 Rajab 1444 H / 9 Februari 2023

Makna Sebuah Kelulusan

“Selamat Saudari Dinyatakan Lulus!” Subhanallah walhamdulillah, yaa mungkin hanya kata itu yang bisa menggambarkan betapa mengesankannya kelulusanku kali ini. Lulus? Biasa aja kale, toh banyak mahasiswa yang lulus. Wow ada yang membuat ujianku berbeda dengan mahasiswa yang lain karena ujianku bukan sekedar ujian akademik tapi juga ujian memaknai kehidupan, yaa bisa juga dikatakan uji nyali.

Bagaimana tidak mengesankan karena sebelumnya aku terancam tidak bisa lulus. Bukan karena masalah IPK atau masalah nilai tapi karena sebuah kesalahpahaman antara aku dan ketua program, katanya sih karena ada sebuah prosedur yang aku langkahi dan peraturan yang aku langgar.

Semua berawal dari kepergianku selama 3 hari menjadi relawan ke Yogya pada saat aku melaksanakan PKL dan hanya meminta izin ke tempat PKL. Terbilang nekat tapi kenekatanku ini pun ada pertimbangannya karena diperjanjian internship dikatakan diperbolehkan izin selama 3 hari. Ternyata Wow, dahsyat efeknya dan melibatkan banyak pihak bahkan organisasi profesi pun terlibat.

“Kamu ini bagaimana sih, ya saya yakin kamu ini punya kepedulian dan bagi saya itu baik tapi ada saatnya kan, enggak mesti sekarang di mana kamu ada diakhir dari awal hidup kamu dan sikap semau kamu malah menghancurkan hidup kamu. Bagi saya lebih baik saya menghadapi pertanyaan para dosen, kok bisa seorang seperti kamu tidak bisa lulus, daripada saya melemahkan aturan itu, biar jadi pelajaran buat yang lain. Bagi saya tidak ada kata maaf dan kamu saya anggap tidak menghadap saya,” kurang lebih itulah perkataan ketua program yang membuatku Innalillahi, semuanya terkembali pada-Mu ya Rabb.

Keluar dari ruang ketua program, sambil menarik nafas pppffh kukatakan pada temanku yang ikut juga ke yogya bahwa “bapak marah banget dan tak ada kata maaf, dia mengancam tidak lulus, tapi ini salahpaham pasti ada jalan keluarnya.” Sebenarnya aku sudah ada pada posisi paling siap menerima apapun keputusannya. Allah tujuanku, kalau ketika kuberangkat ke yogya tidak ada satu pun yang aku temukan kecuali kemudahan maka sepulang dari sana pun aku yakin Dia Al-Hafiiz tidak akan menyia-nyiakanku, pasti Dia punya rencana besar dibalik ini semua, bukankah hanya hamba terpilih yang akan diuji dan hamba terpilih itu adalah kami. Tapi ketegaran itu tergoyahkan ketika ku melihat wajah kedua temanku, sedih sendu, kulihat airmata yang tertahan pada mata sahabatku bahkan salahsatunya tak kuasa menahan airmatanya. Ya Allah ini semua membuatku merasa bersalah, akulah yang mengajak mereka, aku harus bertanggungjawab atas mereka, seandainya tidak lulus adalah hukumannya maka biar aku saja yang tidak lulus karena akulah playmaker nya.

Kuputar otakku, ku coba berfikir mencari jalan dan pendekatan apa yang bisa kulakukan. Sebenarnya banyak dosen yang bisa kumintai pembelaan tapi ini adalah masalahku, ku tak ingin memperluas permasalahan. Hanya 5 hari waktu yang kupunya untuk menyelesaikan masalah ini karena segera akan diadakan ujian tertulis. Ketika ku sedang berfikir untuk mencari solusi, tiba-tiba teman-teman kepanitian menghampiriku “Ya ampyun, dari tadi dicariin ternyata di sini, kenapa lo sakit, diem aja tumben amat, ini nih ada masalah masa bla bla bla, gimana dong?” dan banyak dari mereka yang mengeluh. Pfffh ya Allah tarbiyah apa yang hendak Kau ajarkan kepadaku, ketika ku bermasalah dan ku berdoa mohon kekuatan, Kau malah memberikanku masalah lain.

