Sabtu, 14 Muharram 1444 H / 13 Agustus 2022

Rutinitas Dalam Kehidupan

Suka atau tidak,  kehidupan ini akan mengalir sesuai pengaturan waktu yang telah ditentukan. Kehidupan yang seringkali terisi dengan sebuah tawa, canda dan sering-kali air mata. Kehidupan yang sering-kali kita biarkan mengalir seperti air di sungai atau di laut, tanpa sedikit pun kita menghentikannya sejenak, untuk memaknai; “Kenapa hidupku hanya se-rutin ini?”

 Banyak hal sebenarnya yang kadang membuat kita kaget dengan rutinitas keseharian yang telah kita jalani. Baik itu satu bulan-dua bulan- atau pun berpuluh tahun perjalanan hidup kita di dunia ini. Saat kita melihat anak-anak kita tumbuh dan membesar. Mereka kelihatan lebih “dewasa” dengan kecerdasan dan kelebihannya masing-masing,yang terkadang membuat kita terperangah, “ternyata betapa tuanya aku saat ini?!” Mereka ternyata berpostur tubuh lebih tinggi dari kita.

 Atau saat kita pulang kampung. Saat kita berkumpul dengan keluarga besar kita, di saat lebaran. Kadang kita terperangah, serasa tak percaya, karena rasanya baru beberapa tahun berlalu keponakan kita yang dulunya seorang gadis kecil, ternyata disaat pertemuan itu telah menjadi seorang ibu dari seorang anaknya. Maupun berita kematian orang-orang yang “dituakan: di kampung kita. Kita pun sering-kali serasa tak percaya, bahwa semuanya di luar perkiraan kita.

 Padahal sering-kali kita bercermin, dan tidak sedikitpun kita melihat sebuah garis ketuaan di wajah kita, tapi saat kita bertemu teman lama, barulah kita sadar diri kita setua dirinya, karena melihat teman kita ternyata kelihatan sudah “ujur”. Pastilah hati kita terhenyak, betapa waktu banyak berlalu tanpa kita sadari. Hal ini terjadi karena kita hanya bersibuk dengan urusan rutin yang tak akan pernah habis, hingga sang Pencipta memanggil kita.

 Manusia memang terlahir dengan penuh misteri. Yaitu kelahirannya beserta garis kehidupannya yang telah dicatatkan di tempat yang tak terjangkau panca indera tentang hidup, mati, bahagia atau sengasara, rejeki, jodoh dan apakah masuk syurga atau neraka? Semua misteri itu tentu saja milik Allah Swt. dan sebagai makhluk ciptaan-Nya kita diberikan dua buah jalan, yaitu jalan kebajikan atau pun kemungkaran. Jalan itu tentu saja tidak akan bisa kita ketahui bila kita tidak memiliki pedomannya. Tentu saja sebagai muslim, pedoman kita adalah al-Qur’an. Al-Qur’an di turunkan oleh Allah untuk menuntun kita pada jalan kebajikan. Petunjuk jalan yang akan dapat membuat kita mencapai sebuah tujuan akhir, yaitu kebahagiaan abadi,  syurga-Nya.

 Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia, ternyata sering-kali hanya lah sebuah slogan di bibir. Pada prakteknya lebih sering membaca buku-buku yang sebenarnya adalah sampah untuk kehidupan ini, tapi itulah kenyataannya, kita sering-kali menomor duakan Al-Qur’an sebagai bacaan harian kita. Maka tidak lah dapat di pungkiri, bila kehidupan kita hanya terisi sesuai bahan bacaan kita, bukan dari cahaya Al-Qur’an. Maka hidup kita akan jauh dari norma-norma aturan yang berstandar Al-Qur’an.

 Kehidupan yang sering-kali di maknai dengan standar bahagia berbanding lurus dengan semua pemenuhan keinginan, ternyata sering-kali menyesali kehidupan kita yang sering-kali jatuh bangun karena materi. Menggerutu karena seringnya keluarga kita sakit, atau pun hal-hal lain yang membuat kita serasa tak bahagia.

 Kita ingin kehidupan selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Sadarlah,  hidup ini bukan lah milik kita, kita tidak bisa menentukan kapan kita kaya, kapan kita pintar atau kapan kita masuk syurga. Semuanya terletak pada tangan sang Maha Kuasa kehidupan ini.

 Kita bukan lah tuhan kehidupan, yang selalu ingin hidup berjalan sesuai dengan angan kita. Karena bila kita tuhan, maka tentu saja hidup kita berstandar sesuai pribadi kita, yang pada akhirnya berujung pada sebuah penyesalan. Se-misal contoh; kita cuti kerja dari pekerjaan. Kita mempunyai hak untuk mengatur jadwal kita, sesuai keinginan kita. Pada saat itu lah kita merasakan sebuah kebebasan – bebas lepas dari ikatan yang selama ini di jalani. Maka karena merasa lepas itulah, tidur kita pun berlebihan.

 Bila kita bekerja, biasanya sebelum adzan subuh sudah bangun, dan mempersiapkan diri untuk berangkat kerja. Karena cuti, maka kita pun berleha-leha untuk tidur kembali setelah shalat subuh, tapi apa yang terjadi? Ternyata setelah kelamaan tidur, maka kepala kita serasa sangat berat, perut pun keroncongan minta diisi. Saat kita keluar dari kamar, ternyata rumah kita bagaikan kapal pecah. Semuanya berantakan!  Begitulah bila kita hanya mengikuti keinginan kita. Kita memang memerlukan sebuah peraturan agar kita tidak lepas kendali dalam mengisi detik demi detik kehidupan ini.

