Selasa, 18 Rabiul Awwal 1443 H / 26 Oktober 2021

Utsman bin Affan, sang Dzunnurain (bag 4)

Utsman bin Affan, sang Dzunnurain (bag 4)

-Lanjutan Khutbah Terakhir Utsman- Amma ba’du. Beberapa kelompok orang membicarakanku seakan-akan mereka mengajak kepada Kitabullah dan kebenaran; seakan-akan mereka tidak menghendaki dunia dan tidak menginginkan perselisihan. Namun ketika kebenaran ditunjukkan kepada mereka, muncul sikap dan pandangan yang berbeda-beda. Ada orang yang mengambil kebenaran dan memperselisihkannya ketika diberikan. Ada pula orang yang meninggalkan kebenaran dan membiarkannya dikuasai pihak yang tidak benar. Mereka ingin mempercepat datangnya ketentuan, padahal ketetapan mengenai diriku telah tertulis. Mereka menulis dan mengatakan kepada kalian bahwa mereka telah mengembalikan apa yang kuberikan kepada mereka, sementara aku tidak mengetahui bahwa aku telah meninggalkan dan membiarkan sesuatu yang telah kujanjikan kepada kalian. Mereka menuntut penegakkan hukuman, sehingga kukatakan, “Tegakkanlah kepada setiap orang yang melanggar hukum. Tegakkanlah kepada orang yang menzalimi kalian, siapa pun dia.” Mereka menuntut agar aku membawa kitab Allah sehingga kukatakan, “Bacalah oleh orang-orang yang tidak melebih-lebihkan apa yang tertulis dalam Kitab selain oleh Allah.” Mereka mengatakan bahwa orang yang diharamkan diberi bagian, dan banyak harta yang dibelanjakan untuk suatu kebiasaan yang dibuat-buat. Mereka juga mengatakan bahwa aku berlaku sewenang-wenang terhadap bagian seperlima dari harta pampasan perang dan harta zakat; mereka menuduhku mengangkat para pejabat yang tidak pantas dan mengabaikan orang-orang yang dizalimi. Aku terima semua celaan dan tuntutan mereka dengan sabar dan lapang dada. Kusampaikan kepada kalian bahwa orang-orang yang mencelaku, menuntutku, dan melempariku dengan kata-kata buruk itu, orang-orang yang mengaku memiliki kebenaran itu saat ini berusaha mempercepat datangnya takdirku dan mereka menghalangiku untuk shalat di dalam masjid. Mereka juga merampas dan menghancurkan kedamaian di Madinah. Ketika aku menulis surat ini kepada kalian, aku sedang menghadapi tiga pilihan yang mereka ajukan kepadaku: mempertanggungjawabkan kepemimpinanku kepada semua yang pernah kutemui, benar maupun salah tanpa tertinggal seorang pun; atau aku melepaskan kekhalifahan kemudian mereka menyerahkannya kepada orang lain atau mereka menyerahkannya kepada sekutu mereka dari kalangan tentara dan penduduk Madinah, serta melepaskan diri dari golongan yang taat dan patuh kepada Allah. Kukatakan kepada mereka bahwa berkenaan dengan kepemimpinanku, sesungguhnya para khalifah sebelumku juga pernah salah dan benar, dan mereka tidak perlu mempertanggungjawabkannya kepada orang per orang. Aku tahu bahwa sesungguhnya yang mereka inginkan adalah agar aku meletakkan jabatan. Tetapi ketahuilah, aku lebih suka mereka memperlakukanku seperti anjing daripada kulepaskan kewajiban dari Allah ini. Ucapan kalian bahwa mereka berkirim surat kepada para tentara dan penduduk Madinah, kemudian mereka melepaskan diri dari baiat dan ketaatan kepadaku maka ketahuilah sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab atas perbuatan kalian. Sejak dulu aku tidak pernah membuat mereka benci dan tidak patuh. Mereka datang kepadaku sebagai orang yang patuh dan taat, mengharapkan rida Allah, dan ingin mendamaikan sesama. Jika di antara