Rabu, 1 Rabiul Awwal 1444 H / 28 September 2022

Untaian Kasihnya : Surat Untuk Ibu

ibu33Oleh: Jihan Suci Weldia Waty

Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta – Penerbitan 3

­­            Pagi berganti senja. Hingga akhirnya kelam kembali lagi pada awal permulaan hari. Namun, air mukanya tetap tak berubah. Terlihat sangat tulus. Tulus sekali. Setiap pagi, Beliau sudah siaga dalam segala hal. Mempersiapkan sesuatu mulai dari yang kecil sampai yang besar. Dari ringan sampai yang berat. Sesekali, disekanya keringat yang bercucuran dari dahinya.

Ia juga terlihat kuat daripada aku. Itu terlihat dari keteguhannya dalam mengemban amanah untuk terus membuatku bahagia. Tapi di sisi lain, badannya yang dulu tegap, kini terlihat tak lagi berani. Kekuatannya pun mulai melemah karena terlalu banyak aktifitas yang tak seharusnya ia kerjakan seorang diri.  Pendengarannya mulai melemah lantaran dimakan usia. Pandangannya sudah mulai kabur sehingga Beliau sering kali memintaku untuk menyebutkan hal yang kadang tak jelas terlihat olehnya. Beberapa waktu, Beliau pernah memintaku untuk membantunya memasukkan seutas benang kedalam lubang jarum. “Nak, bisakah kamu membantuku sebentar?”, begitu pintanya padaku. Dengan senang hati, langsung kukerjakan saja permintaannya itu. Walaupun aku tidak selihai Beliau yang biasanya melakukan hal itu sendiri.

Ia adalah Ibuku. Ibuku yang sangat aku sayangi dan aku cintai. Ibu yang kasih sayangnya tak berhujung walau kau coba ukur dari ujung mana pun. Wanita yang selalu sempat untuk meluangkan sebagian waktunya untuk melihat tumbuh kembang putrinya. Wanita yang tak kenal waktu, dan tak kenal lelah. Apakah ia sedang dilanda keletihan  ataupun pekerjaan yang menuntutnya untuk segera ia selesaikan. Namun, ia tinggalkan  semua tugasnya demi Aku. Kemudian, Aku menjulukinya dengan “Bidadari Tak Bersayap”.

Pernah suatu hari, aku jatuh sakit. Hingga akhirnya, Ibu turun tangan untuk mengurusi aku yang kala itu tak kuasa untuk banyak bergerak. Tak kusangka, sakit yang kuderita itu memakan waktu cukup lama. Aku sadar, sakit yang kuderita kala itu membutuhkan banyak bantuan dari orang sekitar. Aku memang sengaja tidak ingin merepotkan Ibu. Lantaran Ibu sudah disibuki dengan pekerjaannya. Namun, Ibu bersikeras agar bisa selalu membantuku dan selalu berada disampingku. “Kamu butuh apa, nak? Sini Ibu bantu,” begitu tanyanya padaku. Pada malam saat itu, aku memang selalu tidur dengan nyenyaknya. Semua itu karena Ibu. Ibu yang memfasilitasiku dengan layanan 24 jam nonstop. Mengelabuhi aku untuk mimpi indah dengan belaian tangannya. Sungguh luar biasa. Hingga akhirnya, Ibu keletihan lantaran tidak tidur untuk menjagaku setiap malam.

Sebagaimana aku lihai menyembunyikan sesuatu, namun Ibu selalu tau apa yang aku butuhkan. Padahal, aku sudah berusaha untuk mampu dan kuat. Aku memang tak bisa lepas dari perhatianmu. Aku butuh dirimu, Ibu.

Berpuluh-puluh tahun jarak umur antara aku dan Ibu. Zaman yang dirasakannya pun sudah pasti berbeda. Aku yang kadang berpikiran bahwa Ibu tidak mengerti apa yang aku rasakan, ternyata meleset dan salah besar. Setiap ada masalah menghampiriku, aku sengaja untuk tidak menceritakannya pada Ibu. Namun, Ibu tau yang sebenarnya. Kemudian, Ibu mulai menebak-nebak apa yang terjadi padaku. Setelahnya, Ibu pasti langsung kembali menyemangatiku dengan kata-kata pembangkit semangatnya.

