Kamis, 6 Jumadil Awwal 1444 H / 1 Desember 2022

Suatu Saat Nanti

“Suatu saat nanti kamu akan bertemu dengan Bapakmu dan keluarga-keluarganya yang pinter mengaji dan rata-rata sekolahnya tinggi. Bagaimana kamu dapat bertemu mereka, apakah tidak malu.??!”.

Demikian kira-kira lontaran kalimat yang sering keluar dari seorang ibu kepada anaknya, Ujang Nana, ketika malas mengaji, malas sekolah, atau malas belajar di rumah. Ibu itu sangat paham dengan apa yang harus dilakukan ketika anaknya malas-malasan. Cukup mengulang kalimat demikian, dan hasilnya Ujang Nana melaksanakan, walaupun dengan langkah gontai. Sering sekali kalimat itu diucapkan terutama, pada pagi hari menjelang sekolah, menjelang adzan shubuh, adzan ashar, dan adzan maghrib, dimana setelah waktu-waktu itu merupakan jadwal Ujang Nana mengaji.

Di benak Ujang Nana, bertemu dengan seorang Bapak merupakan impian yang sangat besar. Bagaimana tidak, sejak usia 4 tahun, Bapaknya telah bercerai dengan Ibunya, dan semenjak perceraian itu, jangan kan kasih sayang Bapak dia peroleh, kabar Bapaknya pun seperti apa dia tidak pernah mengetahuinya. Kakek dan saudara-saudaranya selalu mengatakan bahwa Bapaknya tinggal di Jakarta. Apa daya, barangkali belum ada keberanian, bagi seorang anak sekecil Ujang Nana, yang baru menginjak Sekolah Dasar untuk ke Jakarta. Dia hanya menyimpannya di benak dan selalu ber-angan seperti apa yang dikatakan ibunya ‘Suatu saat nanti, aku akan bertemu dengan Bapak, supaya tidak malu, aku harus pinter -mengaji- dan -sekolah-’.

Ujang Nana terus tumbuh dengan harapan yang sama “suatu saat nanti“. Sekitar usia kelas 2 SLTP, Ujang Nana se-Keluarga berkunjung ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan kakak sepupunya. Keluarganya telah sepakat untuk sekalian mampir ke rumah Bapaknya. Jelas sekali kegembiraan Ujang Nana saat itu, karena harapan “Suatu saat nanti” akan segera menjadi “Sekarang saatnya” bertemu dengan seorang Bapak yang menjadi impiannya.

Sejak malam keberangkatan dan selama perjalanan itu, konsentrasinya terus terpusat tentang “apakah sekarang saatnya.?”. Hatinya dag-dig-dug tidak karuan, ia terus berpikir “bagaimana sikapnya ketika awal ketemu nanti.?”. Dia merasakan kecemasan yang luar biasa, tubuhnya terasa lemas, ada rasa semacam demam dadakan, dan seperti dia belum siap untuk bertemu. Dia mencoba untuk membayangkan sikapnya nanti pada pertemuan itu “mm… mungkin aku hanya berani mencium tangannya, tapi apabila dia memelukku, aku juga akan berani memeluknya, mungkin aku juga akan menangis.. entahlah, yang jelas aku rindu dan aku bahagia..!”, Ujang Nana mencoba membuat skenario.
Namun, apa yang terjadi?, dia tetap harus mengubur kembali harapan itu dan hanya dapat menyimpan angan seperti apa yang dikatakan ibunya ‘Suatu saat nanti…‘.

‘Suatu saat nanti…‘, ternyata cukup mujarab bagi Ujang Nana untuk berkembang, cukup mujarab bagi dia terutama saat-saat malas untuk mengaji dan belajar, cukup mujarab bagi dia untuk mengendalikan diri saat godaan-godaan yang menjauhkannya dari aktivitas mengaji dan sekolahnya datang. Ia tumbuh besar dengan kekuatan itu. Ujang Nana mampu menjadi seperti yang diharapkan ibunya, bisa mengaji dan menyelesaikan sekolah sampai tingkat atas, dan bahkan sampai lulus perguruan tinggi. Disela-sela liburan ketika sekolah atas maupun saat kuliah, Ia selalu berkunjung ke Rumah di jakarta, tetapi hasilnya, selalu dia harus membisikkan kedalam ‘telinga hati’-nya harap, “suatu saat nanti…”, karena Bapaknya sudah cukup lama tidak pernah pulang ke Jakarta.

Namun, buah kesabarannya membuahkan hasil, pada kunjungan ke jakarta yang kesekian kali, salah seorang kerabat Bapak-nya menceritakan, bahwa pada suatu waktu ia pernah diajak Bapaknya ke kediamannya. Kemuadian Ia mencoba menjelaskan dan menyampaikan pengalaman perjalannnya. “Bapakmu tinggal di kota ‘X’, dan saya tidak tahu persis alamatnya, tapi kamu dapat menaiki bis… menuju ke…, kemudian angkot …., menuju ke…, kemudian turun di…, kemudian tanya…, tetapi maaf saya tidak dapat mengantar”.

