Ahad, 5 Rabiul Awwal 1444 H / 2 Oktober 2022

Tak Pernah Terhenti

Lelaki tua itu berjalan melewati terowongan, terus menerobos teriknya matahari siang menyebrangi jalan raya. Dengan pundaknya dan bantuan sepotong kayu, ia memikul dagangannya. Terdiri dari berbagai macam mainan kertas untuk anak perempuan, mobil-mobilan, pistol-pistolan, dilengkapi ’kaleng kerupuk’ tapi mungkin bukan berisi kerupuk, bisa jadi itu adalah gulali. Lelaki tua itu tampaknya seorang penjual mainan dan gulali untuk anak-anak SD. Seperti siang ini pun, beliau akan beranjak menuju SD lain sebelum waktu sekolah usai.

Ritual yang sama dari hari ke hari, mulai Senin sampai Sabtu. Setidaknya beliau masih memiliki hari Ahad untuk sekadar menarik napas atau pun bercanda ria dengan cucu-cucunya. Dugaanku, dengan usia sekitar 65-70 tahun itu, pastinya banyak cucu di rumahnya. Dengan balutan baju sederhana dan alas kaki sendal jepit, serta menelisik lebih dalam ke dalam gesture beliau maka akan terasa beratnya hidup yang masih harus beliau tanggung.

Jika beliau masih memiliki isteri, mungkin beratnya beban ini masih bisa dibagi. Entah dengan bercerita atau sekadar mendapatkan hangatnya cium tangan dari isteri tercinta. Jika wanita itu sudah tidak ada, setidaknya ia memiliki cucu. Mungkin beliau memiliki anak dan telah menikah. Dilihat dari latar belakang ekonomi beliau, bisa jadi anak beserta menantu-nya tinggal bersama beliau dan cucu-cucunya bisa memberikan kehangatan dan canda tawa.

Pilihan untuk tetap menggeluti pekerjaan beliau itu, tampaknya sangat berat jika dibandingkan dengan usia yang ditandai dengan jumlah rambut putih beliau. Pastinya ada hal yang sangat besar yang masih harus beliau tanggung, entah apa itu. Padahal dengan kondisi seperti itu seharusnya hidup beliau sudah ditanggung oleh anaknya.

Dengan berjalannya waktu dan umur yang terus habis, seharusnya beliau memiliki lebih banyak waktu untuk beristirahat dan ’memperbaiki’ hidupnya. Tapi apa mau dikata, beban ekonomi itu masih harus ditanggung. Sehingga tidak ada pilihan lain bagi lelaki tua itu selain menjadi pedagang mainan keliling SD.

Semangatnya untuk terus berjuang membuncah meski secara kasat mata terlihat bahwa ia telah letih. Keberanian untuk memilih jalan hidup sebagai pedagang mainan keliling menunjukkan bahwa beliau ingin dapat terus memberi, setidaknya untuk keluarganya. Meski di saat yang lain telah terhenti, beliau masih melaju dengan gagah menyusuri jalan raya melawan polusi kendaraan dan teriknya matahari.

Namun, teriknya matahari telah menjadi kawannya, bisingnya kota siang ini telah menjadi rumah di hatinya, memori dan kerinduan atas senyuman hangat isteri telah menjadi gelora di sanubarinya dan membisikkan kata semangat setiap detiknya. Wajah teduhnya menunjukkan bahwa seakan kehidupan kota ini selalu indah di mata beliau. Dan bahwa ia tak akan terhenti melaju untuk selamanya, hingga jiwa dipanggil oleh Sang Khalik. Beliau telah menyadarkan bahwa hanya bagi mereka yang tak pernah terhenti-lah Allah menyiapkan balasan yang setimpal. Semoga Allah meridhoi hidupmu, Pak…

[email protected] Com

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Silaturahim Penuh Makna

Senin, 23/04/2007 11:39

Pelajaran Berinfak

Sabtu, 21/04/2007 08:06

Pohon Ketenangan

Jumat, 20/04/2007 14:54

Setitik Debu

Jumat, 20/04/2007 09:34

Susahnya Konsisten

Kamis, 19/04/2007 09:32

Salam Berbuah Cinta

Rabu, 18/04/2007 13:14

Menyikapi Pemberian

Selasa, 17/04/2007 17:47

Oase Iman Lainnya

Trending