Selasa, 27 Zulqa'dah 1443 H / 28 Juni 2022

Al-Qur’an; Aturan Hidup Manusia

Al-Qur’an, inilah nama kitab yang mulia itu, kalamullah yang di turunkan secara berangsur-angsur kepada Muhammad saw melalui perantara malaikat-Nya yang mulia Jibril AS. Petunjuk bagi manusia, yang menjelaskan kepada hakikat petunjuk dan kebenaran yang sejati. Yang menjadi hakim antara yang haq dan yang batil. Yang menjadi pembeda antara yang muslim dan yang kafir. Yang menjadi batu ujian bagi kitab-kitab sebelumnya dan juga batu ujian bagi orang-orang yang datang kemudian, apakah mereka mau beriman atau kufur kepadanya.

Inilah kitab yang mulia itu, yang dengannya mulialah suatu kaum manakala ia dijadikan imam terhadap hawa nafsunya dan dengannya pula terhinalah suatu kaum manakala ia dijadikan ma’mum terhadap hawa nafsunya.

Namun kitab yang mulia ini tidaklah mampu menggerakkan hati dan jiwa manakala seseorang hanya membaca huruf-hurufnya saja, lebih mengagumi sastranya dibandingkan substansi dari tiap-tiap kalimat didalamnya. Ia tidak akan memberi efek apapun manakala dibaca untuk sekedar melipur lara dalam kegundahan, menambah wawasan keilmuan, menyelesaikan tesis atau disertasi, pelengkap ritual-ritual dan momen-momen tertentu. Pembacaan seperti ini semua hanya menimbulkan efek keimanan sesaat, pemahaman yang parsial, yang tak akan mampu menjadi daya dorong perubahan konsepsi hidup dan perubahan akhlaq secara menyeluruh.

Al-Qur’an hanya akan memberikan efek dalam kehidupan manusia manakala ia dipahami sebagaimana generasi pertama —sebagai obyeknya— itu memahaminya, yakni Rasul dan para sahabatnya yang mulia. Ia turun menjawab segala persoalan yang timbul, menjawab keraguan-keraguan dan menguak tabir ketidak pastian, menjelaskan perkara yang haq dan batil, menyelesaikan perselisihan masa itu. Ia berinteraksi langsung secara moral dan emosional kepada para obyek pelakunya. Ia mengarahkan hati-hati, acuan berfikir, membimbing sikap dan perilaku kepada satu manhaj dan sistem tertentu; mencelupkan seluruh unsur entitas tersebut kepada celupan Allah dan tenggelam bersamanya. Dan celupan siapakah yang lebih baik daripada celupan Allah?

صِبْغَةَ اللّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدونَ ﴿١٣٨﴾

“Shibghah* Allah. dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? dan Hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.” (QS. Al-Baqarah : 138)

*Shibghah artinya celupan. Shibghah Allah adalah celupan Allah yang berarti iman kepada Allah yang tidak disertai dengan kemusyrikan.

Tengok kembali sejarah generasi terbaik itu, tengok kembali bagaimana ayat demi ayat diturunkan kepada mereka. Pahamilah Al-Qur’an sebagaimana generasi itu telah memahaminya. Bagaimana mereka telah diarahkan dan dibimbingnya. Dan bagaimana mereka berinteraksi langsung dengannya sepanjang hidup mereka. Tengoklah kembali masa keemasan itu, karena Allah Rabb semesta alam telah memuji mereka, ridha terhadap mereka dan membenarkan mereka. Merekalah golongan Allah, merekalah pengikut sejati Rasul-Nya, merekalah para pembela syariat-syariat-Nya, merekalah golongan yang beruntung itu. Dan tak satupun dari kita lebih benar dari mereka dan mendapatkan garansi tersebut.

هَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿٢٢﴾

“… Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujaadilah: 22)

Begitulah, kita memang seyogyanya hidup dengan generasi pertama umat Islam; membayangkannya dalam kehidupan kemanusiaannya, dalam problem-problem kemanusiannya, merenungkan tujuan-tujuan besarnya. Serta memerhatikan dengan seksama bagaimana Al-Qur’an menuntunnya langkah demi langkah. Ketika ia terjatuh lalu bangkit, ketika lemah lalu melawan, ketka kesakitan lalu bersabar, ketika diberi nikmat lalu bersyukur yang kesemuanya ini memperlihatkan ciri khas kemanusiaan.

