Jum'at, 3 Rabiul Awwal 1444 H / 30 September 2022

Bagaimana Mensikapi Pengaruh Syi'ah?

Seperti bulan Sabit, yang melingkar, mulai dari ujungnya Lebanon, Iraq, Iran, negara-negara Teluk (Kuwait, Emirat, da Qatar), Saudi, sampai paling ujung adalah Yaman, pengaruh Syiah nampak menggeliat, dan mempunyai spektrum politik-ideologis yang sangat luas.

Sejak munculnya gerakan para mullah yang dipimpin Ayatullah Rohullah Khomeini, dan berhalil menggulingkan rejim despotis, Shah Reza Pahlevi, yang didukung AS, semakin terasa gaung ‘revolusi’, yang dipimpin para mullah itu. Setidaknya sebuah kekuasaan yang sangat tangguh Shah Reza didukung kekuatan militer AS, yang merupakan kekuatan militer terbesar di Timur Tengah, terjungkal. Inilah sebuah awal munculnya pengaruh Syi’ah secara politik dan ideologi.

Menjelang dekade ’80 an, Iran sudah mengirim pasukan Pasdaran, yang membantu kelompok Syi’ah di Lebanon, dan berhasil mengusir pasukan marinir AS dan Perancis, dan dengan menggunakan bom mobil, yang menghancurkan gedung yang menjadi pusat marinir AS dan Perancis, dan tak kurang lebih 500 marinir AS yang tewas. Kemudian, AS hengkang dari Lebanon.

Kelompok Syi’ah di Lebanon , yang kemudian dikenal dengan Hisbullah, dan berkonsentrasi di Lembah Beka, Libanon Selatan, berani berperang melawan pasukan darat Israel dan serangan udaranya yang massif. Hisbullah menang, dan berhasil membebaskan Lebanon Selatan serta Lembah Beka dari cengkeraman Israel.

Jatuhnya Saddam Husien oleh invasi militer AS, justru sekarang melahirkan kekuatan politik baru di Iraq, di mana Iraq sekarang di bawah hegemoni golongan Syi’ah. Koalisi antara Perdana Menteri Nuri al-Maliki dengan Mogtada al-Sadr, dan dengan dukungan Iran, maka ini menjadi suatu yang sangat fatal bagi AS di kawasan Timur Tengah. Syi’ah di kawasan itu, benar-benar menjadi sangat hegemonik. Moqtada al-Sadr menurut Majalah Time menjadi ‘King Maker’ di Iraq. Artinya, tidak ada segala sesuatu yang tanpa restu atau dukungan dari Moqtada al-Sadr.

Di Yaman kelompok Syi’ah al-Houti sudah berani melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Yaman. Presiden Ali Abdullah Saleh menjadi kalang kabut menghadapi pemberontakan kelompok Syi’ah Houti, yang berkolaborasi dengan berbagai suku setempat. Dengan kondisi yang sangat lemah, Ali Abdullah Saleh, akhirnya harus melakukan negosiasi dengan kelompok Houti. Ini tak terlepas dari campur tangan Iran.

Sementara itu, di Kuwait kelompok Syi’ah sudah masuk parlemen, dan mengalahkan kelompok Islamis lainnya. Di Bahrain, Qatar dan Emirat kondisinya sama. Di Saudi kelompok Syi’ah membuat sebuah ‘enclave’ (kantong) di dekat dengan Dahran,yang kaya minyak. Tentu, Arab Saudi ekstra hati-hati, dan di Saudi pernah terjadi peristiwa di musim haji, bentrok antara pasukan keamana Arab Saudi dengan jemaah haji Iran, yang mengakibatkan banyaknya korban yang tewas. Peristiwa  yang terjadi di awal revolusi ini, dan dengan semangat anti Barat (AS) yang kental kala.

Sekalipun golongan Syi’ah hanyalah 10 persen dari seluruh jumlah penduduk muslim di dunia, tetapi kelompok ini, di beberapa kawasan di Timur Tengah mempunyai pengaruh yang kuat secara politik dan ideologi.

Ujungnya seperti yang terjadi di Iraq, pasca Saddam Husien, konflik antara golongan Sunni dan Syi’ah, berlangsung dengan dahsyat. Golongan Syi’ah yang sekarang sudah menguasai negara dan infrastruktur negara termasuk militer, digunakan untuk menghadapi perlawanan kelompok Sunni yang terancam. Sebuah fenome baru di dunia Islam.

Akankan konflik antara kelompok Sunni dan Syi’ah ini dapat diselesaikan dengan penyelesaian yang damai tanpa kekerasan yang mengakibatkan banyaknya jatuh korban? Seperti diketahui konflik di Iraq pecah, saat terjadi pemboman masjid berkubah emas, milik kaum Syiah di kota Najf, yang mengakibatkan hancurnya masjid itu. Kini konflik itu, terus berlanjut, tanpa henti.

Sebuah skenario yang memang dikehendaki AS, membagi Iraq berdasarkan golongan ideologi, yaitu wilayah Selatan Iraq dikuasai Syiah, wilayah Tengah Iraq dikuasai Sunni dan wilayah Utara dikuasai Kurdi.

Dengan membagi-membagi Iraq itu, tujuannya tak lain melemahkan negara nomor dunia terbesar penghasil minyak ini. Dengan konflik ini AS mudah untuk memasukkan kepentingannya kepada Iraq.

+++

Dengan ini rubrik dialog sebelumnya kami tutup, dan kami menyampaikan terima kasih atas partisipasinya. Kami mengharapkan pandangan dan pendapat dari para pembaca .

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Gaya 'Koboi' Densus 88

Senin, 17/05/2010 14:11

Moral Obligasi Seorang Pemimpin

Senin, 03/05/2010 09:52

Bagaimana Masa Depan Mereka?

Kamis, 29/04/2010 11:18

Pro Kontra Syarat Moral di Pilkada

Senin, 19/04/2010 15:34

Dialog Lainnya

Trending