Informasi itu?., ya hanya informasi itu memang yang Ujang Nana dapatkan. Dengan ‘modal nekad’ atau apalah namanya, Ujang Nana bergegas ke tujuan tersebut, menelusuri rute yang didapatkannya tadi. Cukup pelik perjalanannya, dia hanya berbekal rute dan Nama Bapaknya, yang sama sekali tidak pernah terbayangkan perawakan dan raut mukanya.

Di tujuan akhir rute yang diperolehnya, Ujang Nana mulai bertanya perihal rumah tinggal Bapaknya. Dia berjalan menelusuri jalan setapak. Dari jarak tidak begitu jauh, terlihat sebuah rumah sederhana yang mungil, sesuai dengan petunjuk yang Dia dapatkan. Mungil, tetapi rumah itu terlihat cantik. Halaman depan, kiri, dan kanannya ditumbuhi beraneka ragam bunga, sangat terlihat indah. Disekitarnya ditanami pohon singkong, pisang, dan tanaman pertanian lainnya. Tidak jauh dari sana terlihat gunung yang menambah keasrian dan kesejukan daerah itu.

“Sekarang saatnya..!“, rasanya, Ujang Nana ingin beteriak dan bersungkur untuk bersujud syukur, ketika perempuan paruh baya yang menemuinya dan mengatakan bahwa, benar orang yang Dia cari tinggal di rumah itu, dan sekarang lagi dikebun bunga sebelah Selatan rumah. Sambil menunjukkan jarinya ke arah seorang lelaki yang bertopi dan duduk di saung, perempuan itu berucap “itu orangnya.!”. Ujang Nana mengeluarkan butiran bening dimatanya, dadanya terasa sesak, tetapi ia masih mampu mengatakan “Kalo saya langsung menemuinya disana tidak apa-apa bu?”. “Silahkan.!”, jawab perempuan itu.

Entah apa yang dirasakan Ujang Nana ketika itu, susah sekali untuk digambarkan. Yang jelas degup jantungnya semakin kencang dan kembali ia bingung dengan apa yang harus diperbuatnya. Apakah langsung ‘menubruk’ kemudian memeluknya, atau .., atau …, atau, dan atau ….!. Sulit sekali Dia menentukan skenario apa yang harus dilakukan. Langkah kakinya seolah lebih cepat daripada apa yang dia pikirkan. Kenyataannya, dia sudah berada di hadapan Bapak yang selama ini dirindukannya. Cukup kata salam yang dapat dia ucapkan sebagai awal pertemuannya, kemudian memperkenalkan diri “Saya Ujang Nana Pak, Saya dari kota ‘x’, dan Saya adalah anak Bapak..!”. Apa yang dilakukan Bapaknya?, Ia cuma menjawab ‘O iya, silahkan duduk sini Jang.!’. Walapun Ujang Nana, sangat merindukan untuk memeluk dan bersandar dibahu itu, tetapi ia tidak berani melakukannya. Lelaki dihadapannya tetap saja seperti orang lain yang baru dikenal, walapun selama ini dia merindukan dan memimpikannya. Pertemuan itu juga tidak berlangsung lama, hanya beberapa jam saja, karena Ujang Nana harus bergegas kembali menuju kota lain yang cukup jauh dari tempat itu.

Pertemuan kedua, ketiga, dan keempat sudah cukup membuat hubungan Bapak-Anak itu terlihat harmonis. Dari keduanya mulai berani mengungkapkan kerinduannya, saling bercerita dan berbagi, tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Ujang Nana harus meninggalkan ‘Sekarang saatnya’, karena setelah pertemuan keempat atau tidak lebih setahun dari pertemuan pertama, Bapaknya meninggal dunia. Ujang Nana mendapatkan informasi di tempatnya bekerja, dan itupun setelah bapaknya di pembaringan terakhir. Ujang Nana hanya dapat menatap gundukan tanah dan bunga taburan yang masih harum dan belum mengering, menundukkan kepala sambil berdoa, kemudian merenung sambil sesekali juga menatap kayu nisan yang tertancap di pembaringan terakhir itu.

Selamat jalan “suatu saat nanti“, karena “sekarang saatnya” untuk meneruskan dan membangun “masa depan.!” agar kudapatkan “suatu saat nanti-selanjutnya.!. amiin ya rabb.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Ada Kaum Anshor di Hamburg

Selasa, 01/12/2009 07:56

Kenikmatan Sesaat

Senin, 30/11/2009 13:52

Melawan Alam "Menembak" Salju

Senin, 30/11/2009 07:39

Lelaki Sejati : Talk Less Do More

Minggu, 29/11/2009 07:37

Momentum Berkurban

Jumat, 27/11/2009 08:47

Makan Malam Di Pinggir Istana

Kamis, 26/11/2009 14:38

Oase Iman Lainnya

Trending