Emosiku mulai kacau pada hari itu, syaitan mulai mengagresiku dan ketidakikhlasan menghampiriku. Aah udahlah ngapain sih mikirin tentang seminar, toh bapak mengancam aku gak bisa lulus, dan bapak tidak mempertimbangkan terhadap apa yang telah aku perbuat untuk jurusan selama ini dan hanya karena sebuah kesalahpahaman aku divonis dengan hukuman yang tidak adil. Sepertinya aku mau menyerah saja, Ya Rabb rasanya hamba tak sanggup, apalagi ketika mendengar teman panitia berkata “Ya udah lo aja ya yang menghadap bapak sekarang dan jelasin semua masalah seminar kita”. Hah!! Bagaimana mungkin aku harus menghadap seorang yang tadi pagi marah besar denganku dan aku harus memberitahunya tentang masalah yang dihadapi kepanitian, kemarahan kayak gimana lagi yang akan dia tunjukkan. Ingin rasanya kutunjukkan ketidaksanggupanku, tapi aku bukanlah pengecut karena aku punya Engkau ya Muhaimin dan kuserahkan semuanya kepadaMu, ibarat orang yang telah tercebur hanya ada dua pilihan berenang atau tenggelam.

Akhirnya kuberanikan diri untuk menghadap, melihat wajahku lagi, sudah jelas ekspresi apa yang bapak tunjukkan, yups marah, bete, kesal, tidak senang dan sejenisnya. Apalagi ketika kuceritakan tentang masalah seminar. “Kalian gimana sih, jangan main-main ya, ini tingkatnya nasional loh bla bla,” begitulah bentak bapak dengan nada tinggi. “Jadi begini pak bla bla bla,” entah darimana kudapatkan kekuatan untuk bisa menjelaskan, pasti dari Engkau duhai Al-Latiif. Tak terasa lebih dari 3 jam aku berada diruangannya dan terakhir ku sadar bahwa perbincangan tidak lagi seputar seminar tapi berbagi kisah bagaimana menjalani hidup untuk bisa menjadi orang hebat yang bijak.

Subhanallah seiring waktu kesalahpahaman ini pun bisa terselesaikan dan tak pernah terfikir olehku bahwa masalah yang menambah masalahku itu ternyata adalah jalan keluarnya. Teringat sebuah syair ‘History of a Prayer’, yang berbunyi “Ketika Kumohon pada ALLAH Kekuatan, ALLAH memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi!”

Kini sangat manis kelulusan itu terasa olehku dan yang lebih manis lagi adalah tarbiyah yang kudapat dari hikmah permasalahan ini. Dan inilah yang Allah hendak ajarkan kepadaku:

In Times of difficulties don’t ever say “God, I have a big problem”
But instead, “Hi Problem, I have a big God and everything will be alright”

Aah tak sabar rasanya segera mengenakan baju toga, mendapat penghargaan rektor sebagai wisudawan cumlaude termuda. Aku sangat bersyukur disaat sebagian besar teman-temanku sibuk mencari pekerjaan, disaat aku belum diwisuda, sebuah perusahaan asing sudah menerimaku sebagai karyawan dengan gaji dan fasilitas jauh di atas standar teman-temanku. Ya Allah terimakasih ini adalah hadiah yang sangat indah untukku, dibalik semua masalah ini tersimpan rapi sebuah rencana dahsyat, dan membuat semua nikmat ini menjadi lebih manis dan indah. Teringat sebuah nasehat tentang resep kehidupan: Jika Kamu Bersyukur Maka ALLAH Tambahkan, Jika Kamu Berserah Maka ALLAH Lapangkan. Dan Subhanallah resep itu terbukti manjur untukku. Thanks Rabb for My Beautiful Life.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Melepas Amarah Menjadi Doa

Senin, 11/04/2011 07:00

Rapuhnya Manusia dan Perlindungan-Nya

Minggu, 10/04/2011 07:37

Hubungan Jarak Jauh

Sabtu, 09/04/2011 15:31

Menggapai Hidayah

Sabtu, 09/04/2011 05:28

Belajar dari Adik Kecil

Jumat, 08/04/2011 14:05

Yang Kuinginkan

Jumat, 08/04/2011 06:26

Tamasya Ke Taman Surga

Kamis, 07/04/2011 14:09

Oase Iman Lainnya

Trending