Kamis, 6 Jumadil Awwal 1444 H / 1 Desember 2022

Senyummu Pak Satpam

Rabu, 19 September 2007

Jogja sedang menggeliat panasnya. Awan biru cerah menggantung jagad raya. Tak lupa Alloh mengirimkan semilir angin untuk sejenak menghapus buliran keringat hamba-hamba-Nya siang ini.

Siang ini saya ada janji bertemu seorang teman KKN untuk membicarakan sautu hal. Ukhti Heni namanya. Saya menetapkan Pos Satpam kampus sebagai tempat pertemuan kami nantinya. Pukul 11.10 -seperti waktu kesepakatan kami untuk bertemu- saya melangkah ke Pos Satpam. Setibanya dipos, saya meminta izin untuk duduk di beranda depan pos. Pak satpam pun mengizinkan.

Hilir mudik motor dan mobil keluar kampus menghiasi pemandangan di depan saya. Banyak dari mereka yang mengurangi kecepatan kemudian menoleh ke pos satpam sambil mengangguk dan melemparkan senyuman. Pak satpam pun membalas dengan senyuman yang tak kalah ramahnya. Saya pun tahu, tidak semua dari mereka belum mengenal akrab dengan Pak satpam. Tapi senyum tak kenal nama… Tak kenal usia… Tak kenal sudah kenal atau belum kenal…. senyum ya senyum.. senjata paling ampuh untuk membombardir pertahanan lawan sehingga lawan mau mengibarkan bendera putih dan akhirnya pun membalas serangan dengan senyuman….

Saya masih asyik dengan HP di tangan, membalas sebuah short message dari seorang teman. Kemudian saya mulai tergelitik dengan sosok seorang satpam berseragam biru yang duduk agak jauh di seberang saya. Nama beliau Pak Tambah Baktiyono -saya tahu nama beliau setelah sekilas melihat label nama di seragam biru beliau-.

Perbincangan ringan pun dimulai. Mulai dari cerita asal usul kami masing-masing, lingkungan kampus, sampai perbincangan tentang profesi beliau sebagai Satpam yang sudah dilakoni 2 tahun ini. Lagi-lagi rasa ingin tahu saya membuncah deras, terbukti ketika terlontar sebuah pertanyaan dari saya ”Jadi satpam enak ngga Pak?”. Saya berharap akan terangkai jawaban panjang dan lebar dari beliau, atau lebih tepatnya saya menginginkan sebuah sesi ”curhat” kali ini. Ternyata saya salah. Beliau mengawali dengan seuntai senyum ringan, kemudian berkata ”Ada enaknya ada ngga nya mba”. Sudah…. begitu saja jawaban beliau, dan tak lupa di akhir kalimat, beliau sertakan senyuman…. lagi.

Saya pun tak ingin kalah singkat dalam menjawab. ”Oo” Jawab saya singkat dan tanpa bertanya lagi. Karena dari jawaban singkat itu kemudian saya mencoba merenungkan banyak hal. ”Ada enaknya ada ngga nya”, tersirat makna penyikapan sederhana dan wajar atas perubahan yang terjadi dalam hidup. Ya seperti itulah hidup, tentu banyak sekali perubahan-perubahan (baca: masalah) yang terjadi, kalo orang bilang ”seperti roda yang berputar, kadang di atas dan kadang di bawah”, hampir serupa dengan jawaban pak tambah.

Satu hal yang baru saja saya dapat setelah mendengar jawaban pak tambah (plus bonus senyuman tentunya) adalah bahwa setiap kita pasti akan mengalami perubahan dalam hidup dan tak seorang pun yang tahu perubahan apa yang sedang menanti di depan sana. Ada yang terduga dan banyak pula yang tidak terduga. Nah, sekarang yang menjadi persoalan adalah bukan perubahan itu, melainkan bagaimana sikap kita terhadap perubahan itu. Siapa yang mampu bertahan maka ia akan menjadi setegar karang yang setiap waktu diterjang gelombang dengan kekuatan yang berbeda-beda. Dan siang itu saya mendapatkan jawabannya….. Dengan senyuman.

Diawali dengan sebuah lengkungan kecil di bibir kita maka insyaAlloh gembok hati perlahan akan terbuka, kesabaran menyelimuti jiwa dan mampu kembali melihat dunia dari sisi yang berbeda, tidak melulu berkutat dalam kemurungan karena perubahan. Dan selanjutnya perubahan itu akan mampu kita nikmati… Dengan senyuman tentunya.

Akan jauh lebih nikmat lagi jika senyum itu kita bagi dengan orang lain. Paling tidak satu poin kita dapatkan, kita sudah sodaqoh senyum. Tidak membiarkan orang lain terseret dalam kemurungan kita. Dengan begitu sejenak beban pikiran akan menguap perlahan. Seperti sikap Pak Tambah, yang senantiasa dengan ringan membalas setiap senyuman orang yang melewati pos beliau. Walaupun tugas menjaga keamanan kampus adalah bukan tugas yang ringan, akan tetapi dengan berbagi senyum, hari-hari akan terlewati dengan ringan.

Tak berapa lama kemudian teman saya datang, saya pun pamit kepada pak Tambah dan mengucapkan terimakasih karena sudah diperbolehkan singgah di Pos dan tentu saja atas ilmu yang Beliau sampaikan. Pak tambah pun membalas dengan senyuman…..

Terimaksih Pak, siang ini saya dapat satu hal lagi untuk bekal belajar tentang hidup. Terimakasih juga atas senyum itu…. Jogja tak lagi panas kini.

Sudahkah kita tersenyum hari ini? :)

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Terus Bekerja dan Mensyukuri Hasil

Senin, 01/12/2008 08:03

Isu Kebohongan Covid-19

Kamis, 19/11/2020 11:00

Ketertutupan

Rabu, 30/05/2007 10:46

Islam Berjuang

Selasa, 12/04/2011 13:16

Ridha Menjadikan Hati Penuh Cinta

Rabu, 12/12/2012 08:00

Baca Juga

"Kehilangan" Komitmen?

Senin, 08/03/2010 07:39

Jilbab Menjagaku Dari Makanan Haram

Sabtu, 06/03/2010 05:11

Rumah yang Bagus

Jumat, 05/03/2010 13:44

Iman Juga Butuh Baju

Kamis, 04/03/2010 01:18

Iman yang Terjual

Rabu, 03/03/2010 17:11

Oase Iman Lainnya

Trending