Aku mulai berpikir, perkataan Ibu memang ada benarnya juga. Itu karena Ibu pastilah sudah merasakan hal-hal yang baru saja aku rasakan. Walaupun bukan pada zaman dan waktu yang sama, namun sesungguhnya roda itu berputar. Dahulu bisa jadi sekarang, sekarang juga bisa jadi dahulu. Karena, tak ada kehidupan yang abadi.

Di sela kesibukannya, tak terbayang pula olehku, bagaimana lelahnya Ibu menyelesaikan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya dengan seorang diri. Setelah menyapu lantai, kemudian mengepel. Siang harinya, Ibu mencuci baju kemudian menyetrika. Jika tidak, Ibu memasak terlebih dahulu yang nantinya akan disajikan untuk makan siang hingga malam. Tak terbayang bagaimana lelahnya tubuh Ibu. Bagaimana pusingnya kepala Ibu karena pekerjaannya yang begitu banyak.

Sangat tidak tahu diri memang, jika aku yang hanya membantu Ibu sebentar dan sedikit ini, mengeluh akan hal itu. Mengeluh atas lelah yang kurasakan setelah menyelesaikan pekerjaan yang hanya sedikit itu. Berkacalah, wahai diri. Pekerjaanku belum ada apa-apanya! Aku masih bisa tidur nyenyak kala Ibu sudah sibuk menyiapkan segala keperluan untuk pagi hari. Setelah pulang kuliah, kutemukan raut muka Ibu yang menggambarkan keletihan luar biasa karena Ibu harus mencuci baju kami sekeluarga. Pada malam harinya, aku pun bisa beristirahat lebih dulu, sedangkan Ibu masih berjuang melawan kantuk, untuk segera menyelesaikan  setumpuk pakaian yang harus ia rapikan. Lalu, kapan Ibu bisa beristirahat? Melepas lelah yang selalu ia rasakan setiap waktu?

Ya Allah, begitu banyak pengorbanan yang telah Ibu lakukan. Pengorbanan yang tak cukup untuk kuhitung dalam jariku ini. Mulai dari mengandungku sembilan bulan lamanya. Kemudian melahirkan dan mengasuhku dalam asuhan yang religious hingga 18 tahun perjalanan hidupku. Perjalanan penuh lika-liku yang tak tiada habisnya.

Terima kasih wahai Ibuku. Wanita sholihah yang penuh sabar dan senyum ramah. Wanita nomer satu dalam hidupku. Maaf jikalau aku selalu merepotkan dan memenuhi ruang otakmu dengan segala tingkah laku yang memang tidak kau ajarkan padaku. Tingkah laku yang menyimpang dari ajaranNya. Maafkan aku, belum bisa menjadi pribadi berkarakter yang kau inginkan. Doakan aku, agar bisa memenuhi keinginanmu, yang tak lain adalah menjadi anak yang berguna bagi semua orang. Maafkan aku, Ibu..

Aku selalu berdoa untukmu Ibu, agar Dia selalu melimpahkan kesehatan kepadamu, memberikan kesenangan serta kemudahan dalam mengarungi samudera kehidupan. Agar kau selalu berada dalam lindungan mahabbahNya serta Kau beri ampunan dosa pada Ibuku ini, Ya Allah Ya Ghofar. Aku mohon, agar kau mudahkan segala urusannya, berikan kesabaran yang luar biasa agar ia senantiasa bisa merawat dan membimbingku untuk lebih baik lagi. Jangan kau putuskan untaian kasihMu pada Ibu. Melalui Ibu pula, aku bisa terus bersyukur dan patuh padaMu. Karena ridhoMu ada dibawah telapak kaki Ibu.

Ya Allah Ya Mujib, ampunilah dosa Ibuku, dan sayangilah  ia, sebagaimana ia menyayangiku sejak aku kecil. Aamiin. :’)

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Aku Tak Sanggup…

Kamis, 02/01/2014 07:32

Renungan Sepuluh Tahun

Rabu, 01/01/2014 13:42

Terselip Lelah di Balik Jenaka

Selasa, 31/12/2013 08:45

Cinta Pertama, Bidadari Dunia

Senin, 30/12/2013 14:13

Dicintai Anak Yatim

Sabtu, 28/12/2013 10:47

Memeluk Rindu (Ibuku)

Senin, 23/12/2013 09:00

Duta Islam

Minggu, 22/12/2013 09:50

Oase Iman Lainnya

Trending