Sabtu, 14 Muharram 1444 H / 13 Agustus 2022

Untuk Wanita Turki dengan Kerudung di Kepala

“In your country, can you wear your veil in university?” Tanya seorang gadis Turki kepada saya di suatu siang.

Siang itu dia berdiri berdampingan dengan seorang gadis lainnya. Keduanya mengenakan kerudung sutera warna-warni.

“Yes… I can wear this anywhere I want.” Jawab saya

“We couldn’t wear that in university.” Kata dia lagi.

“I know… and for me that’s ridiculous. So you take it off at university?” Tanyaku

“Yes…” Jawabnya pelan

“And after that we wear wigs.” Lanjutnya

Saya pun tersenyum lemah.

Siang itu saya merasa sangat beruntung karena saya tinggal di sebuah negara dimana saya bebas memakai kerudung tanpa harus merasa terganggu atau was was dengan aturan yang ditetapkan pemerintah. Saya bisa merasa nyaman dan aman dalam melaksanakan kewajiban saya sebagai seorang muslim untuk menutup aurat dengan berkerudung yang insya allah saya yakini benar di dalam hati nurani saya.

Selama ini banyak hal yang sangat biasa dan sehari-hari yang terjadi di kehidupan saya disini yang saya manfaatkan dan saya anggap biasa-biasa saja. Contohnya ya persoalan kerudung itu tadi. Di Indonesia, siapapun bisa memakai kerudung dimanapun dan kapanpun dia mau. Di sekolah, di kampus, di kantor pemerintahan, di pusat perbelanjaan, dimanapun. Tapi di Turki, wanita dilarang memakai kerudung di universitas padahal negara tersebut 98 % penduduknya adalah muslim.

Sungguh peraturan yang miris dan sama sekali tidak menghargai hak asasi manusia (menurut saya pribadi), dimana keinginan dan keyakinan seseorang demi menjalankan secara konsisten agama yang diyakininya dipatahkan begitu saja oleh hukum.

Sejak tahun 1980-an pemerintah Turki melarang warganya untuk mengenakan jilbab di universitas. Walaupun tahun lalu, tepatnya pada tanggal 28 Februari 2008 Presiden Turki Abdullah Gül menyatakan dengan tegas akan merevisi UU yang melarang warganya untuk mengenakan jilbab di universitas swasta maupun negeri, hingga pada akhirnya beberapa waktu selanjutnya UU itu benar-benar ditetapkan. Namun sayang pada bulan Juni Mahkamah Konstitusi Turki akhirnya membatalkan revisi UU tentang penggunaan jilbab ini. Kalangan politik sekuler Turki menuding AKP pimpinan Erdogan ingin menggiring Turki menjadi sebuah negara Islam dengan agenda pertamanya adalah meloloskan UU revisi penggunaan jilbab.

Larangan ini menyebabkan ribuan wanita tidak bisa mengikuti pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan di perguruan tinggi. Saya ingat waktu saya mengadakan presentasi di sebuah tempat kursus bahasa inggris, saya sangat terkejut dengan banyaknya wanita yang mengenakan jilbab di kelas tersebut. Maka dalam sesi perkenalan saya mengajukan sebuah pertanyaan kepada mereka:

“Apa yang kalian lakukan dengan jilbab itu saat kalian berada di kampus?”

Beberapa menjawab

“Saya mengikuti distant learning, jadi saya tidak perlu ke kampus dan mencopot jilbab saya”

Sedangkan kebanyakan dari mereka menjawab

“Kami tidak melanjutkan pendidikan kami karena pemerintah tidak mengizinkan kami memakai jilbab di kampus.”

Dan kenyataan itu mengiris nurani saya.

Mulai dari sanalah saya tak hentinya bersyukur atas segala kebebasan yang diberikan Allah dan negara ini kepada saya untuk melaksanakan perintah-Nya dengan sebaik-baiknya. Saya bersyukur atas kesempatan, atas penghargaan terhadap hak saya sebagai manusia, sebagai wanita dan sebagai seorang muslimah untuk memakai apapun yang saya mau di atas kepala saya, dan bersyukur atas penghargaan terhadap sebuah pilihan yang didasari oleh keyakinan yang kuat dari hati nurani yang paling dalam.

Sebuah hal yang sangat sehari-hari dan seringkali kita manfaatkan keadaannya inilah yang sekarang sedang diperjuangkan oleh wanita-wanita berjilbab di Turki. Sebuah hal yang sering kali kita lupakan dan tidak kita syukuri keberadaannya.

Saat ini, saat saya sedang duduk dan menulis semua ini, saat saya sesekali menyentuh kain yang ada di kepala saya. Saya selalu ingat gadis Turki yang siang itu menyapa saya. Lalu ada sebersit rasa sakit hati saat saya ingat bagaimana dia dan gadis-gadis yang lain harus menahan rasa yang bergemuruh dalam dada mereka saat mereka diharuskan membuka jilbab di pintu masuk kampus.

For all Turkish girls with veil on their heads…

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Ulama di Simpang Jalan

Jumat, 27/11/2020 15:00

Negeri Para Penjahat dan Koruptor

Selasa, 30/03/2010 13:42

Jadilah ‘Buah Utrujah’

Jumat, 04/04/2014 08:43

Apa itu Mazi?

Kamis, 22/06/2006 11:51

Belajar Tawakal Kepada Putri 10 Tahun

Minggu, 06/09/2020 01:17

Terimakasih Ibu

Minggu, 04/03/2007 08:18

Keramik Retak? Tidak Masalah..

Senin, 10/12/2012 17:26

Baca Juga

Tujuh Tahun Bersamamu

Minggu, 20/12/2009 09:11

Janda Muda Yang Luar Biasa

Jumat, 18/12/2009 08:19

Aku Iri Padamu, Ukhti

Kamis, 17/12/2009 14:02

Air Mata Penyesalan

Kamis, 17/12/2009 07:42

Oase Iman Lainnya

Trending