Kamis, 29 Zulqa'dah 1443 H / 30 Juni 2022

Cinta Maya: Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Kamu bilang, "ini cinta". Ah, sepertinya kamu terlalu cepat menyimpulkan, saudariku. Hanya karena kamu kagum pada kepribadiannya: pintar, shalih, bijaksana, memikatmu dengan tulisan-tulisannya, lalu dengan mudah kamu mengatakan bahwa kamu sedang dimabuk asmara. Ya, sepertinya kamu memang benar-benar mabuk. Dan itu tidak baik sebenarnya untuk tubuhnya, terlebih hatimu.

Tidakkah kamu sadar bahwa pengetahuanmu tentangnya hanya secuil? Dia orang asing yang bahkan belum pernah kamu temui. Bagaimana bisa kamu menghadirkan cinta pada si maya? *meski kamu selalu meyakinkanku, "sosoknya ada, meski aku belum pernah menemuinya"* Hmm.. Atau mungkin kamu terjebak pepatah Jawa: witing tresno jalaran soko kulino? Yasudahlah. Aku pun tak berhak menyalahkan fitrahmu. Hanya, jangan kau pupuk cintamu itu. Karena, belum saatnya taman hatimu bersemi oleh cinta semu.

Tak lama setelah itu kamu berkata, "cintaku pudar". Ah, aku sudah menduganya. Cinta yang kamu bangun di luar ikatan pernikahan memang tak akan memberi jaminan kesejatian. Sepertinya aku pun mulai sepakat dengan pepatah jawa itu: witing tresno jalaran soko kulino. Ada cinta karena terbiasa. Pudarnya cintamu pasti karena intensitas yang tak lagi terjalin.

Jika kamu ingin memetik buah hikmah, ambillah dari pohon kehidupanmu. Sesungguhnya, kejadian ini bisa memberikan banyak pelajaran. Jangan lagi kamu terjebak oleh cinta semu. Kurangi intensitasmu dengan lawan jenismu. Meski mungkin hatimu sudah kuat menahan serangan virus merah jambu, kamu tetap tidak dapat menjamin jika dia terkotori oleh penyakit hati.

"terima kasih" katamu, menutup perbincangan kita. Seharusnya kamu tak perlu berterima kasih. Sudah menjadi hakmu untuk mendapatkan nasihat dari saudarimu. Dan seandainya kamu tahu bahwa bukan hanya kamu yang mengalaminya. Saudariku yang lain pun bercerita hal yang serupa. Jatuh cinta dengan teman dunia maya. Bahkan pernah ku dengar kisah nyata seorang pria beristri yang menyatakan cintanya pada seorang gadis yang dikenalnya melalui dunia maya. Astaghfirullah. Kok bisa yaa? Aku sungguh tak menyangka saat mendengarnya.

Kenyamanan yang dibangun selama interaksi, ditambah intensitas yang berlebih, mungkin dua faktor itu yang menumbuhkan benih cinta. Ah, cukuplah. Cukup kejadian ini menjadi pengingat, untukku dan yang lain agar kita senantiasa menjaga hati-hati kita untuk tidak mudah jatuh cinta. Sudah saatnya kita membangun cinta, menebarkan kasih sayang kepada sesama. Bukan atas nafsu belaka, tapi lebih karena kecintaan yang mendalam kepada Sang Pemilik Cinta, Allahu Rabbuna..

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Perangai Pongah Warga Menteng, Jakarta

Selasa, 22/12/2020 15:00

Jerawat di Wajahku

Kamis, 20/02/2014 08:03

Maafkan Ibu Nak!

Senin, 13/04/2009 08:18

Cara Mempersulit Jodoh

Minggu, 19/06/2011 13:54

Islam: Agama atau Ideologi?

Sabtu, 05/05/2007 03:53

Baca Juga

Almost 40 (years Old)

Kamis, 18/03/2010 13:56

Membangun Kesadaran Berpolitik

Kamis, 18/03/2010 10:21

Jamaah dan Kader Dakwah

Rabu, 17/03/2010 16:46

Ironi di Sebuah Negeri

Rabu, 17/03/2010 13:48

Kisah Sebuah Persahabatan

Rabu, 17/03/2010 08:50

Si Sulung dan Randoseru

Selasa, 16/03/2010 13:10

Obama, oh Obama

Selasa, 16/03/2010 00:40

Oase Iman Lainnya

Trending