Sabtu, 21 Muharram 1444 H / 20 Agustus 2022

Menyepelekan Dosa Kecil

lie-2“Sudah menikah mas?”

Tanya seorang wanita yang duduk disampingnya, ketika menumpangi “Pesawat Saudia” penerbangan Indonesia-Saudi Arabia.
“Belum”. Jawabnya enteng.

Pemuda ini menceritakan kisahnya selama di pesawat yang duduk bersebelahan dengan seorang wanita, yang ternyata juga berprofesi sebagai pramugari. Saya cukup tersentak dengan cerita teman dari suamiku itu. Sontak saya menjawab.

“Kenapa sich nggak jujur aja kalau udah punya istri?. Kan kasihan istrinya disana.

“Ya bukannya apa-apa, kan kalau kita bilang kita udah nikah, nanti ngobrolnya nggak nyambung.”

“Astagrfirullahal`azhiim,” Aku beristigrfar mendengar jawaban teman itu.

Bukan sekedar heran karena dia adalah seorang mahasiswa indonesia yang menuntut ilmu di Madinah, bahkan satu-satunya mahasiswa Asia yang lulus melanjutkan ke S2 dalam ujian beberapa waktu yang lalu. Ada persoalan yang lebih mendasar yang terpikir olehku. Segampang inikah seseorang melakukan kebohongan. Aku percaya dia tidak punya niat sama sekali untuk menyakiti perasaan istrinya. Meskipun kalau istrinya tahu, ini tentu hal yang menyakitkan. Istri mana yang tidak terluka hatinya jika mendengar suaminya mengaku-ngaku masih lajang kepada orang lain.

Tapi kembali lagi, ada persoalan yang lebih mendasar.
“Ya bukannya apa-apa, kan kalau kita bilang kita udah nikah, nanti ngobrolnya nggak nyambung.”

Kata-kata yang mengalir seolah tanpa beban. Semudah itukah manusia melakukan dosa kecil. Bahkan untuk alasan yang juga sangat seserhana. Hanya sekedar agar obrolan berjalan menyenangkan. Ya Allah, Tidak sadarah bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang dibenci oleh Allah, tidak terpikirkah ada Zat yang tidak pernah berhenti mengawasi.

Saya jadi teringat kata-kata yang populer di tengah-tengah akhwat masa-masa gadis dulu.

“Jangan lihat sekecil apa dosa yang engkau lakukan, tapi lihat sebesar apa Zat yang engkau tentang.”

Tanpa sadar, kita begitu sering menyepelekan dosa kecil. Mungkin awalnya hanya sekali, dua kali. Tapi ingat, dosa sekecil apapun, jika ia tidak dibersihkan dengan Taubat, maka ia akan tumbuh menjadi kebiasaan. Kita punya hati nurani. Ketika kita melakukan dosa, hati nurani itu akan menentang, memberontak.

Tapi jika bisikan nurani itu juga tidak kita hiraukan, maka lama-kelamaan bisikan itu juga tidak akan kedenaran lagi. Karena ruang hati kita sudah dipenuhi oleh bisikan-bisikan syaiton. Dosa-dosa kecil yang kita lakukan seakan menjadi hal sepele, ringan tanpa beban.

Atau perumpamaan lain yang sering kita dengar, Hati ibarat cermin. Jika ada noda dosa yang menempel lalu kita bersihkan dengan taubat, maka kesuciannya akan tetap terjaga. Namun jika noda-noda kecil itu kita biarkan, lama-kelamaan cermin hati itu akan berkarat, dan inilah yang menghijabi antara kita dengan Allah.

Ketika kita melakukan dosa, kita seolah tidak bisa melihat cahaya Allah, karena dosa yang berkarat itu telah menutup cahaya itu untuk masuk.

Maka berhati-hatilah dengan dosa kecil. Karena jika ia dibiarkan, maka ia akan bersarang dan menjadi virus yang mematikan hati kita. wallahu a`lam Bisshowab. Semoga bermanfaat.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Arti Jihad

Kamis, 24/09/2009 14:00

Wanita adalah Mutiara

Jumat, 14/06/2013 09:45

Khairu Ummah

Rabu, 30/01/2013 07:31

Pakaian Shalat

Rabu, 02/03/2011 14:01

Baca Juga

Jika Esok Tak Pernah Datang

Jumat, 03/04/2015 08:45

Suami Suami Dekil

Rabu, 25/03/2015 10:40

Kawan, Jangan Kau Lupakan Mereka

Selasa, 24/03/2015 11:05

Pemuda Jalanan Meninggal Dalam Sujud

Jumat, 20/03/2015 09:40

Anak-Anak di Medan Perang

Kamis, 19/03/2015 08:40

Jenazahku Engkau Yang Memandikan

Minggu, 15/03/2015 09:13

Oase Iman Lainnya

Trending