Ahad, 19 Syawwal 1443 H / 22 Mei 2022

Yang Sempurna Hanya Allah

AllahuOleh : Ibnu Anwar

Maha Suci Allah SWT yang telah menciptakan segenap makhluq dengan segala kekurangan dan kelemahan mereka. Dialah satu-satunya Dzat yang memiliki kesempurnaan. Dan sesungguhnya tiada satu makhluq pun di alam semesta ini kecuali pasti tidak sempurna dan lemah. Semuanya pasti memiliki sisi kekurangan. Justru ketika ada yang sempurna, maka tentu itu bukanlah makhluq, karena sesungguhnya yang sempurna hanyalah Allah SWT.

Dengan merelakan ketidaksempurnaan diri kita sebagai makhluq, dan memang demikianlah seharusnya, maka kita akan dapat menjalani hidup ini dengan semangat bersyukur dan bersabar, dan kita tidak perlu terbebani oleh sesuatu yang memang diciptakan bukan untuk kapasitas kita, melainkan melaksanakan apa yang ada di hadapan kita dengan niat pengabdian kepada Pencipta kehidupan ini. Justru ketika kita dipaksa untuk menjadi sempurna, maka ketika itulah kita bisa menjelaskan bahwa kita bukanlah Tuhan, sama seperti makhluq lainnya. Allah SWT hanya memerintahkan kita untuk berbuat baik sesuai kemampuan yang dititipkan-Nya kepada kita, bukan memerintahkan kita untuk menjadi sempurna atau menghapus kekurangan kita sama sekali. Sekuat apapun kita berusaha untuk menghindari kekurangan dan kesalahan dalam usaha kita, misalnya untuk tidak menyakiti siapapun, maka tetap saja di sana pasti ada kekurangan dan kesalahan, baik disadari ataupun tidak. Kita tidak mungkin selalu benar, namun yang penting adalah usaha dalam mengikuti kebenaran. Dan dengan mengakui ketidaksempurnaan diri kita sebagai manusia biasa, kita pun akan bisa hidup tenang dan nyaman sebagai apa adanya diri kita saat ini. Yang penting adalah bahwa kita telah berusaha semampu kita untuk melaksanakan apa-apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT.

Dan jika memang kita ingin menghitung kekurangan dan kesalahan manusia, maka tentu itu akan membutuhkan waktu yang sangat panjang hingga bahkan akan tak berujung dan tak ada habisnya. Namun apalah gunanya menghabiskan waktu hanya untuk menghitung sesuatu yang tak bermanfaat untuk diri kita sendiri, bahkan lebih cenderung berakibat dosa yang dibenci Allah SWT. Padahal menghitung kesalahan dan kekurangan akan banyak melahirkan prasangka-prasangka buruk yang membebani hati kita sendiri. Dan ketika hati kita tak lagi mampu menampung semua itu, kita pun akan terpaksa mengungkapkan dan mengumumkannya, bahkan tanpa kita sadari. Padahal mengumumkan prasangka buruk pun juga tak akan mendatangkan solusi apapun, melainkan justru memperkeruh keadaan. Jikapun kita ingin mengoreksi kesalahan, maka sesungguhnya syari’at Islam memerintahkan agar kita bersikap adil dan lurus dalam hal tersebut, dan bukan sekedar mengoreksi berdasarkan prasangka semata yang tanpa bukti. Dan seandainya pun kita benar-benar marah terhadap suatu tindak kejahatan, misalnya kejahatan para koruptor, sedangkan kita tak mampu berbuat apa-apa, maka jangan sampai kemarahan itu membuat kita lepas kendali hingga kita melanggar aturan Allah SWT, seperti mengeluarkan kata-kata kotor atau segala hal lainnya yang mengotori batin kita sendiri dan orang lain. Kita pasrahkan saja urusan yang tak mampu kita tangani kepada ahlinya. Cukuplah kita menyampaikan pendapat dengan cara yang sehat dan baik. Sesungguhnya para koruptor tersebut kalaupun bisa selamat di dunia ini, mereka tetap saja tak akan selamat dari hukuman Allah SWT yang lebih besar di akhirat kelak. Biarlah mereka bersenang-senang di dunia ini dengan cara mereka, dan kita pun tetap berbahagia dengan cara hidup kita sendiri, maka kelak Allah SWT sendirilah yang akan memperjelas semuanya. Jadi kita tak perlu mengurangi kebahagiaan kita sendiri dengan berlebihan membenci mereka yang justru perlu dikasihani karena telah tertipu dengan kehidupan dunia yang sangat sebentar ini. Bersyukurlah karena kita masih diberi iman dan Islam, serta dianugerahi kekuatan untuk mengamalkannya sesuai keterbatasan kita masing-masing.