kalian ada yang mencari dunia, ia tidak akan mendapatkannya selain yang sudah ditentukan Allah. Jika ada di antara kalian yang mengharapkan keridaan Allah, menginginkan akhirat, kebaikan umat, sunnah yang baik yang dijalankan oleh Rasulullah dan dua khalifah sesudahnya maka Allah akan memberikan balasan kepada kalian. Meskipun seandainya kuberikan seluruh dunia ini, tentu semua itu tidak sebanding dengan agama kalian, juga tidak berarti apa-apa bagi kalian. Bertakwalah kepada Allah dan perhatikanlah apa yang ada di sisi-Nya. Sungguh aku tidak menyukai orang yang suka melanggar di antara kalian. Allah juga tidak suka jika kalian melanggar janji-Nya. Mereka yang memberiku tiga pilihan itu adalah para penghasut dan perusuh. Aku dan orang-orang yang bersamaku menahan diri untuk tidak melawan mereka. Aku menyaksikan hukum Allah dan peralihan nikmat-Nya. Aku tidak menyukai kebiasaan buruk, perpecahan umat, dan pertumpahan darah. Aku menyeru kalian untuk mengingat Allah dan memerhatikan Islam. Peganglah kebenaran dan ambillah dariku kebaikan. Jauhilah kejahatan dan kemungkaran serta perlakukan kami dengan adil sesuai dengan perintah Allah swt. Aku menyeru kalian untuk mengingat Allah, karena Dialah yang mengambil perjanjian kalian. Allah swt. berfirman, Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya. (QS. 17:34), inilah argumen kalian kepada Allah, semoga kalian mengingatnya. Amma ba’du. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. 12:53). Kalaupun aku menjatuhkan hukuman, semua itu kulakukan demi kebaikan. Aku bertobat kepada Allah dari setiap kesalahan yang kulakukan. Dan, aku memohon ampunan kepada-Nya. Tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa selain Dia. Sesungguhnya rahmat Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang yang tersesat. Dia menerima tobat hamba-Nya, memaafkan segala kesalahan, dan maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. Aku memohon agar Allah memberikan ampunan-Nya kepadaku dan kalian, menyatukan hati umat ini dalam kebaikan, dan menyingkirkan kefasikan. Wassalamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh, wahai orang yang beriman dan berserah diri. Kesimpulan Khutbah 1.Utsman menjelaskan kepada jamaah haji argumentasi yang telah ia sampaikan kepada pemberontak. 2.Utsman menjelaskan pembelaan dirinya mengenai beberapa persoalan yang dituduhkan oleh para pemberontak. 3.Utsman telah menegakkan hujjahnya atas umat Islam seandainya mereka tidak dapat menjauhkan para pemberontak itu darinya. Terkepung Hingga hari tasyriq berlalu dan sebagian kecil jamaah haji telah pulang ke negerinya masing-masing, rumah Utsman ibn Affan masih dalam keadaan terkepung. Mereka yang pulang itu mengabarkan bahwa kaum muslim yang berada di daerah lain akan pulang ke Madinah untuk membela Utsman. Mereka juga menuturkan bahwa Muawiyah telah mengirimkan pasukan yang dipimpin Habib ibn Maslamah, begitu pula Abdullah ibn Sa’d ibn Abi Sarah yang telah berangkat bersama Muawiyah ibn Khudaij. Penguasa Kufah mengutus al-Qaqa ibn Amr dengan pasukannya. Penguasa Basrah telah mengutus Mujasyi dengan pasukannya. Para pemberontak itu memanfaatkan situasi Madinah yang lengang karena ditinggalkan sebagian orang untuk ibadah haji. Para sahabat yang melindungi Utsman berperang hebat melawan para pemberontak, mereka bertahan di depan pintu rumah Utsman. Abu Hurairah berkata, “Ini hari