Kamis, 29 Zulqa'dah 1443 H / 30 Juni 2022

Perempuan kini, Kartini-Kartini Modern

Suatu sore yang indah empat tahun yang lalu, aku yang sedang mengajak putra kesayanganku yang masih berumur setahun bermain di halaman rumah ipar tempat kami menginap di perumahan mewah di Depok.

Aku melihat seorang anak lelaki berumur 10 tahun yang gemuk, berkulit bersih, cakep, rapi sedang bermain sepeda di jalanan komplek perumahan yang sepi. Dikayuhnya sepeda itu dengan lambat dan dibelakangnya seorang wanita 30-an berpakaian daster sederhana mengikutinya dari belakang sambil berlari-lari kecil.

Sesaat aku tak memperdulikan mereka. Dalam hatiku, “Yah…..palingan anak orang kaya yang sedang ditungguin bermain dengan pembantunya”.

Tiba-tiba aku terkejut ketika mendengar anak itu berkata sambil berteriak dan marah-marah kepada pembantunya. “Muka elo sih kayak monyet, jelek banget !! Makanya elo nggak pinter-pinter main sepeda. Sudah sini, mending gue aja yang maen”.

Aku terdiam sesaat, terkejut. Kasar sekali ucapan anak itu seperti anak yang tidak terdidik. Kasihan, padahal mukanya cakep, tapi kelakuannya tidak secakep tampangnya. Ternyata dia sedang mengajar pembantunya bersepeda, mungkin pembantunya selama ini memang tidak bisa bersepeda.

Tak ada kata-kata yang manis keluar dari mulutnya, yang ada hanya makian, hinaan, dan merendahkan orang yang lebih tua. Seperti tidak pernah diajarkan sopan santun agar dia harus hormat dengan orang lain walaupun itu seorang pembantu.

Sang pembantu berjalan masuk ke salah satu rumah di seberang jalan. Rumah mewah bertingkat yang pagi-pagi sekali keesokan harinya kulihat sebuah sedan BMW dikendarai seorang wanita cantik meluncur keluar dari rumah tersebut. Sementara masih ada sebuah Toyota Innova yang masih terpakir manis di rumahnya.

Kebutuhan materi anak tersebut pasti telah dipenuhi oleh orantuanya bahkan mungkin berlebihan, tetapi apakah demikian pula dengan kebutuhan perhatian, kasih sayang, pengawasan, bimbingan, pembentukan akhlaknya? Entahlah.

Emansipasi wanita, cita-cita Ibu Kartini dahulu. Dahulu para kaum perempuan tak berhak mendapatkan pendidikan. Sekarang banyak perempuan yang bisa sekolah tinggi sampai gelar pi ej di ( Phd ).

Ketika para perempuan hanya tahu memasak dan ke sawah, sekarang berjuta perempuan telah mengecap dan mengendalikan teknologi yang sama dengan kaum lelaki.

Ketika dulu perempuan dulu cuma jadi pekerja kasar di sawah, sekarang telah banyak yang jadi manajer membawahi beribu pekerja kasar.

Ketika dulu perempuan masih menjadi selir sang mantri kesehatan, sekarang menjadi ibu menteri bahkan pernah menjadi kepala negeri ini. Ketika dulu perempuan cuma tau menerima dan menghitung uang dalam pundi, sekarang mampu menghasilkan uang sendiri berjuta-juta kali.

Perempuan harus berpendidikan dan mandiri. Ketika dulu pada zaman Kartini perempuan hanya dijadikan istri poligami bergantung hidup ekonomi pada lelaki, kini banyak wanita mandiri bahkan menghidupi keluarga dan suami sendiri.

Ketika perempuan hanya bisa belajar dalam rumah sendiri, sekarang sekolah sampai ke luar negeri bahkan ada yang terpaksa meninggalkan anak dan suami demi mencari ilmu.

Di kota-kota besar pagi sekali para ibu meninggalkan anak-anak dan bayi-bayi bersama si bibi, untuk bekerja mencari materi, alasan supaya hidup lebih berarti dan bergengsi.

Bekerja untuk mencari kemandirian diri agar tak bergantung terus dengan suami. Bekerja untuk status hidup dan apresiasi diri. Bekerja untuk memanfaat ilmu yang telah ditekuni di sekolah tinggi.

Bekerja agar di masyarakat lebih dihargai dan dihormati. Bekerja membantu perekonomian suami dan sanak famili. Bahkan ada yang bekerja sampai ke beberapa negeri menjadi TKW.

Semakin banyak kini bayi yang tak bisa menikmati ASI sampai genap 2 tahun. Minum susu botol buatan si bibi. Menyusu dengan botol hasil perahan sapi. Yang katanya sangat mahal karena bergizi paling tinggi.

