Kamis, 9 Rabiul Awwal 1444 H / 6 Oktober 2022

Yang Terbaik

Awalnya sih teman biasa, lebih 5 tahun kami berteman. Bahkan kami satu tempat bekerja dan kos, memang, tempat kos kami untuk pria dan wanita. Selama itu pun dia tahu, dengan siapa saja aku punya teman dekat, bahkan salah satu teman dekatku adalah temannya juga.

Namun siapa sangka, kami sendiri tidak menyangka, apalagi teman kantor kami, akhirnya kami menikah, hanya dengan pendekatan yang lebih dekat beberapa bulan saja.

Memang, kalau sudah jodoh tak akan lari kemana. Meskipun, mencari kemana pun, sejauh apapun, kalau memang jodoh, pasti didekatkanNya.

Begitu pun dengan aku, aku berusaha mencari seseorang yang menurutku terbaik, hingga aku mencari kemana pun. Ketemu? Ya…aku menemukan yang aku pikir terbaik. Sosok yang sangat aku dambakan, impikan sejak aku remaja. Sungguh aku bahagia sekali waktu itu, akhirnya aku menemukan apa yang aku cari.

Akhirnya, kami pun sepakat untuk melanjutkan ke pernikahan. Pertemuan dengan keluargaku pun terjadilah. Intinya, dia meminta izin keluargaku untuk meminangku. Keluargaku pun setuju, apalagi nilai plus yang dia miliki.

Pekerjaan mapan, keluarga berada, penampilan pun meyakinkan. Aku tersenyum bahagia, aku pikir akhirnya aku mendapatkan yang terbaik.

Namun, hanya selang waktu satu bulan dari pertemuan dengan keluargaku, tiba-tiba saja dia memutuskan silaturahmi denganku. Dengan alasan, dia akan pulang ke rumah orang tuanya di luar pulau, untuk menjaga ibunya. Dan seribu alasan, lainnya.

Hancur, pedih rasanya, apalagi rasa malu yang harus aku tanggung di hadapan keluargaku. Apa yang akan aku sampaikan kepada mereka? Aku tidak kuat rasanya menyampaikan kepada mereka bahwa dia pergi meninggalkan aku.

Aku bingung, apa yang akan aku lakukan, penjelasan yang aku harapkan darinya tak kunjung ada. Shalat malam aku dirikan untuk ketenangan hati ini, aku selipkan harapan untuk dipertemukan dengan dia kembali.

Allah tahu apa yang terbaik untuk aku. Hanya selang beberapa bulan saja perpisahan itu, akhirnya aku menikah. Awalnya memang bukan cinta atau sayang. Awalnya kami hanya teman biasa saja, sangat biasa.

Hanya dengan cinta Allah kepada kami, akhirnya kami menikah setelah apa yang terjadi kepada aku dan suami dalam pencarian kami.

Dan Allah Maha Benar. Pilihannya tak salah, pilihan untuk aku adalah yang terbaik menurutNya. Kami pun bahagia dengan pernikahan kami. Apalagi kami diberi titipan olehNya, putra kecil kami yang lucu, Muhammad Daffa Ma’ruf Saputra.
Terima Kasih Ya Allah, sujud syukur kami kepadaMu Ya Allah…

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Mental Impact

Selasa, 29/09/2009 12:29

Isteri Haidh, Bolehkan Anal Seks?

Rabu, 25/04/2007 16:33

Ahok Fasis ? Nggak Lah !

Minggu, 24/07/2016 09:19

Hukum Penggalangan Dana Keluarga

Rabu, 26/05/2010 07:50

Anak Kecil Masuk Neraka?

Minggu, 28/09/2014 09:12

Baca Juga

Memilah Dan Memilih Sekolah

Selasa, 22/06/2010 07:46

Ketika Ilmu dan Iman Berbicara

Senin, 21/06/2010 14:38

Pergilah Ke Rumah Sakit !

Senin, 21/06/2010 07:18

Piala Dunia (+Akhirat)

Minggu, 20/06/2010 08:56

Bila Peramal Putus Asa

Sabtu, 19/06/2010 08:20

Haramkah Menolong Saudara Kita?

Jumat, 18/06/2010 13:30

Keputusan Anisa

Jumat, 18/06/2010 07:51

Oase Iman Lainnya

Trending