Sabtu, 21 Muharram 1444 H / 20 Agustus 2022

Surat untuk Bapak

Beliau adalah sosok yang sederhana. Kesan pertama banyak orang terhadap beliau adalah sosok yang ramah terhadap sesama dan pekerja keras. Aku adalah anak laki-laki seorang dikeluarga. Beliau mengajarkan kepada ku bagaimana dapat mengarungi kehidupan dengan penuh kekuatan dan kesabaran. Pernah suatu ketika pada tahun 2001 aku mengalami kegagalan dan beliau mengajarkan bagaimana kita menyikapi kegagalan dengan penuh kesabaran dan berusaha lebih lagi agar tujuan yang dicitakan dapat tercapai.

Semenjak kecil, salah satu hal yang terlintas dikepala ku ketika pagi hari di SD tempat aku sekolah dulu. Sudah menjadi kebiasaanku datang ke sekolah pagi-pagi sekali. Pukul enam pagi aku sudah sampai sekolah, dan saat-saat setelah itu adalah banyak teman-teman yang diantar ayahnya ke sekolah. Sebagai seorang anak SD aku bermimpi dapat seperti mereka, ke sekolah diantar dengan mobil pasti enak, tapi apakata beliau ketika aku ingin diantar ke sekolah? Aku tak ingat jawaban pasti dari beliau tapi… seingat ku beliau ingin mengajarkan kepada ku bagaimana harus mandiri. Hidup dengan penuh kebersahajaan dan ketekunan.

Beliau adalah sosok yang keras nan humoris. Ia sering bercengkrama dengan ketiga cucunya yang masih lucu-lucu. Hampir setiap pagi anakku Sabila sering dijemur di bawah matahari pagi. Bercanda dengan ibu seperti sepasang kekasih yang baru saja mengucapkan janji sehidup semati. Beliau juga orang yang jarang mengeluh, ketika ia menderita pusing jarang sekali ia mengaduh. Beliau hanya diam dan istirahat di atas tempat tidur. Serba bisa. Beliau dapat melakukan hal apa saja yang berurusan dengan rumah tangga. Mulai dari mengasah pisau, memasang stop kontak, membetulkan pompa air, mobil, sampai memasak pun beliau jagonya.

Bukan hanya kehidupan duniawi saja beliau adalah orang yang patut dicontoh. Urusan akhirat pun beliau adalah suri tauladan kami di rumah. Shalat tahajjud yang tak pernah putus, shalat dhuha yang setiap hari beliau jalankan hingga lima waktu yang begitu rajin ke Mesjid. Ia adalah imam kami di rumah, pun begitu beliau adalah sosok yang dikagumi di lingkungan masyarakat kami. Kepeduliaannya terhadap lingkungan sehingga menjadikan beliau sosok yang dituakan.

Sudah seminggu lebih sejak aku menulis catatan di atas. Baru hari ini aku sanggup dan sempat untuk menulis lagi. Cerita tentang bapak memang tak kan pernah habis. 24 tahun lebih mengiringi aku hidup semenjak kecil hingga sekarang. Pendiriannya yang kuat seolah peka zaman, sangat mempengaruhi pola pikir ku sekarang. Tidak mau menyusahkan orang lain juga satu hal yang bapak junjung tinggi dalam hidup. Ia seolah orang yang dapat berdiri kokoh diantara ombak masalah kehidupan datang mendera. Keuletannya dalam menyongsong hidup patut dicontoh oleh semua anak-anaknya. Dengan segala atribut yang dimiliki bapak, kebiasaannya, becandanya, sungguh membuat kami rindu kepadanya, semua kesedihan itu hanya dapat ku obati dengan doa yang tak pernah henti ku panjatkan kehadirat Allah SWT untuk bapak.