Pagi buta ibu telah pergi bersama sang ayah. Pulang mendekati malam hari menemui dan mengecup anak yang sedang bermimpi. Terlupa mengajar anak akhlak, sholat dan mengaji. Karena sang anak terus bermimpi kebanyakan nonton TV dan DVD di siang hari.

Apakah perempuan yang mempunyai rahim itu sekarang diciptakan hanya untuk melahirkan anak saja? Di mana pelukan hangat sang ibu kala bayi demam gelisah karena mau tumbuh gigi. Di mana siraman air dan belaian tangan ibu yang menyabuni ketika aktivitas mandi.

Apakah perempuan yang mempunyai payudara anugrah sempurna Allah digunakan hanya untuk asesori kecantikan perempuan saja? Masih besarkah nilai-nilai keibuan perempuan itu sekarang?

Terdesak di antara gemuruh dunia mencari materi. Terhimpit kesesakan arus modern mencari prestise hidup. Impian punya mobil-mobil mewah, rumah-rumah cantik, perabot mahal import, baju branded, asset-asset bernilai tinggi, juga handphone blackberry.

Semua itu jauh lebih berarti daripada tetes –tetes kasih sayang yang ditanam sang ibu seiring waktu sehingga menjadi ikatan batin yang begitu kuat.

Sang ibu cuma berkata, "tak ada pilihan". Andai ibu bisa memilih. Ibu takut memilih. Takut hidup apa adanya dari satu penghasilan. Takut suami yang minta kawin lagi. Takut tiba-tiba ditinggal mati suami. Takut biaya pendidikan anak di tempat bergengsi yang makin tinggi. Takut dicap berprofesi yang tak berarti. Takut zaman mendekati resesi. Takut harga barang-barang mulai menaik tinggi.

Ibu Kartini, mungkin tak pernah tahu dan merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu karena Ibu Kartini telah meninggal beberapa hari setelah kelahiran putra pertamanya.

Andai kata Ibu Kartini pernah merasakan menjadi seorang ibu, Ibu Kartini tentu sangat setuju. Seorang perempuan yang telah bergelar ibu merupakan pusat peradaban yang merupakan madrasah pertama bagi putra-putrinya dalam mendesain karakter generasi muda agar tunas bangsa tersebut menjadi pewaris peradaban yang tangguh. Sehingga ke depan mereka bisa mengemban amanah di muka bumi ini untuk mewujudkan negeri yang adil, makmur, aman, dan sentosa.

Tak salah perempuan berpendidikan tinggi, berwawasan dan mandiri. Seorang perempuan dituntut untuk berpendidikan tinggi serta mandiri tetapi jangan sampai melepaskan sepenuhnya perannya sebagai seorang ibu ketika dia telah memiliki anak.

Emansipasi yang terkadang salah kaprah, ingin mempunyai hak yang sama dengan lelaki disemua bidang sehingga terkadang besar peran seorang ibu menjadi terabaikan. Menjadi telaga kasih sayang, mata air motivasi, kuas yang akan melukis watak dan akhlak sang anak.

Perempuan sekarang pasti bisa menjadi apa saja yang dicita-citakannya menjadi wanita karir sukses, mempunyai posisi penting, bergelar tinggi, menjalankan semua pekerjaan yang dahulu didominasi laki-laki.

Namun ketika seorang perempuan harus mengurangi banyak perannya sebagai ibu dalam pembentukan anaknya dalam pencapaian untuk semua kesuksesan itu, perempuan itu telah menghilangkan sebagian nalurinya, karena naluri perempuan adalah menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anaknya.

"Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh" (As-Saffat 100).

Investasi masa depan apa lagi yang paling berharga yang dapat dimiliki seseorang, salah satu amalan yang takkan putus walau jasad telah dimamah bumi.

Bagaimana mungkin menghasilkan anak yang saleh hanya dalam semalam dan menyerahkan pembentukan mental, pribadi, nilai-nilai hidup spiritual dan akhlaknya hanya pada masyarakat.

Tanah Melayu, 21 April 2010

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Zakat Profesi Suami Isteri Bekerja

Selasa, 10/10/2006 12:58

Tukang Sapu dari Kirgyztan

Minggu, 13/04/2008 04:50

Islamic Quotes #85

Kamis, 01/09/2011 19:46

Jangan Hanya Membeo!

Sabtu, 19/03/2011 18:43

Jelang Ramadhan

Jumat, 22/09/2006 06:24

Baca Juga

Hati Adalah Kunci

Rabu, 21/04/2010 05:52

Koja Berdarah, Kamipun Marah

Selasa, 20/04/2010 12:20

Kado Milad untuk Mama yang ke-50

Senin, 19/04/2010 14:03

Merindukan Kota Santri

Senin, 19/04/2010 06:17

Mahalnya Sekotak Susu

Minggu, 18/04/2010 08:13

Sepatu Spirit

Sabtu, 17/04/2010 06:14

Keberhasilan Yang Tertunda

Jumat, 16/04/2010 14:27

Oase Iman Lainnya

Trending