Dengan cara pandang seperti ini maka kita akan senantiasa merasa bahwa diri kita juga menjadi objek sasaran Al-Qur’an yang kita merasa sedang dituntun olehnya sebagaimana generasi pertama itu dituntun. Ketika Al-Qur’an menyeru untuk menegakkan sholat, zakat, puasa, haji dan jihad fii sabiilillah maka kitalah yang sedang dipanggil olehnya, Al-Qur’an, kitalah obyek yang sedang diajak berbicara olehnya, kitalah yang akan menegakkanya, kita pula yang akan mendakwahkan dan berjuang bersamanya untuk menegakkannya. Inilah hakikat memahami Al-Qur’an para shahabat itu, pemahaman yang didasari oleh semangat kami mendengar, kami patuh dan kami melaksanakan. Tidaklah generasi pertama itu meminta turunnya ayat Al-Qur’an yang baru sebagai arahan berikutnya sebelum mereka mampu memahami dan merealisasikan ayat sebelumnya. Dengan cara pandang ini maka segala keletihan, kesabaran, kepayahan, kemenangan yang kita alami ketika kita menjalani Al-Qur’an ini adalah sama seperti apa yang telah mereka alami. Dengan cara seperti ini pula maka kita bisa merasakan indahnya hidup dibawah naungan Al-Qur’an.

***

Al-Qur’an ialah naungan yang akan memberikan cahaya. Cahaya itu akan senantiasa terang benderang di hati-hati orang-orang yang mengimani kebenarannya dan mau melaksanakannya. Ia akan menjadi lentera di tengah kehidupan yang kian gelap gulita. Ia akan menerangi, membimbing dan memberikan rambu-rambu pada setiap jalan-jalan dan ruas-ruas kehidupan yang penuh lika-liku syahwat, syubhat-syubhat dan tipu daya sehingga dengannya menjadi jelaslah mana jalan yang haq diantara sekian banyak jalan kebatilan tersebut.

Al-Qur’an, ia diperuntukkan untuk manusia terkhusus ummat Muhammad sampai akhir zaman. Ia tidak berubah walaupun peradaban, sarana dan teknologi telah mengalami kemajuan yang pesat, walaupun telah berlalu generasi demi generasi. Istilah-istilah, aturan-aturan dan hukum-hukum di dalamnya sudah final, paripurna dan sudah pasti kompatibel dengan manusia di seluruh masa.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ فَإِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٣﴾

“pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa Karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al-Maidah : 3)

Al-Qur’an tidak membutuhkan nilai dan sistem lain —yang berasal dari manusia- untuk menopangnya. Semestinya semua nilai-nilai, sistem dan tatanan hidup manusialah yang harus menyesuaikan dengannya. Merupakan kekeliruan besar manakala Al-Qur’anlah yang harus progressive dan up to date mengikuti dan menyesuaikan perkembangan kebudayaan manusia. Istilah dan penafsirannya dipaksa agar kompatible dengan aturan dan sistem hidup pada suatu masa.

Janganlah nash-nash Al-Qur’an dibebani dan diminta untuk menyesuaikan dengan teori-teori ciptaan manusia yang tidak tetap yang mana teori-teori itu terbatas pada objek kajian, batasan permasalahan, sarana atau pra sarana pendukung kajian pada masa itu. Dan bahkan suatu saat —mungkin pada zaman yang berbeda— teori itu dapat dibantah oleh manusia lain dengan argumentasi dan bukti-bukti menurut manusia itu lebih akurat dari sebelumnya.

Marilah kita jujur kepada diri kita sendiri.

Berapa lama kita telah membaca Al-Qur’an dalam satu hari?

Berapa lama dan berapa kali kita telah menghadiri kajian-kajian yang membahas, menganalisa, mengkaji dan mempelajari Al-Qur’an dalam satu minggu atau satu bulan atau bahkan satu tahun?

Berapa lama waktu yang telah kita habiskan untuk bersama Al-Qur’an sepanjang hidup kita?

Lalu bandingkan jika pertanyaan diatas kita ganti objeknya menjadi koran, majalah, pekerjaan, tesis, pendidikan duniawi (S1, S2, S3), teori-teori marketing, sales, saham, politik, fisika, ekonomi dan teori-teori studi lainnya; games, nonton TV, acara gosip, berita, talk show, kuliner, hobby, nonton Bioskop, pertandingan-pertandingan, Film dan hiburan-hiburan lainnya?