Ia adalah tipe orang yang jarang memuji di depan anak-anaknya. Namun aku yakin di dalam hatinya yang paling dalam ia pasti bangga kepada anak-anaknya. Pujian yang jarang dilontarkan menurut pandangan ku, bapak ingin anak-anaknya kuat dalam menghadapi hidup, mau dan mampu bekerja keras sehingga tidak terlena dengan kecukupan yang kami alami sekarang. Didikannya yang cenderung konvensional namun saat ini kami rasakan begitu indah dan bermanfaat untuk mengarungi hidup di dunia dan bagaimana harus membekali diri untuk kampung akhirat. Bagaimana ia mengajarkan shalat berjamaah di Masjid, meski tak pernah sepatah kata pun terlontar dari mulutnya untuk mengajak ku shalat, bertahun-tahun ia lakukan shalat berjamaah semenjak aku di sekolah dasar sampai kemudian aku SMA, aku baru memulai mengikuti jejak bapak untuk shalat di Masjid. Contoh, adalah pil yang paling mujarab untuk mengajak orang dalam kebaikan. Dibandingkan dengan orang yang suka celoteh namun tak pernah dikatakan, namun dengan didikan contoh yang diajarkan bapak membuat aku seperti terbius dengan kebiasaannya itu.

Bapak adalah orang yang tidak bisa berbicara di depan umum. Maka tidak heran ia tidak pernah ceramah di Masjid kami. Namun ia orang yang gemar memberikan nasihat-nasihat kehidupan yang penuh makna dihadapan kami ketika waktu makan tiba.

Sampai akhir hayatnya ia tidak pernah mengeluh. Masih hangat terekam kejadian dua minggu lalu, tepatnya pada tanggal 21 Agustus 2008. Aku pulang di rumah sehabis dari kantor sekitar pukul 6 sore. Rutinitas ku masih seperti biasa, pulang kerja langsung shalat berjamaah di Masjid dengan bapak ada diantara jamaah tentunya. Setelah itu aku pulang ke rumah dan waktu berjalan cepat sampai waktu Isya tiba. Kali ini bapak yang menjadi imam. Tak ada perasaan menggelayut waktu itu. Semua berjalan seperti biasanya, sampai ketika kami memutuskan untuk makan malam di rumah bapak, kebetulan jarak rumah ku dengan orang tua hanya beberapa meter saja, ia berkata “makan aja duluan nanti bapak nyusul, dada bapak agak sesak nih”, begitulah gumamnya, kami melanjutkan makan malam bersama.

Ketika makan selesai kami mengunjungi bapak di kamarnya, ternyata ia kegerahan, aku lap keringatnya yang membasahi sekujur tubuhnya. Kakak ku mengeluarkan angin dengan cara mengkop badannya. Tak lama kemudian ia sendawa. Senang rasanya mendengar angin yang keluar, akhirnya aku putuskan untuk pulang ke rumah ku.

Ketika aku ingin ganti baju, terdengar suara teriakan ibu yang membuat jantung ku berdetak begitu kencang, aku lari menghampiri rumah dan mendapati bapak sudah tak sadarkan diri, kakak kudapati telah menangis, namun aku tahu peristiwa itu adalah peristiwa malaikat pencabut nyawa yang sedang memisahkan ruh bapak dari badannya, tak ada perasaan sedih yang menghinggapi aku waktu itu, yang ada adalah kewajiban seorang anak yang harus mentalkin kalimat Laa ilaha Illallah Muhammadarrasulullah, tergerak bibir bapak mengikuti ajaran ku…………

Ternyata itu adalah momen yang paling mengharu biru perasaan ku selama aku hidup.. Bapak meninggal di atas pangkuan ku, peristiwa yang sangat mengetuk keimananku, terbayang ketika nanti aku akan mengalaminya. Engkau telah menunjukkan kekuasaan-Mu padaku hari ini, bahwasanya setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati (QS. Al-Ankabut:57)

Ya Rab ampuni dosa kami, dan golongkanlah kami termasuk orang-orang yang beruntung hidup di dunia…

Kami akan terus mendoakan mu pak, sampai ketemu di akhirat…

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Menikah Dulu, Baru Pacaran

Selasa, 03/02/2009 13:36

Kematian Seorang Sahabat

Selasa, 03/02/2009 08:07

Anak adalah titipan dari Allah

Senin, 02/02/2009 14:17

Membeli Kebun di Surga

Sabtu, 31/01/2009 10:09

Surat Cendil Untuk Bapak

Jumat, 30/01/2009 14:41

Oase Iman Lainnya

Trending