 

Ada seorang pedagang pakaian yang berlokasi di sebuah pasar. Saat ramadhan dan mendekati hari lebaran beberapa tahun yang lalu, saya pernah menanyakan kepadanya tentang kapan dia akan pulang kampung, karena dia sudah lama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya di kampung halamannya, Sulawesi Selatan. Jawabannya?

 “Sebenarnya, aku pingin pulang kampung. Tapi sayang sekali bila aku tinggalkan tokoku ini. Karena lumayan omzetnya per hari yang aku dapatkan.”

 Omzet penjualannya memang puluhan juta per harinya. Hingga dia pun hidup sekeluarga di tokonya tersebut dengan tumpukan barang jualannya. Kehidupan yang tidak bisa saya bayangkan akan bisa saya jalani.. Ruangan yang tidak pernah tersinari matahari, Tanpa jendela dan ventilasi yang cukup. Tanpa halaman. Dimana-mana ada setumpuk pakaian, Membuat anak-anak tidak betah tinggal di rumahnya sendiri.

 Keterikatannya pada penghasilan yang lumayan melupakan arti sebuah rumah yang nyaman. Mereka sekeluarga rela untuk hidup penuh dengan suasana sumpek karena tidak ingin meninggalkan tempat yang menghasilkan uang yang banyak. Jualannya dari pagi hingga malam hari. Nilai silaturahmi kepada keluarganya di kampung ternyata terabaikan.

 Saya tentu saja memikirkan, bagaimana dia mengikat hidupnya pada usahanya. Seluruh hidupnya hanya untuk mengejar materi. Dari pagi ke pagi, dari malam ke malam yang dihadapinya adalah hanya barang dagangannya. Dia merasa tak bisa melepaskan diri dari tokonya karena sangat tahu  penghasilannya per hari yang cukup besar. Tapi apakah hidup memang hanya untuk itu? Tidak ada irama lain, selain untuk mengumpulkan uang.

 Berpuluh tahun, hidupnya berjalan konstan. Anak-anak di besarkan di lingkungan yang semestinya tidak di situ, karena mereka memerlukan sebuah rumah yang lebih sehat dan tentu saja aman dari pengaruh buruk lingkungan.  Saat anak laki-lakinya  yang pertama menjalani kehidupan remajanya, maka dia pun tersentak kaget, ternyata anaknya masuk dalam lingkaran narkoba. Masuk dalam kategori anak bermasalah dan kemudian masuk bui.

 Anak keduanya ( perempuan ) yang  cukup cerdas, akhirnya di nikahkan dengan keluarganya sendiri yang lumayan berada. Padahal anak tersebut baru lulus dari SMU. Mereka punya prinsip perempuan tidak perlu sekolah tinggi, karena akhirnya akan ke dapur juga. Yah mereka hanya mengukur semuanya dari sudut materi. Itulah hidup mereka. Sungguh sayang,  tidak pernah berfikir untuk meningkatkan ilmu atau pun wawasan keagamaan. Tidak ada pengajian rutin atau pun majlis ilmu secara berkesinambungan, yang akan membuat mereka dapat lebih memahami agama mereka secara lebih baik lagi.

 Banyak memang, yang merasa aman dengan kondisinya yang dari dulu hingga sekarang, dengan irama kehidupan yang tetap. Mereka merasa itulah dunia mereka. Tidak ada sedikit pun merasa bahwa mereka  tertinggal dari segi ilmu, ataupun segi ibadah. Mereka hanya saling iri untuk menambah jumlah harta.  Untuk mereka ini, sangat susah untuk di ajak meluangkan waktunya sekedar satu kali sepekan mengikuti majlis ilmu. Tapi itulah tugas kita, sebagai seorang yang masih terhubung sebagai keluarga, untuk memberikan pemahaman sedikit demi sedikit secara perlahan-lahan, tanpa mereka sadari, tertarik untuk mengikuti jejak kita. Jadi, pendekatan yang membutuhkan kesabaran, mungkin berbilang tahun atau pun sampai kita berpulang ke Rahmatullah.

 Keterikatan kita pada rutinitas memang sering-kali menjebak kita. Maka berbahagia lah bagi orang-orang yang bisa mengelola rutinitas kehidupannya dengan menyempatkan diri untuk dapat tetap berkembang ( tentu dalam kebaikan ) dan beramal sholeh. Karena memang waktu kita sangat sedikit, amal pun masih ringan ( itu pun belum tentu di terima oleh Allah ) untuk kita bawa serta saat kepulangan kita ke sang pencipta kehidupan ini, yaitu Allah Swt.

  ( Sebuah pemikiran tentang rutinitas hidup, bila hanya di simpan di dalam hati.tidak akan ada manfaatnya, karena pemikiran yang dituangkan dalam tulisan, setiap saat bisa dibaca kembali untuk dapat direnungkan.  Penulis berharap, tulisan ini sebagai cambuk bagi dirinya untuk tetap bersemangat dalam mengisi kehidupannya, dan bersyukur bila bermanfaat juga bagi  orang lain. Amin )

 

Sengata, 14 September 2009

 Halimah Taslima

Forum Lingkar Pena ( FLP ) Cab. Sengata

[email protected]

 

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Kepenatan 30 Tahun yang Terobati

Minggu, 13/09/2009 13:59

Izinkan Aku Masak Untuk Mereka

Minggu, 13/09/2009 09:01

Saling

Sabtu, 12/09/2009 05:44

Beda Ibuku dan Ibunya

Jumat, 11/09/2009 14:12

El-'izzah

Kamis, 10/09/2009 14:08

Repotnya Mudik, Indahnya SIlaturahmi

Kamis, 10/09/2009 06:52

Oase Iman Lainnya

Trending