Betapa mahirnya kita dalam bidang ini, betapa condongnya hati kita terhadap hal-hal seperti ini, betapa penasaran dan gelisahnya hati kita jika melewatkan hal ini. Padahal kita semua sadar bahwa semuanya itu hanya bermanfaat di dunia saja. Subhanallah!

Dengan berbekal kebersamaan dengan Al-Qur’an yang sangat singkat ini, dengan berbekal pengetahuan tentang Al-Qur’an yang sangat minim ini lalu pantaskah dengan serta merta kita menilai bahwa Al-Qur’an sudah ketinggalan zaman? Sehingga saat ini sudah tabu dan sudah tidak zamannya lagi untuk membicarakannya di mimbar-mimbar, diskusi-diskusi ilmiah dan bahkan obrolan-obrolan ringan sesama kita. Tidak, tidak. Mungkin kita tidak mengatakan secara verbal dengan lisan kita, namun bukankah prilaku kehidupan kita menunjukan hal yang demikian?!

Bukankah ini seolah-olah manusia menganggap bahwa Allah sebagai Rabb semesta alam yang Maha Sempurna hanya mengerti karakteristik manusia dan kehidupan yang terbatas pada zaman nabi dan para sahabat saja di mana Al-Qur’an ini diturunkan?! Bukankah seolah-olah manusia menganggap saat ini manusialah yang jauh lebih mengerti akan kehidupan mereka sendiri? Apakah manusia lebih pandai daripada Allah?!

Bukankah permasalahan sebenarnya terletak pada kelemahan jiwa-jiwa manusia yang sudah terjangkit penyakit cinta dunia dan takut mati itu? Sehingga mereka lari dari Al-Qur’an dan mendekat kepada sistem atau nilai-nilai lain yang berasal dari barat yang nantinya —menurut kami— akan berujung pada sistem dan tatanan dunia baru dibawah sistem Dajjal. Dan tentu saja manakala sistem telah siap dan sedemikian rupa telah menghegemoni dunia Islam, maka keberpihakan ummat Islam kepada sang pemimpin sistem itu (baca: Dajjal) adalah sebuah keniscayaan. Kita berlindung kepada Allah jika hal itu akan menimpa kita kelak.

"Allohumma inni a’uudzubika min ‘adzaabi jahannam wamin ‘adzaabilqobri wamin fitnatil mahya wal mamaati wamin syarri fitnatil massihiddajjal."

"Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari adzab jahannam, dan dari adzab kubur dan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian, dan dari kejahatan fitnah dajjal."

***

Seperti layaknya Al-Qur’an, manusia —sebagai obyek sasarannya— pada hakikatnya juga tidak mengalami perubahan di setiap unsur-unsur penyusunnya. Ia telah sempurna dalam konteks sebaik-baik penciptaan. Secara fisik anggota tubuh manusia tidak pernah berubah. Ia tidak berubah menjadi bentuk lain seperti kera atau hewan lain. Manusia tetaplah suatu makhluq yang berdiri tegak ditopang oleh tulang-tulang dan dibalut dengan daging lengkap dengan seluruh panca inderanya. Emosi dan perasaan manusia juga tidak berubah. Secara fitrah manusia senang dan condong kepada keadilan, kebenaran, keteraturan, keindahan, kebersihan, kemakmuran, kesejahteraan, keamanan dsb sebagaimana ia juga akan benci kepada kekufuran, keburukan, kekotoran, ketidakteraturan, ketidak adilan, kesewenang-wenangan dan berbagai naluri fitrah kemanusiaan yang Allah berikan padanya.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ﴿٤﴾

“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At Tiin : 4)

Sasaran Al-Qur’an ialah karakteristik jiwa manusia yang sesuai fitrahnya itu. Jiwa-jiwa seperti itulah obyek utama Al-Qur’an. Al-Qur’an akan menjadi petunjuk (hudan) manakala manusia kembali pada fitrahnya yang orisinal itu. Nilai-nilai Al-Qur’an hanya akan tumbuh dan berkembang menjadi pohon keimanan yang subur, besar dan kuat didalam lingkungan jiwa seperti ini; bukan lingkungan jiwa yang sarat akan kotoran berupa hawa nafsu.