Selain itu, dengan mengakui ketidaksempurnaan diri kita sebagai manusia, akhirnya kita pun tak perlu sampai berangan-angan untuk memiliki apa yang bukan menjadi hak kita, hingga misalnya sampai menginginkan untuk bertukar posisi dengan orang lain, padahal sesungguhnya tiada yang membedakan antara beragam posisi atau kedudukan sosial di antara manusia melainkan perbedaan yang kasat mata belaka. Sedangkan nilai yang membedakan di antara manusia di sisi Allah SWT bukanlah perbedaan kasat mata tersebut, melainkan apa yang ada di dalam hati mereka masing-masing. Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada sikap dzahir hamba-Nya semata, melainkan justru lebih kepada sikap batin yang ada di dalam hati hamba tersebut. Jadi, dengan demikian, kita pun akan terselamatkan dari sifat-sifat batin yang negatif yang mana justru merugikan diri kita sendiri, insyaa’Allaah. Di samping itu, kita juga akan mendapat kemudahan untuk belajar menghargai orang lain yang juga memiliki kekurangan dan kelemahan. Dan kita juga akan dipermudah dalam menerima segala koreksi atas kekurangan diri kita, dengan mengakui bahwa memang itulah kekurangan yang kita miliki, kemudian kita berusaha untuk memperbaikinya sesuai kemampuan kita. Dan jika kita sudah berusaha hingga titik akhir kesanggupan kita untuk memperbaiki, maka kita pun tak perlu lagi merasa bersalah dan bersedih ketika kita masih saja dipersalahkan. Tentu orang yang tuna netra tak akan perlu bersedih hati ketika dijuluki sebagai orang yang buta matanya, karena memang demikianlah kenyataannya. Dan kaidah inilah yang akan dapat membantu siapapun untuk dapat senantiasa melaksanakan peran dan fungsinya dengan tetap bersyukur, insyaa’Allaah.

Dan dengan demikian, sebagian kita yang mungkin berperan sebagai penyeru kepada agama Allah SWT, mereka pun tak akan perlu merasa bersalah ketika tampak tidak berhasil dalam menjelaskan ajaran Islam yang diserukannya, karena memang yang ditugaskan kepada mereka hanyalah tabligh atau penyampaian, sedangkan kesempurnaan hasil yang berupa hidayah hanyalah wewenang Allah SWT semata. Justru ketika penyampaian tersebut telah dilaksanakan, maka ketika itulah sebenarnya mereka telah berhasil; berhasil dalam arti yang lebih bernilai, yaitu berusaha dan berjuang. Selain itu, mereka juga akan ingat bahwa tantangan di medan perjuangan mereka adalah memang berupa olokan atau yang semacamnya, yang itu semua adalah konsekuensi yang sangat wajar, karena memang kenyataannya manusia pasti memiliki sudut pandang yang berbeda, dan justru adalah merupakan hal yang mustahil jika kerelaan manusia dapat dikumpulkan di satu tempat. Bahkan, junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW yang telah nyata kebenarannya pun tidak diberi kemampuan untuk mempersatukan hati ummatnya yang telah beriman sekalipun, melainkan Allah SWT-lah yang berkuasa untuk melakukannya dengan cara dan rencana-Nya sendiri. Dan jika seorang Rasul yang telah dipilih oleh Allah SWT saja tidak sanggup untuk mempersatukan hati ummatnya yang telah beriman, maka terlebih lagi dengan kita ummat beliau yang tidak selamanya benar dan sudah pasti bisa salah. Sesungguhnya, segala ketentuan atas manusia hanyalah atas kekuasaan dan kehendak Allah SWT semata. Allah SWT telah menyebutkan di dalam al-Qur’an yang artinya:

“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Anfaal: 63)

Demikianlah kita ummat Rasulullah SAW yang tak sempurna. Semuanya memiliki kekurangan, yang justru karena itulah saling menasehati itu diperlukan. Namun tentunya sebuah nasehat dalam usaha saling mengingatkan pun harus benar-benar diusahakan agar sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Dan Al-Qur’an sendiri telah mengajari kita bagaimana sosok sekejam Fir’aun sekalipun harus diseru dengan cara yang baik, yaitu dengan cara yang lemah lembut; lemah lembut dalam artian yang baik dan benar, bukan lemah lembut yang berarti sifat lemah dan tanpa maksud. Karena kebenaran yang disampaikan dengan kelembutan bisa jadi akan justru menyelesaikan banyak permasalahan, yang mana tak bisa diselesaikan dengan kekerasan. Dan jika menyeru sosok Fir’aun yang menginginkan kerusakan saja kita diharuskan menggunakan cara yang lemah lembut, maka terlebih lagi ketika menyeru orang-orang yang justru ingin menghindari kerusakan. Allah SWT berfirman yang artinya:

