Senin, 16 Muharram 1444 H / 15 Agustus 2022

Seorang Ayah

Tubuhmu yang dulu kekar Legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk

(Ebiet G. Ade)

Hari berganti hari, tahun berjalan, pak Andi tetap menjalani kehidupannya sebagai seorang ayah, ia pegawai di sebuah perusahaan swasta.

’Ayah, besok Andi mau les sepak bola’’, si sulung mencegat sang ayah di depan pintu sebelum ia bergegas pergi ke kantor pagi itu.

‘’Iya Yah, Ria juga mau les berenang minggu depan, harus cepat dibayar uang pendaftarannya’’, sambut si bungsu.

‘’Baik nak, Ayah nanti bayar semua iuran pendaftaran kalian, Ayah cari uang dulu ya…’’

‘’Assalamu’alaikum..’’

Pak Andi pun bergegas ke luar pintu, saat itu sudah pukul 6 tepat, ia harus mengejar kereta ekspress Pakuan arah Gambir. Belum lima langkah ia berjalan, terdengan teriakan bu Andi,

‘’Yah..Yah…siang ini ibu mau belanja urusan dapur..lusa kan sudah mulai puasa…tambahin dong uangnya..’’

Pak Andi terdiam sejenak, terlihat ia merogoh kantongnya sedikit tergesa-gesa, ia taruh tas gendongnya di sisi jalan. Selembar uang lima puluh ribu ia keluarkan untuk isterinya.

Di dalam kereta Pak Andi berdiri bergelantungan sebagaimana penumpang lainnya. Hari itu penuh sesak seperti biasa, kereta ekspres lebih cepat namun kenyamanan juga biasa.

Pak Andi sedikit terdesak ke arah pintu, wajahnya terus memandangi suasana perjalanan, sawah dan rumah di sisi jalur kereta Bogor – Jakarta. Pandangannya kosong, ia teringat sms ibunya hari kemarin,

‘’ Di, ibu harus ke dokter, kamu bisa bantu nggak, ibu cuma ada sedikit’’.

Sudah lebih satu bulan Pak Andi belum sempat menengok sang ibu yang memang rutin mengunjungi dokter karena penyakit asthma-nya. Walau rumah mereka masih dalam satu kota, namun kesibukan kantor dan keluarga membuat Pak Andi harus berupaya keras membagi waktu untuk bisa mengunjungi sang ibu. Beberapa bulan sebelumnya Pak Andi sempat mengunjungi ibu untuk membantu sejumlah uang biaya kuliah adik Pak Andi.

Hari itu pukul lima sore Jakarta padat merayap seperti biasa. Pak Andi bersiap menuju Gambir. Ia sempatkan mampir di sebuah anjungan tunai, ada sisa tiga ratus ribu rupiah di saldo rekeningnya. Sedikit berkerut dahinya teringat segala kebutuhan rumah tangga satu pekan ke depan, sebelum keluar uang gajian.

Hari berganti hari, tahun berjalan, pak Andi tetap menjalani kehidupannya sebagai seorang ayah. Ia tetap setia memberi nafkah anak isterinya, demikian juga orang tua dan adik-adiknya.

Pak Andi sadar betul, itulah ‘’beban’’ yang ia baca sebagai tanggung jawab seorang lelaki. Lelaki yang sejak lama telah menjadi seorang ayah. Sebuah kehormatan bagi Pak Andi jika ia selalu dibutuhkan dan diminta, walau beban itu semakin berat.

Dalam setiap diam Pak Andi menyebut nama Tuhannya,

‘’Ya Allah mudahkalah urusanku…ampuni dosa-dosaku’’

Hari berganti hari, tahun berjalan, pak Andi tetap menjalani kehidupannya sebagai seorang ayah. Tidak ada yang berubah, kecuali bungkuk tubuhnya, dan uban putih di rambutnya.

***

Eindhoven, Agustus 2008

Menjelang 35
Tetap seorang lelaki Yang telah menjadi ayah

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Pacaran dengan Non Muslim

Kamis, 04/09/2008 04:30

TRIK AMPUH ATASI DIABETES

Sabtu, 07/07/2018 16:09

Quiz 14

Senin, 06/09/2010 11:31

dan Burung Pun Berterima Kasih

Jumat, 09/05/2008 14:35

Baca Juga

Doa Selalu Sama Menjelang Ramadhan

Selasa, 02/09/2008 12:01

Puasa Pertama

Selasa, 02/09/2008 06:34

Alhamdulillah, Ramadhan Telah Tiba

Senin, 01/09/2008 07:02

Momen yang Tepat untuk Bertobat

Minggu, 31/08/2008 06:37

Nikmat Ramadhan Terpanjang di Berlin

Jumat, 29/08/2008 17:28

Ramadhan, Madrasah Pengorbanan

Jumat, 29/08/2008 13:31

Oase Iman Lainnya

Trending