pertumpahan darah.” Beberapa penghuni rumah terbunuh, begitu pula di pihak pemberontak. Ada pula sahabat yang terluka, termasuk di antaranya Abdullah ibn Zubair, al-Hasan ibn Ali, dan Marwan ibn al-Hakam, yang terbabat urat lehernya hingga akhirnya meninggal dunia. Banyak sahabat yang berjaga di sekitar rumah Utsman. Ketika mereka memasuki rumah sambil menghunuskan senjatanya, Utsman menemui mereka dan berkata, “Aku minta kalian pulang, menyimpan senjata, dan diam di rumah masing-masing.” Mendengar permintaan Utsman itu, Ibn Umar, al-Hasan, dan al-Husain memutuskan keluar rumah, sementara Ibn Zubair dan Marwan berkata, “Kami tidak akan pergi.” Abu Hurairah berkata, “Ini hari yang baik untuk berperang bersamamu.” Utsman menjawab, “Aku minta kau keluar.” Tidak lama kemudian datanglah Zaid ibn Tsabit dan berkata, “Kaum Anshar ada di depan rumah. Mereka menawarkan diri untuk menjadi penolong Allah (ansharullah) kembali.” Utsman tegas berkata, “Aku tidak membutuhkannya. Jadi, tahanlah mereka!” Utsman berpaling kepada Ibn Umar yang masih menghunus pedangnya. Ia mendesak agar Ibn Umar segera pulang karena khawatir akan terbunuh. Kini, semua orang telah diminta pergi oleh Utsman sehingga yang tersisa di sana hanyalah keluarganya saja. Para pemberontak merangsek masuk rumah Utsman yang saat itu sedang mengerjakan shalat dan sedang membaca surah Thaha. Ia terus membaca surah itu sementara orang-orang tengah dikobarkan api amarah dan kebencian. Kemarahan dan kebencian para pemberontak semakin menjadi-jadi. Mereka membakar pintu dan atap rumah. Usai shalat, Utsman duduk menghadap mushaf lalu membaca: “Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 2:137) Berhari-hari para pemberontak itu menghalangi Utsman untuk mendirikan shalat di Masjid Nabi. Sekitar tujuh ratus orang sahabat berkumpul untuk membela dan melindungi Utsman. Namun Utsman lebih suka menumpahkan darahnya sendiri ketimbang menumpahkan darah kaum muslimin yang ingin membelanya. Utsman berkata, “Aku meminta dengan nama Allah agar orang yang punya hak atas dirinya menahan tangannya.” Bahkan ia juga berkata kepada budak-budaknya, “Jika kalian menyarungkan pedang, kalian bebas.” Selama beberapa saat Utsman jatuh tertidur, dan ia bermimpi melihat Rasulullah dan berkata kepadanya, “Makanlah bersama kami malam ini, wahai Utsman.” Dengan demikian, Utsman semakin yakin bahwa ia akan segera menyusul Nabi menghadap Yang Mahakuasa. Terbunuh Muhammad ibn Abu Bakar datang menghampiri Utsman lalu menjambak janggutnya dan mengancamkan pedangnya ke leher Utsman. Namun Utsman menahannya dan berkata, “Tunggu dulu wahai anak saudaraku. Kau mengambil posisi yang belum pernah diambil ayahmu.” Mendengar ucapan itu, Muhammad ibn Abu Bakar lalu pulang dengan perasaan menyesal. Beberapa saat kemudian, para pemberontak berhasil menerobos dan memasuki kamar Utsman. Salah seorang dari mereka kemudian meloncat ke hadapan Utsman yang sedang membaca mushaf, lalu memukul kepalanya. Darah muncrat membasahi mushaf. Lalu seorang lain menusukkan pedangnya ke dada Utsman. Nailah bint al-Farafashah berteriak histeris sembari memeluk Utsman. Khansa, budak Utsman bertanya, “Wahai putri Syaibah, apakah Amirul Mukminin terbunuh?!” Nailah menangkap pedang para pemberontak hingga tangannya terputus. Ketika kepala Utsman terjatuh di atas mushaf, seseorang mendekati, menginjaknya lalu menggeserkan kepalanya