Jum'at, 13 Muharram 1444 H / 12 Agustus 2022

Tentang Mantel dan Hujan Deras Sore itu

Sejak siang langit memang tak cerah. Mendung beberapa hari ini menggelayuti Aulia dan sekitarnya. Tak heran bila kami sering menyalakan lampu agar mata tidak terlalu bekerja keras di depan monitor. Beberapa kali saya melihat keluar. Hujan sebentar lagi sepertinya turun. Saya teringat mantel yang tertinggal di rumah. Mantel pemberian, Emi, adik sekamar di pondok dulu, saat saya milad.

Mantel itu baru saya gunakan tiga kali: saat harus menemui adik-adik di kampus seberang, saat out bond bersama teman-teman, dan saat hujan dua hari yang lalu. Dulu, sederas apapun hujan, saya enggan untuk memakai mantel saat mengendarai sepeda motor. Ribet, pikir saya. Toh, rok dan kaos kaki juga basah dan harus segera dicuci begitu sampai rumah. Ternyata kini pikiran saya berubah. Ya! Sejak ada mujahid kecil yang menemani ke mana pun saya pergi.

Menjelang Ashar, hujan mulai turun. Padahal, saya biasa pulang segera setelah shalat Ashar. Ada yang menawarkan boncengan gratis tapi saya tolak karena ada acara selepas ashar. Memang tidak lucu kalau nekad menuju tempat acara, sementara saya basah kuyup. Maka, saya memutuskan untuk menunggu barang sejenak.

“Betty mau basah-basah juga?” tanya Ustadz Badawi, pimpinan salah satu penerbitan di Solo (Aulia Press), ketika melihat saya berkemas.
“Nunggu sebentar lagi, Ustadz.”
Nggak bawa mantel?”
“Ketinggalan.”
Oo… Jadi malu. Teringat dulu saat mendapat pertanyaan yang sama, saya memberikan jawaban, “Tidak terbiasa memakai mantel, Ustadz.”
Jawaban itu membuat saya ditegur, “Kebiasaan yang tidak perlu dibiasakan, Bet.”

Begitulah. Tak lama berselang, Izzati, salah seorang putri Ustadz Badawi, membawakan mantel untuk saya sambil hujan-hujanan dengan sepeda mininya.
“’Ammah Betty…” gadis kecil itu mengulurkan mantel begitu saja, lantas kembali bermain hujan-hujanan.

Setelah ada mantel di tangan, saya berniat segera meluncur ke tempat acara. Namun, kilat dan petir yang beberapa kali menyambar membuat saya urung. Tak ada salahnya menunggu barang beberapa menit. Entahlah… tak biasanya saya khawatir dan menunda keberangkatan ‘hanya’ karena kilat dan petir. Saya memutuskan untuk menunggu sampai hujan yang mengguyur itu menjadi gerimis kecil. Setidaknya saya berharap percik-percik yang turun itu tidak terasa sakit begitu menetes di muka.

Hampir setengah jam menunggu, hujan tak reda. Prediksi saya: hujan akan tetap turun dalam waktu yang lama. Mau tak mau, saya pun segera beranjak pulang.

“Hujan juga tentara Allah dan tentara Allah tidak akan saling menyakiti, bukan?”
Terngiang kembali kata-kata dari seorang senior yang menyemangati adik-adiknya untuk tidak menjadikan hujan sebagai alasan izin dalam sebuah pertemuan. Ah, tapi kali ini kondisinya sungguh berbeda. Saya memutuskan untuk tidak datang (izin) dan langsung pulang ke Karanganyar.

Hujan begitu derasnya hingga jalanan yang saya lewati menjelma menjadi sungai-sungai kecil. Cuaca yang gelap dan ketergesaan para pengguna jalan menjadikan keadaan semakin ruwet. Saya mengurangi kecepatan dan berhati-hati melewati jalanan yang licin dan tergenang air. Perjalanan 22 km sore itu jadi terasa semakin panjang. Sepanjang jalan tak henti-hentinya saya berdoa agar hujan tidak disertai angin. Biarlah ia turun dengan deras. Yang penting tidak ada yang roboh dan menghalangi jalan.

Menjelang Maghrib, saya sampai di rumah. Basah juga meski sudah memakai mantel. Namun, Alhamdulillah, tidak basah kuyup seperti biasanya. Saya kembali teringat Emi yang menghadiahi saya mantel. Sungguh, kini saya merasa pemberiannya begitu berguna. Akhirnya saya (kembali) tersadar betapa hadiah yang diberikan seorang saudara akan semakin menambah kedekatan dan kasih sayang. Ya, di musim hujan ini, mantel itu akan selalu mengingatkan saya padanya. Dan kini saya merindukannya. Semoga Allah menjaganya dalam bentang luas kasih sayang-Nya.

Bila ada rindu..maka berdoalah pada-Nya
Semoga kerinduan itu.. akan banyak menolong
Saat dirimu jauh dari tangan-tangan hamba-Nya… (Suara Persaudaraan).

Lalung Permai,010209: 17:03
Saat rindu Ar-Royyan: semoga banjir tak kembali menerjang.

http://fathimatulazizah.blogspot.com

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Penyakitku, Anugrah Bagiku

Rabu, 18/11/2009 08:04

Takut Kiamat? Bohong!

Selasa, 17/11/2009 14:12

Betapa Allah Sayang pada Diriku

Selasa, 17/11/2009 07:42

Perjalanan Tsuruga yang Menegangkan

Senin, 16/11/2009 13:58

Sayang Iman Tak Diwariskan

Minggu, 15/11/2009 08:01

Kegalauan Seorang Ayah

Sabtu, 14/11/2009 06:03

Karena Kita adalah Gatotkaca

Jumat, 13/11/2009 13:55

Oase Iman Lainnya

Trending