Sabtu, 14 Muharram 1444 H / 13 Agustus 2022

Merindukan Kota Santri

Setiap selesai sholat subuh kuhabiskan waktu di balkon ini. Menghirup udara pagi sambil tilawah, memandangi aktivitas masyarakat, olahraga kecil dan yang paling menarik perhatianku adalah memandangi aktivitas para santri di Pesantren Syekh Abdul Wahid. Penuh semangat dan gairah masa muda. Di saat jam belum menunjukkan pukul 6 pagi mereka telah memenuhi lapangan dengan berbagai aktivitas olahraga. Itu jadwal tetap mereka setiap pagi, di saat sebagian besar teman-teman sebayanya masih terbuai mimpi indah. Di atas ketinggian ini dengan jelas aku bisa memandang geliat mereka yang dimulai dari pukul 4 pagi seperti mengaji, sholat subuh, dan ta’lim. Subhanallah betapa mekarnya hatiku melihat semangat mereka, generasi muda Islam, taat, sehat, semangat.

Suasana di kota santri
Asyik senangkan hati
Tiap pagi dan sore hari
Muda mudi berbusana rapi menyandang kitab suci
Hilir mudik silih berganti
Pulang pergi mengaji

Lagu qasidah tempo dulu yang sangat akbrab saat itu. Suasana seperti yang digambarkan dalam syair lagu juga mudah dijumpai disetiap kota. Kota tergambar bukan saja sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya ekonomi masyarakat, pusat kegiatan sosial tetapi juga merupakan sentra pendidikan agama. Kota saat itu memang tempat mengabdinya sejumlah ulama bagi masyarakat. Pesantren-pesantren sebagai pusat pendidikan keagamaan mampu memberikan warna terhadap kota, sehingga kota tercitrakan sangat indahnya sebagai kota santri.

Seperti lagu kota santri yang jarang lagi terdengar seiring makin langkanya pemandangan kota dengan suasana surgawi. Kusyukuri rumah ini memberikan pemandangan yang amat berbeda. Ketika malam menjelang, kuresapi suasana spiritual yang begitu kental terdengar dari menara pesantren, tilawah, shalawat, sholat dan ta’lim para santri. Subhanallah jika seluruh penjuru kota suasananya seperti ini. Suasana inilah yang bisa menjaga iman kaum muslimin. Ya Allah jagalah cahaya yang Kau titipkan di hati kami. "Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya". (QS. al-Baqarah : 257)

Alangkah berbedanya saat aku melangkah ke depan rumah, Sebuah gedung bilyard yang cukup besar "Metro Billyard" berdiri kokoh tepat di seberang jalan. Kendaraan keluar masuk gedung itu tiada mengenal waktu. Sesekali terlihat para wanita muda dengan dandanan menggoda keluar masuk gedung. Pemandangan yang bertolak belakang antara bagian depan dan belakang rumah ini seolah menegaskan bahwa kemaksiatan datang dari arah depan, atas nama kemajuan bahkan bisa saja masuk ke rumah jika kita tidak mencegahnya, nauzubillah. Sedangkan kebajikan sedikit demi sedikit akan mundur ke belakang dan bahkan akan menjadi bagian dari masa lalu. Ya Allah kami berlindung pada-Mu.

Begitulah iman, ia ibarat benih yang bersemayam di hati manusia. Ia butuh tempat untuk bisa bertahan hidup. Ia juga butuh kondisi yang hangat agar bisa beradaptasi. Rasulullah saw yang imannya dijamin oleh Allah sekalipun membutuhkan kota Madinah untuk menyemai bibit iman yang ada di hatinya. Kota Madinah dalam pandangan Nabi saw saat itu sangat kondusif bagi para sahabat yang baru mengenal Islam. Ini sangat berbeda dengan kondisi kota kita saat ini, kota Mekkah zaman nabi saw merupakan kota yang dikuasai oleh kafir Qurais dengan jumlah muslim sangat sedikit. Sehingga sangat riskan menjaga iman dari pengaruh jahiliyah, intimidasi dan ancaman lainnya. Sedangkan kini jumlah umat Islam di tanah air merupakan yang terbesar, sebuah kewajaran jika kita menginginkan suasana kota yang madani.

Kota kita saat ini telah berkiblat pada kemajuan yang dicapai oleh Negara-negara barat yang jelas sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Kehidupan kota yang metropolis dan hedonis didukung oleh sarana yang dibangun atas izin pihak berwenang. Pusat-pusat perbelanjaan dibangun tanpa mengindahkan tata ruang kota dan mengajak masyarakat untuk konsumerisme. Begitupun tempat-tempat hiburan seperti tidak segan untuk berdampingan dengan sekolah ataupun mesjid. Para muda-mudi bukan lagi sibuk mendatangi para ulama atau ustadz untuk mengaji atau menuntut ilmu namun sebagian waktunya dihabiskan di mall, plaza atau tempat hiburan lainnya. Para orang tuapun tidak lagi sibuk mengajak anak-anaknya untuk memakmurkan masjid namun telah disibukkan dengan tontonan TV. Sehingga jika ada ungkapan, "kalau anak ayam belum kembali ke kandang pada sore hari maka ia akan sibuk mencarinya, tetapi jika anaknya sendiri belum pulang ke rumah sampai larut malam pun masih tenang-tenang saja". Begitulah potret kota kita saat ini, potret umat Islam yang larut dalam pengaruh duniawi.

Jika kita berbicara pembangunan kota modern Islami maka beberapa abad yang lalu kita memiliki kota Bahghdad, Cordoba, Damaskus . Ketiga kota ini dikelola oleh kekhalifahan Islam. Ketiganya saat itu diakui sebagai kota termegah selama beberapa abad, saat kota-kota di eropa masih kotor, kumuh dan tidak aman. Kota-kota tersebut tertata baik sesuai dengan kebutuhan warga kota. Letak Masjid, rumah sakit, sekolah, pasar dan sarana umum lainnya mudah dijangkau. Sarana umum dibangun sesuai dengan jumlah penduduk yang bermukim. Sehingga tiap pemukiman telah dilengkapi infra struktur yang memadai. Taman-taman kota sebagai area hijau juga tak luput dari perhatian khalifah. Tentu saja pemerintah kota saat itu tidak membangun atau mengizinkan pembangunan sarana yang dapat merusak akhlak umat islam. Bahkan tidak jarang khalifah terjun langsung ke masyarakat untuk mengamati kehidupan islami masyarakat. Karena salah satu tugas pemerintah adalah melindungi akidah warganya. "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. al-A’raf : 96).

Merindukan kota santri adalah merindukan kejayaan Islam. Merindukan kota sejuk dan teduh, mendamaikan hati, tempat bermukimnya orang-orang beriman. Semoga ini bukan hanya kerinduanku. Semoga ini adalah kerinduan umat Islam. Semoga!

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Mahalnya Sekotak Susu

Minggu, 18/04/2010 08:13

Sepatu Spirit

Sabtu, 17/04/2010 06:14

Keberhasilan Yang Tertunda

Jumat, 16/04/2010 14:27

Apabila Makam Keramat Membela Diri

Jumat, 16/04/2010 07:48

Antara Dakwah Dan Lawak

Kamis, 15/04/2010 13:34

Gantungkan Cintamu Di Pohon Gembok !

Kamis, 15/04/2010 05:27

Profesor Juga Manusia

Rabu, 14/04/2010 12:36

Oase Iman Lainnya

Trending