dari mushaf seraya berkata, “Belum pernah kulihat pemandangan seperti hari ini. Bahkan wajah orang kafir lebih baik dan tempat berbaringnya lebih terhormat.” Seorang pemberontak berseru, “Kalau darahnya saja halal, berarti hartanya pun halal untuk kita!” Setelah menjarah semua barang yang ada di dalam rumah, mereka pergi menutup pintu, meninggalkan jasad Utsman, dan dua orang yang juga terbunuh bersamanya. Duka Kaum Muslimin Para pemberontak itu sejak awal berteriak bahwa mereka lakukan semua itu demi menegakkan kebenaran, amar makruf nahi mungkar, dan kebaikan umat. Kini terbukti, semua pengakuan itu semata-mata untuk kepentingan dunia. Tak lama setelah kematian Utsman, para pemberontak itu menggasak dan menjarah harta kaum muslimin yang tersimpan di baitul mal. Kaum Muslimin berduka. Isak tangis terdengar dimana-mana. Zubair yang saat itu sedang berada di luar Madinah hanya bisa berkata, “inna lillahi wa inna ilayhi raji’un.” Lalu ia memohonkan rahmat Allah untuk Utsman. Ketika ia mendengar kabar bahwa orang-orang yang membunuh Utsman menyesali perbuatan mereka, ia berkata, “Celakalah mereka.” Lalu dibacakanlah firman Allah swt.: “Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiat pun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya.” (QS. 36:50) Ali ibn Abi Thalib juga hanya bisa memohonkan rahmat untuk Utsman. Saat mendengar para pembunuh itu menyesal, Ali membacakan firman Allah swt.: “(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam”.” (QS. 59:16) Abu al-Ulya menuturkan bahwa Ali masuk melihat jenazah Utsman, kemudian ia menangis histeris hingga orang-orang mengira ia ikut menyusulnya ke alam baka. Ibn Abbas berkata, “Di hari terbunuhnya Utsman, Ali berkata, ‘Aku tidak membunuh, tidak pula menyuruh untuk membunuh. Aku orang yang kalah.'” Ka’b ibn Malik bertutur tentang fitnah kejam yang menimpa kaum muslimin: Ia tangkupkan kedua tangannya, lalu ia menutup pintunya Ia merasa yakin dan percaya bahwa Allah tak pernah lalai Ia minta para penghuni rumah, jangan memerangi mereka Karena Allah memaafkan setiap orang yang tidak membunuh Lihatlah bagaimana Allah menuangkan kepada mereka permusuhan dan kebencian, setelah perjumpaan dan persaudaraan?! Lihatlah, bagaimana kebaikan hilang pergi meninggalkan dada setiap manusia seperti hilangnya nikmat yang tercerabut?! Kita bisa lihat juga kata-kata Hassan r.a. menanggapi peristiwa ini: Apa yang kalian inginkan dari saudaraku seagama Tangan Allah memberkahi kulitnya yang keriput kering Kalian telah membunuh kekasih Allah di dalam rumahnya Kalian ciptakan kejahatan dan kesewenang-wenangan Sungguh kalian manusia sesat yang tak mendapat petunjuk Tidakkah kalian memelihara perjanjian kalian dengan Allah?! Tidakkah kalian memenuhi janji kalian kepada Muhammad?! Tidak adakah di antara kalian yang pernah mendapat musibah Sehingga setiap peristiwa jadikan kalian dapat memenuhi janji Tidaklah beruntung kaum yang telah bersekutu dalam kejahatan Tidak akan mereka tenang, karena membunuh Utsman yang benar Semoga keselamatan tercurahkan kepada Utsman dalam kematiannya setelah kehidupannya. Selamat, dan sekali lagi selamat kepada Dzunnurain. Selanjutnya bagaimana kiprah gerakan kaum munafik? Dan bagaimana kita memahami tuduhan yang dialamatkan kepada Utsman? -bersambung di bagian berikutnya-

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Sirah Tematik Lainnya

Trending