Selasa, 10 Muharram 1444 H / 9 Agustus 2022

Mengembalikan Kemenangan Ramadhan yang Hakiki

Ramadhan yang berbuah amal mulia, tinggal kenangan. Sebulan penuh menahan diri dari nafsu serta berserah diri untuk mendapatkan keridhoan Ilahi. Berjuta doa, berjuta harapan untuk mendapatkan malam seribu bulan (lailatul qodar). Tak ayal usai keberkahan dijadikan acara ritual yang kita namakan idul fitri atau lebaran. Bulan syawal melepaskan manusia untuk menjadikan manusia kembali bersih (suci). Berjuta maaf dan peduli terjadi. Namun seberapa besar hari kemenangan tersebut menjadi nilai kesucian?

Terkadang lebaran hanya dijadikan acara seremoni keagamaan. Dengan bertajuk kemenangan fitri banyak di antara kita, berhasil berlomba meraup nikmat dunia sepanjang bulan Ramadhan. Dari sekedar mencari belas kasih (pengemis) memadati trotoar jalan hingga sang penabur mimpi atau pengusaha mengadu tender untuk mendapatkan keuntungan.

Dengan berbagai upaya semarak fitri tidak lagi menjadikan manusia menjadi suci tapi berupaya mengadu nasib agar di hari raya mendapatkan keberkahan amal dunia bukan amal mulia (fitrah). Diakhir Ramadhan harta, kendararan baru bahkan uang berlimpah sudah menjadi hal biasa. Istilah kata gengsi menjadi hangat. Ketika berlebaran bukan lagi bermaaf-maafan kepada sanak saudara tapi menanamkan rasa gengsi atau pamer.

Bagi penduduk musiman yang selalu mewarnai Ramadhan dikota besar Jakarta. Mereka satu minggu jelang lebaran dengan baju lusuh, gerobak usang, mereka relakan menggendong anaknya untuk berharap belas kasih. Pemerintahpun sebenarnya sudah menegaskan untuk menertibkan mereka. Bahkan peraturanpun sudah bergulir. Namun lagi-lagi para pengemis tidak menggubris bahkan tak segan untuk bermaian kucing-kucingan. Pikirnya ini kesempatan berharga untuk mendapatkan uang lebih dari bulan-bulan sebelumnya.

Rasa sayang meninggalkan Ramadhan, tidak terlihat bahagia, jika memang terjadi seperti ini di sekitar kita. Tak ada lagi tangis, tak ada lagi sedih meninggalkan Ramadhan yang ada seakan terbebas dari belenggu untuk menahan nafsu (berpuasa). Usai Ramadhan seakan-akan bebas untuk berbuat kembali kemungkaran. Maka yang terjadi idul fitri adalah bebas dari segalanya.

Semoga Ramadhan di tahun ini menjadi keberkahan dan kenikmatan sendiri bagi yang ikhlas menjalankan. Tak ada noda ritual keagamaan dan berharap mencari keuntungan.

Taqabalallahu Minna Wa minku., Mohon maaf lahir bathin. Semoga Idul Fitri 1428 mengembalikan menghantarkan kita kembali suci.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Dilema, Kerja atau Keluarga

Selasa, 09/03/2010 13:15

Menakar Esensi Keadilan

Senin, 08/03/2010 10:32

Mati Sengsara di Negeri Kaya

Senin, 22/12/2008 13:20

Amanah untuk Rakyat

Selasa, 22/04/2008 13:52

Idola Yang Tersingkirkan

Rabu, 23/07/2014 14:24

Baca Juga

Menjelang Lebaran di Rantau Orang

Kamis, 11/10/2007 21:25

Mereka Tetap Bekerja Saat Lebaran

Kamis, 11/10/2007 03:30

Sepercik Rindu untuk Papa

Rabu, 10/10/2007 03:47

Air Mata Ramadhan Aisyah-San

Rabu, 10/10/2007 03:44

Ternyata Kita Juga Pengemis

Selasa, 09/10/2007 12:58

Lebaran Sebentar Lagi

Selasa, 09/10/2007 05:22

Oase Iman Lainnya

Trending