Jum'at, 10 Rabiul Awwal 1444 H / 7 Oktober 2022

Tetangga Saya, Guru Editor Menulis Saya!


Cerita ini berawal sejak saya masih duduk dibangku SD. Jika mengingat cerita hal itu saya jadi diingatkan kembali dengan keadaan saya sekarang ini, Tentunya juga mengingatkan saya kepada tetangga saya saat itu—dan itu dulu. Tapi walau sudah usang dimakan waktu tetapi saya selalu mengingatkan hal itu.

Ya, cerita kenangan saya kepada tetangga saya—yang bersebelahan dengan rumah saya saat itu. Terlebih hal itu sama saja mengingatkan diri saya sekarang ini.

Mungkin kalau saya me-flashback-an hal itu maka saya harus kembali pada masa-masa SD saya dulu yang—terjadi pada tahun 87 sampai tahun 1992. Dialah, salah satu orang (baca:tetangga) saya yang mengetahui hobi dan cita-cita saya saat itu. Apalagi saat saya disuruh oleh orangtua saya untuk membelikan bumbu dapur atau apa saja di warung jika ibu saya sedang kekurangan bahan untuk mengolah masakan saat itu. Sayalah yang diperintahkan ibu saya saat itu ke warung. Saya yang membeli kekurangan bumbu dapur masakan itu.

”Tolong belikan cabe di warung depan!”

”Kurang terasi dan bawang putih nih tolong belikan lagi, ya”

Itulah yang disampaikan oleh ibu saya. Saya pun menurutinya. Maklumlah saat itu saya masih duduk di bangku SD jadi saya mematuhi perintahnya jika ibu saya memerintahkan saya untuk membeli kekurangan untuk bahan masakan. Tetapi dibalik itu semua saya mendapatkan hikmah yang menurut saya sangat-sangat saya rasakan dampaknya sampai sekarang—hingga saya bisa seperti saat ini. Menjadi seorang penulis!

Dalam saya membelikan bahan dapur yang kekurangan itulah saya selalu memanfa’atkan wadahnya (baca: pembungkusnya dari kertas bekas). Mungkin bagi kita apalah guna dan bedanya sebuah sisa bekas pembungkus bumbu dapur dengan sampah yang terbuang—sama-sama dipandang tak bermanfaat. Dibuang saja!

Sungguh disayangkan bila hal itu terjadi. Lain hal dengan saya. Sebab bagi saya sisa pembungkus bumbu dapur itu adalah ”harta karun” bagi saya hingga saya bisa sampai sekarang ini. Itulah yang saya rasakan dengan sesuatu hal sepele—menurut kita tak ada gunanya. Karena dengan pembungkus sisa bumbu dapur saya bisa merangkai kata-kata seperti sekarang ini dan menggeluti ”dunia” saya sampai saat ini. Dan itu justru tidak terlepas dari tetangga saya tentunya.

Saya baca sisa pembungkus bumbu dapur itu satu-persatu saat sisa bumbu dapur itu sudah terambil atau sudah digunakan oleh ibu saya saat itu. Saya baca pembungkus bumbu itu dengan seksama dan penuh semangat. Terus saya kembali tulis di buku tulis. Lalu bila ada kata-kata yang bagus dan juga bemanfaat saya baca berulang-ulang. Apalagi bila saya kurang paham dan ada bahasa asingnya (baca: Bahasa Inggrisnya) disinilah faktor peran tetangga saya yang membantu saya saat itu.

Jadi saya tak menyangsikan bila tetangga saya itu sangat mengetahui tentang hobi dan bakat saya yang masih SD itu. Suka membaca dan menulis. Hingga saya menjadikan tetangga saya menjadi itu ”sasaran empuk” saya. Menjadikan dirinya ”alih bahasa” atau ”editor dadakan” saya saat itu. Maklum saat itu saya masih SD tak tahu apa-apa. Apalagi bahasa asing! Kebetulan saat itu tetangga saya duduk di bangku kuliah jadi saya bisa memanfaatkan dirinya. Ya, sekali-sekali saya juga ”menyuap”nya dengan buah tangan saya. Walau akhirnya di tolaknya secara baik-baik oleh tetangga saya. Semata-mata tetangga saya itu hanya menolong diri saya saat itu. Tak lebih!

Semua hampir saya lakukan tiap kali jika saya diperitahkan untuk membeli bumbu dapur di warung belakang langganan ibu saya. Pun pula saya tanyakan pada tetangga saya itu yang menjadi alih bahasa dan editor dadakan saya itu jika saya benar-benar ada kalimat yang tak saya pahami. Dan tetangga saya itu mau dan mengerti ”kebutuhan dadakan” saya saat itu. Minta dialih bahasakan! Ya, daripada saya tidak tahu dan tidak mengerti lebih saya tanyakan kepadanya ahlinya daripada saya sok tahu, sok pintar dan tidak mengerti kepadanya. Kalau saya malu bertanya nanti saya sesat dijalan nantinya. Pikir saya saat itu Dan saya pun tak mau seperti itu.

Satu hal lagi yang sangat saya rasakan dalam apa yang saya alami selama ini saya bisa mendapatkan manfaatnya saat itu! Menuai benih. Bisa menulis dan mengeluti dunia saya saat ini. Entah apa jadinya saya jika saya tak mengalami hal berharga itu semua. Saya tak bisa memprediksi apalagi mengiria-ngira. Sangat begitu mengharu biru. Entahlah.

Hanya dari sisa bungkus bumbu dapur itu saya bisa sampai menjadi sekarang! Bisa merangkai kata-kata dan menggeluti dunia tulis menulis. Hingga dari sisa-sisa bungkus bumbu dapur itu (lagi) saya bisa memenangkan lomba penulisan. Ya walau hanya juara harapan tapi bagi saya suatu kebanggaan untuk saya. Apalagi saya masih dikatakan penulis amatiran—masih harus banyak belajar, belajar dan belajar dari orang yang sudah lama berkecimpung di dunia ini. Dunia yang penuh warna-warni cerita maupun karya-karya orang besar lainnya sebagai tambahan untuk saya belajar di dalam dunia ilmu menulis saya yang masih minim ini. Dan dari itulah saya sangat merasakan dampaknya itu semua. Karena semua itu berawal dari kebaikan tetangga saya yang mau sudi menjadi editor dadakan saya. Hingga saya menjadi seorang penulis.*(fy)

Ulujami, Maret 2009

http://sebuahrisalah.multiply.com
fb:[email protected]

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Islamic Quotes #93

Jumat, 09/09/2011 09:45

Momentum Berkurban

Jumat, 27/11/2009 08:47

Kuretase

Rabu, 30/12/2009 16:38

Menuai Hasil Kelelahan

Senin, 16/07/2007 16:18

Untaian Kasihnya : Surat Untuk Ibu

Jumat, 03/01/2014 07:44

Baca Juga

Memeluk Bahagia

Sabtu, 11/04/2009 08:01

Episode Sakura

Jumat, 10/04/2009 09:49

Sebuah Kisah Dari Kampung Jilbab

Kamis, 09/04/2009 06:37

I Don't Need It

Rabu, 08/04/2009 13:25

Pilihlah Karena Agamanya

Selasa, 07/04/2009 13:48

Oase Iman Lainnya

Trending