Hati manusia sejatinya manakala disentuh dengan cara yang benar oleh Al-Qur’an maka akan terjadi revolusi besar-besaran dalam konsepsi kehidupan dan cara berfikir manusia itu. Yang dengan hal ini akan membimbing pemikiran, tutur kata, perasaan, emosi, sikap dan prilaku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai Rabbani. Manusia seperti inilah manusia yang merdeka dalam arti yang sebenar-benarnya. Ia hanya menundukkan, menyerahkan dan menggantungkan dirinya dan seluruh sisi-sisi kehidupannya kepada Rabb semesta alam, ia terbebas dari berbagai belenggu-belenggu perbudakan hawa nafsu yang hina dina.

Namun sayangnya banyak manusia yang sudah “lupa” akan fitrahnya yang mulia itu. Ia lebih senang dan nyaman menjadi suatu makhluk dengan karateristik lain yang hina. Ia lebih rela menjadi budak (dari Thaghut* berupa hawa nafsu) dengan melawan arus gravitasi fitrah orisinalitasnya itu dengan meninggalkan Al-Qur’an. Ia lebih nyaman dan bangga dengan statusnya sebagai budak daripada menjadi manusia merdeka. Ia akan memandang aneh kepada para orang merdeka yang minoritas itu. Seandainya pun pernah terbebas beberapa saat dari perbudakan ini maka ia akan merasa risih, jiwanya berguncang, hatinya menolak dan akal fikirannya pun berontak; mengapa saya jadi orang merdeka?! Tak lama kemudian ia pun akan mencari dan mengemis-ngemis kepada tuan-tuan baru yang mau menerimanya sebagai budak. Ia tak segan-segan untuk kembali dan memproklamirkan dirinya sebagai budak yang paling loyal dihadapan tuan-tuannya itu. Dan ia pun rela menunggu antrian dan berlama-lama bersama budak-budak lain di pintu-pintu perbudakan untuk dijadikan budak padahal yang pertama kali menjadi budak itu sudah ditendang keluar dengan berlumuran peluh, sekujur tubuh yang penuh luka siksaan, badan yang hampir remuk dan bahkan nyaris mati! Sudah sedemikian pun ia masih mencoba mengantri di pintu-pintu tuannya untuk menjadikannya budak kembali untuk ke sekian kalinya. Itulah mental budak sejati. Ironis!

*Thaghut ialah segala sesembahan yang disembah selain Allah atau segala sesuatu yang ditaati melebihi ketaatan kepada Allah.

***

Al-Qur’an ini ialah guidance atau manual book berisi aturan-aturan dari Allah kepada manusia untuk menjalani kehidupan di dunia dengan benar dan meraih kesuksesan di akhirat. Dengan Al-Qur’an inilah manusia akan menjadi mulia; dari derajat budak menjadi hamba Allah. Allah sebagai Rabb; pencipta, pengatur dan pemelihara jagad raya dengan segala isinya, sedangkan manusia objek pelaksana aturan Allah tersebut.

Tentunya kita tidak akan mengatakan ada guidance-guidance yang lain yang setara atau lebih baik daripada kalamullah ini. Sejatinya pasti yang menciptakan jauh lebih mengerti tentang objek ciptaan daripada objek ciptaan-Nya itu sendiri. Betapapun objek yang di ciptakan, yang berupa manusia itu telah mengklaim dirinya telah mampu “menciptakan” objek-objek lain. Manusia tetaplah manusia dengan segala keterbatasannya. Bahkan hanya untuk sekedar melihat telinganya sendiri ia tidak mampu dan membutuhkan bantuan obyek ciptaannya sendiri (baca: cermin). Sungguh lemah sekali manusia itu! Oleh karena itu alangkah anehnya jika ada manusia berlaku sombong kepada sebagian yang lain, terlebih kepada Rabb semesta alam ini —dalam hal mentapkan aturan hidup— padahal mereka hanyalah makhluk yang senantiasa menyimpan dan membawa-bawa kotoran!

Dengan logika yang sama, tidak akan pernah masuk logika dan fitrah orisinal kita bahwa aturan-aturan dan sistem-sistem hidup yang dibuat oleh manusia setara atau bahkan lebih baik dari yang dibuat oleh Rabb. Tidak akan pernah masuk logika dan fitrah orisinal kita bahwa nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang dibuat oleh manusia setara atau bahkan lebih baik daripada yang dibuat oleh Rabb. Tidak akan pernah masuk logika dan fitrah orisinal kita bahwa undang-undang yang dibuat oleh manusia setara atau bahkan lebih baik dari undang-undang yang dibuat oleh Rabb. Ini adalah perkara yang sangat mustahil!