“Maka berbicaralah kalian berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaahaa: 42-44)

Di samping itu, al-Qur’an juga telah menjelaskan bahwa sifat lemah lembut justru sangat diperlukan dalam rangka menyampaikan kabar gembira dan peringatan dari Allah SWT, sebagaimana yang bisa kita teladani dari sifat Rasulullah SAW. Dan al-Qur’an justru memperingatkan agar kita tidak bersikap keras dan berhati kasar dalam menyeru ummat manusia kepada kebenaran ajaran Islam, yang akan justru menyakiti mereka dan membuat mereka menjauh dari Islam. Al-Qur’an telah mengisyaratkan hal tersebut dalam sebuah ayat yang artinya:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu (Muhammad) bersikap lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka telah menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Aali ‘Imraan: 159)

Memang, pada kenyataannya kita bukanlah Nabi ataupun Rasul yang telah dijamin kebaikan dan kebenaran urusannya oleh Allah SWT, namun tentu diturunkannya ayat tersebut bukanlah tanpa hikmah bagi kita yang mewarisi al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Dan mungkin salah satu hikmah dari ayat tersebut adalah agar kita meneladani bagaimana Rasulullah SAW bersikap dan memperlakukan orang lain. Setidaknya, meskipun kita tidak mungkin seperti beliau, kita tetap bisa berusaha untuk meneladani beliau semampu kita, karena yang sebenarnya dinilai oleh Allah SWT bukanlah hasilnya, melainkan proses dan usaha untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Sehingga, meskipun misalnya seorang peserta ujian tidak mendapatkan nilai sebagaimana yang diharapkan, dia akan tidak perlu kecewa atau mengeluh, karena bagaimanapun juga dia telah belajar, dan belajarnya pun tentunya bukan untuk sekedar memperoleh nilai yang berupa angka-angka semata, melainkan nilai yang lebih maknawi dari itu, yaitu agar apa yang telah dipelajarinya tersebut dapat menjadi penuntun dalam menjalani hidup. Kita memang tidak akan mungkin sama persis dalam meneladani Rasulullah SAW, namun proses dan usaha dalam meneladani itulah yang menjadikan kita belajar banyak hal. Intinya adalah usaha dan proses belajar, dan bukan hasilnya semata. Allah SWT berfirman yang artinya:

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (An-Najm: 39)

Semoga kita bisa berusaha meneladani junjungan kita Rasulullah SAW semampu kita, meskipun tentu tidak pernah sempurna. Setiap kita memiliki kekurangan, namun jangan sampai kita saling meneliti kekurangan. Kita tentu lelah dengan suasana yang serba meresahkan yang kita alami. Maka marilah kita berusaha untuk tidak saling menyakiti satu sama lain. Marilah kita berusaha untuk berhenti membalas sikap orang lain, dan kita alihkan perhatian kita kepada hal-hal positif yang lebih bermanfaat, maka insyaa’Allaah tiada lagi kelanjutan bagi ketidaknyamanan kita selama ini. Karena sesungguhnya api itu hanya akan tetap menyala ketika kita menyediakan kayu untuknya. Maka buanglah apa saja yang akan justru memperbesar api tersebut, semampu kita. Dan hasilnya hanyalah terserah kepada Allah SWT.

Semoga kita bisa turut berbahagia ketika melihat orang lain berbahagia, dan ikut merasa susah ketika melihat orang lain terkena musibah. Setidaknya, jika kita tidak bisa membantu secara langsung, kita bisa mendoakan kebaikan bagi mereka dari jauh. Dan bagi siapapun dari kita yang tertimpa musibah, sesungguhnya Allah SWT memberikan peringatan agar kita tidak berputus asa dari rahmat-Nya yang begitu luas. Semua manusia sama-sama memiliki kekurangan dan juga kesalahan, dan tak pernah ada yang sempurna. Maka semoga Allah Yang Maha Sempurna senantiasa memudahkan urusan kita serta mengampuni kita atas segala kekurangan dan kesalahan yang tidak kita maksudkan dan tidak kita sadari. Sesungguhnya kemampuan untuk beramal kebaikan dan menghindari keburukan hanyalah atas rahmat Allah SWT semata, dan bukan atas daya seorang hamba itu sendiri. Hanya dari dan milik Allah SWT sajalah segala kebenaran, hidayah dan taufiq.

 

Wallaahu a’lam.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Bahagia Dengan Islam

Jumat, 14/02/2014 09:58

Pemikiran Islam Lainnya

Trending