Jum'at, 13 Muharram 1444 H / 12 Agustus 2022

PIN Dewan, Antara 'Pantat' dan Kepala (baca: Antara Aib dan Kehormatan)

Pin yang disematkan di dada baju safari baju anggota dewan memang memiliki ‘sima’. ‘Sima’ dalam bahasa sunda berarti pesona yang memiliki daya magis sehingga dapat membuat seseorang yang berada di hadapan tergagap, lemas, menunduk patuh, dan pasrah. Deskripsi saya mungkin membuat anda tambah pusing. Saya buat simpel saya, ‘sima’ adalah kesan yang anda rasakan ketika berada di tempat sepi, sendirian tiba-tiba di depan berdiri sebuah harimau bertaring tajam 15 centimeter panjangnya, matanya mengumbar hasrat mengunyah anda, dan besarnya harimau tadi hampir sama dengan seekor kuda Australia!

Ya, itulah pin para anggota dewan kita yang terhormat. ‘Wajarlah’ jika pin ini dibandrol 5 juta rupiah perkeping. Pin ini hadir sebagai bentuk pengejawantahan akan makna dari sebuah lembaga yang menjungjung tinggi kehormatan. Pin bukan sembarang pin. Bukan pin yang biasa disematkan kepada para anggota siaga atau penggalang dalam kepanduan kita. Saya tidak tahu apakah ada versi KW 1 atau KW 2 untuk pin ini. Itu tidak penting karena biasanya semua sudah ditenderkan terlebih dahul melalui birokrasi yang dari dulu sampai sekarang konon banyak ‘keranjang sampahnya’. Ya..karena sebentar-sebentar urusan tender menender harus buang duit.

Sebagai warga kebanyakan, dengan pemahaman yang terbatas tentang ketatanegaraan, saya sendiri tidak mengerti jika pin ini bisa seharga 5 juta rupiah perkeping. Jika ia terbuat dari emas, yang jika dilihat rate emas 22 karat pergramnya 263676 rupiah maka mungkin saja beratnya sekitar 18,96 gram. Saya belum sempat memegangnya tapi bisa jadi beratnya kurang dari itu. Lantas apa yang membuat pin ini begitu mahal? Ada yang pernah berkata mungkin jalur birokrasi, mungkin modelnya berbeda dan sangat terbatas jumlahnya, dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lainnya. Di balik itu semua pin ini adalah simbol dari sebuah kehormatan. Ya kehormatan..! (barangkali)

Antara Pantat dan Kepala (baca antara Aib dan Kehormatan)

Saya tinggal di gulf saat ini. Ada yang menarik saya amati dalam hal budaya yang dijunjung tinggi oleh para penduduk asli arab gulf. Mereka memandang menjaga aib adalah sebuah usaha menjaga kehormatan. Contohnya; jangan pernah sekali-kali disengaja atau tidak menepuk ‘pantat’ terhadap teman sendiri (Yang sejenis tentunya). (maaf) Pantat dan sekitar aurat yang semestinya dijaga bagi mereka adalah wilayah ‘aib’. ‘Aib yang berarti malu dan cela. Bukan semata menepuk pantatnya tetapi perbuatan menepuk pantat itu sebuah simbol atau pesan bahwa wilayah yang semestinya dijaga itu sudah diintervensi sebagai bentuk usaha mempermalukan karena wilayah itu adalah aurat. Aurat diartikan sebagai ‘dignity’. Bisa juga berarti kemulyaan. Mengapa ini dipersoalkan ? karena ini menyangkut ‘worthy’. Seberapa berharganya kemulyaan diri mereka di hadapan masyarakatnya.

Ini berbeda dengan kita. Umumnya budaya kita adalah sangat menjunjung tinggi kepala. Kepala adalah simbol akan berharganya ‘otak’ manusia. Orang gulf bilang al mukh/ mukhun yang berarti akal. Lewat mukh/ akal inilah manusia diberikan kemampuan berfikir. Beda dengan binatang yang mempunyai kepala dan batang otak tapi tidak mampu berfikir. Kita sepakat begitu berharganya akal yang dismbolkan dengan kepala, maka siapa saja yang berani menyentuh, mengeplak, menjitak atau apapun bentuknya bisa diartikan sebagai sebuah ‘declare of war’. Pernyataan perang dan awas ya..kalau berani-berani pegang!karena hal itu bentuk penghinaan. Kemarahan luar biasa disertai perasaan terhina akan meluap hingga ubun-ubun. Ini semua karena masyarakat kita begitu menghargai bahwa AKAL adalah anugerah Tuhan dan pergunakanlah ia semestinya.

Ditarik korelasi antara (maaf) PANTAT di budaya arab Gulf dan KEPALA di budaya masyarakat Indonesia begitu singkron. Untuk arab Gulf kira-kira pesannya berbunyi; 
Jagalah dirimu dari perbuatan cela/aib karena nilai seberapa berharganya dirimu ditentukan oleh usahamu menjaga aib/ cela dirimu dan keluargamu. 

Sedangkan untuk orang Indonesia kira-kira berbunyi:
Jagalah akalmu dan muliakanlah dirimu dengan selalu mendahulukan berfikir dengan akal sehatmu.
Jadi yang satu menjaga cela dan satu lagi lagi menggunakan akal sehat. Itulah sebuah NILAI KEHORMATAN dalam hidup.

Tentang pin anggota dewan. Akal sehat saya serta merta menolak bahwa pin kecil bisa berharga 5 juta rupiah!.Jika ia berada di pasar atau mal dan dijual bebas menurut anda, adakah yang mau membeli pin ini seharga 5 juta rupiah? Sudahkah akal fikiran digunakan untuk menentukan nilai dari pin ini? Jika biaya untuk membeli pin ini berasal dari kantong pribadi tidak menjadi soal tetapi biaya membeli pin ini dari uang kita semua..ya uang anda dan seluruh rakyat Indonesia.

Di saat masyarakat tengah ditimpa musibah oleh gempa dan banyak menimbulkan korban harta serta jiwa dan hidup dalam keprihatinan maka sebuah AIB/ CELA rasanya uang yang seyogyanya bisa diperbantukan meringankan derita dan beban yang ditimpa musibah malah dipakai untuk biaya pelantikan. Meminjam istilah edirorial Indonesia, pelantikan tak ubahnya hari pertama masuk sekolah. 

Maka, bagaimana kita memaknai arti dari harga sebuah pin yang akan disematkan pada dada para anggota dewan yang katanya terhormat itu?

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Antara Syukur dan Kecewa

Rabu, 09/09/2009 07:22

Puasa Di Persimpangan Nafsu

Senin, 07/09/2009 14:01

Lebaran Tidak Lewat Sini

Senin, 07/09/2009 07:42

Jum'at ku di Ruwais

Sabtu, 05/09/2009 10:21

Malu Bila Tidak Puasa …

Jumat, 04/09/2009 14:15

Oase Iman Lainnya

Trending