Senin, 16 Muharram 1444 H / 15 Agustus 2022

Tak Ada Makan Siang Gratis Kali Ini

Aku sedang memuroja’ah hapalanku saat itu. Tak seberapa kuhiraukan angkot yang melaju distop oleh seorang penumpang di daerah Pasar Krampung. Aku biasa saja awalnya, tak menaruh curiga.

Tetapi gerak-gerik orang asing itu, ah bukan orang asing sepertinya. Firasatku, sepertinya aku pernah melihatnya, tetapi kapan dan dimana tepatnya aku lupa. Tiba-tiba saja aku mulai kepanasan, tanganku gemetar, jantungku berdetak lebih kencang, dan perasaanku mulai tak enak. Kuhentikan muroja’ahku dan perhatianku mulai tersedot kepada pria yang baru masuk tadi.

Kebetulan di dalam angkot hanya ada 5 orang penumpang wanita termasuk aku. Sejak naik dan menyerobot duduk di antara dua gadis berjilbab duduknya blingsatan.

Sepertinya lelaki itu kepanasan, ia berusaha membuka jendela yang ada di belakangnya kemudian melepaskan jaket sambil duduk mendekat ke arah ibu yang membawa barang belanjaan cukup banyak.

Sedangkan salah seorang gadis berjilbab tadi kulihat tak nyaman dan sengaja mengamankan temannya yang sedang mengantuk. Ia pindah ke bangku di depanku. Mungkin pikirannya sama denganku karena aku tak suka bau rokok yang menguar dari tubuhnya, membuatku ingin muntah.

Gerak-gerik pria tadi terus saja mencurigakan. Ia menggulung jaket ketika melihat salah satu penumpang, bapak berusia setengah baya, naik membawa barang daganganya yang lumayan banyak. Kulihat si pria aneh tadi mengintip saku si bapak.

Ah, ternyata niatnya sudah tak baik. Modus pencopetan. Sejurus kuperhatikan tangannya yang dibelit jaket didekatkan ke saku si bapak. Tak tahan dengan ulahnya aku berteriak sambil melotot ke arahnya, “Bapak! turunkan tangannya. Kasihan bapaknya, jangan mencuri!” upss, malu deh. Tapi lega rasanya bisa mengatakan itu.

Lamat-lamat kuperhatikan wajahnya, ya, aku familiar dengan wajah India itu. Dia adalah pria yang dulu pernah kepergok mencopet olehku sebelumnya. Hal yang sama pernah kulakukan kira-kira satu tahun sebelumnya. Ternyata tidak kapok juga, aku jadi semakin kesal. Pria itu salah tingkah karena merasa aksinya telah gagal total. Beberapa ratus meter kemudian dia turun tanpa melihat ke arahku lagi.

Suasana angkot berubah menjadi gaduh. “Iya mbak, tadi aku sudah ngerasa sikapnya aneh, pas waktu buka jendela dia juga berusaha buka resleting tas ibunya, “ duh mbak, udah tahu gitu kok diem aja, rutukku dalam hati.

“Pak Sopir sudah tahu gitu kok masih diangkut aja?” teriakku pada sopir angkot yang sibuk menyetir sambil bicara lewat telepon, tak mungkin kalau mereka tak berkomplot.

“Tadi saya juga ngerasa kalau saku saya dipegang, ya untungnya tadi mbaknya “nggertak”, sudah kena mentalnya gitu, Mbak,” timpal bapak yang hampir kecopetan tadi.

“Dan kalau dia nyopet uang saya, pasti saya nggak bisa pulang, Mbak.”

Bukannya aku kepalang senang jadi superhero di siang bolong. Tidak habis pikir rasanya masih ada yang tega mengambil hak milik orang lain yang lebih lelah berkerja dan mau berusaha. Kutahu mungkin aku telah mengambil kesempatannya makan siang hari itu.

Tetapi apa ya sudah tidak ada lagi jengkal bumi untuk mengais rezeki yang halal di Surabaya ini. Lagipula pasti apa yang dimakannya dari hasil mencopet haram hukumnya.

Sesampai di rumah kusampaikan hal itu pada ibu. Bukannya diberi acungan dua jempol, aku malah kena nasehat panjangnya. “Lain kali sudah tidak usah ikut campur urusan orang. Iya kalau pencopetnya sendirian, kalau mereka ramai-ramai, bawa senjata, kamu bisa dibunuh,” ah ibu lebay, batinku protes.

“Tapi kasihan kan, lagipula niatku kan baik, Bu,” aku hanya mengondisikan jika ibuku, ayahku, saudaraku, atau kawanku juga mengalami hal yang sama dan tak ada yang berani menolong karena hal itu beresiko.

Sungguh jika kemungkaran itu mudah ditaklukkan, takkan ada kesabaran Rosulullah mengajarkan Islam kepada umatnya selama 23 tahun di dunia ini. Tak akan ada perubahan yang komprehensif pada penduduk di 2/3 belahan dunia, dari mereka yang bergelimang kehidupan penuh dosa menuju rahmat Allah SWT. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk umat bangsa ini. Menyeru tanpa kekerasan seperti apa yang Rosulullah ajarkan, dan menasehati tanpa menggurui.

Mengutip dari buku yang ditulis oleh ustad Hassan Al Banna, Sesungguhnya jalan dakwah itu penuh onak dan duri, dan apabila kita berada di jalan dakwah namun bergelimang kesenangan dan datar-datar saja, mungkin kita tidak sedang berada di jalan dakwah.

Hal terkecil yang baru bisa kuaplikasikan. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, mulai dari saat ini. Jika mengurusi yang remeh-temeh seperti ini saja kita tidak bisa, apa jadinya jika kita jadi pemimpin masa depan nantinya, dan bagaimana juga dengan para wakil rakyat yang ada di DPR menggembosi nyali para koruptor kalau berhadapan dengan pencopet kelas teri saja ciut nyali. wallahu’alam bishshowab.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Sekarang Yang Aneh

Minggu, 17/10/2010 08:21

Saltum di Akhirat? Astaghfirullah…

Sabtu, 16/10/2010 18:17

Open Your Heart

Sabtu, 16/10/2010 07:58

Yakin Allah Pasti Melihatnya

Jumat, 15/10/2010 14:03

Oase Iman Lainnya

Trending