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلاً لاَّ مُبَدِّلِ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ﴿١١٥﴾

“Dan telah sempurna kalimat Rabb-mu (Al-Qur’an), (sebagai kalimat) yang benar dan adil …” (QS. Al-An’aam : 115)

Sesungguhnya Al-Qur’an adalah hakikat yang punya eksistensi permanen selayaknya alam raya ini. Semesta raya adalah kitab Allah yang bisa terlihat oleh panca indera kita, sedangkan Al-Qur’an ialah kitab Allah yang dibaca oleh kita. Keduanya ada untuk melakukan suatu pekerjaan. Keduanya pun memliki tabiat objek sasaran yang sama: bergerak dan tanpa pernah diganti.

Alam raya dengan segala isinya berisi aturan-aturan sunatullah yang harus dan pasti dijalani agar tercipta keharmonisan gerak, tatanan dan sistem diantara objek-objeknya. Matahari akan senantiasa terbit dari timur dan tenggelam ke barat, gunung-gunung akan senantiasa menjadi pasak dan langit menjadi atap bagi bumi; matahari, bulan beserta bumi bergerak mengikuti garis edarnya masing-masing, angin berhembus dari tekanan tinggi ke rendah, api dengan sifat panasnya, sedangkan air sifat dinginnya dan lain sebagainya. Semua objek alam raya itu ialah tetap yang itu-itu juga dengan pekerjaan yang itu-itu juga dari zaman nabi hingga sekarang.

Sama halnya dengan Al-Qur’an, ia pun berisi aturan-aturan yang harus dijalani agar tercipta keharmonisan gerak, tatanan dan sistem diantara objek-objeknya, yang dalam hal ini jiwa dan kehidupan manusia itu sendiri. Dan objek manusianya itu sendiri juga tetap, tidak mengalami perubahan alias yang itu-itu juga dari zaman nabi hingga sekarang.

Oleh karena itu aneh dan menggelikan jika ada manusia yang berkata dan mengejek makhluk Allah yang berupa objek alam raya ini dengan mengatakan, “ini planet sudah kuno dan usang”, “mengapa matahari senantiasa terbit dari timur dan tenggelam di barat?”, “mengapa sifat api ini tidak dingin?”, “Manusia ini makhluk kuno dan ketinggalan zaman, ia layak diganti dengan makhluk lain” dan perkataan aneh lainnya yang melawan sunnatullah dan hukum alam. Dengan logika yang sama dan bahkan lebih aneh lagi manakala manusia mengatakan “kalamullah Al-Qur’an ini sudah kuno dan sudah saatnya diganti dengan aturan yang lain!” padahal keduanya sama-sama memilki eksistensi yang tetap di alam raya ini hingga yaumul qiyamah.

Oleh karena itu, wahai saudaraku, marilah kita benahi paradigma berfikir dan sikap kita terhadap Al-Qur’an dan diinul Islam ini. Mari habiskan waktu akhir pekan kita dengan mencari dan meramaikan majelis-majelis yang membahas Al-Qur’an didalamnya. Mari kita buka kembali lembaran hidup kita dengan goresan-goresan ilmu yang bermanfaat. Mari kita habiskan sisa umur kita yang singkat ini dengan amalan sholeh yang dapat menghantarkan kita ke jannah-Nya. Janganlah kita sia-siakan kesempatan hidup yang singkat dan cuma satu kali ini dengan senantiasa memperturutkan hawa nafsu kita yang tak kunjung terpuaskan itu. Kita hari ini haruslah kita yang lebih baik dari hari kemarin dan kita hari esok haruslah lebih baik daripada kita hari ini. Lets change it now!

Hanya kepada Allah sajalah kita mohon petunjuk …

Wallahua’lam.

Profil Penulis:
Azim Zulkarnain, Karyawan Swasta.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Parlemen Versi Darun Nadwah

Selasa, 06/07/2010 08:55

Solusi Damai Dua Negara ?

Jumat, 02/07/2010 09:19

Pemuda & Mahasiswa Lainnya

Trending