Rabu, 8 Rabiul Awwal 1444 H / 5 Oktober 2022

Meneladani Da’wah Muhammad Natsir

Ketokohan Muhammad Natsir tidak hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia. Di negara tetangga, Malaysia sosok Muhammad Natsir juga sangat dikagumi dan dekat di hati masyarakat. Maka tidak heran apabila kepergian tokoh tersebut pada 14 Sya’ban 1413H bertepatan 6 Februari 1993 turut dirasai mereka.

Ketika di negara kita ramai memperingati seabad sang pahlawan nasional Muhammad Natsir beberapa waktu yang lalu, Malaysia yang notabene negara Islam tidak ketinggalan untuk turut memperingati 100 tahun Muhammad Natsir, itu diwujudkan dengan diadakanya seminar tentang Muhammad Natsir yang disponsori oleh pemerintah negeri Selangor pada bulan Januari lalu.

Kedekatan Masyarakat Malaysia dengan tokoh Muhammad Natsir sangat beralasan, karena sosok Pak Natsir sangat berperan penting dan berjasa bagi perbaikan hubungan dua negara bertetangga ini, khususnya pada era Presiden Soekarno yang menjalankan politik konfrontasi terhadap Malaysia. Dalam upaya mengatasi konflik Pak Natsir sempat mengirim sepucuk surat kepada Tun Abdul Rahman, Perdana Menteri saat itu untuk mengahiri konflik dan membawa ke perundingan. Sedangkan menurut mantan wakil Perdana Menteri Anwar Ibrahim, beliau banyak belajar kepada Pak Natsir dalam berbagai hal. Selain itu Universitas Kebangsaan Malaysia jauh-jauh hari memberikan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa kepada Pak Natsir yang baru memperoleh gelar pahlawan nasional pada 10 November 2008.

Ketokohan dan keteladanan Pak Natsir selain di Malaysia juga sangat disegani di kalangan tokoh-tokoh dunia internasional, khususnya dunia islam. Baik kapasitasnya sebagai ulama maupun sebagai politikus.bahkan para pemimpin dan Raja-Raja Arab sangat menghormati beliau. Dalam masa hayatnya pak Natsir banyak menduduki posisi penting dalam berbagai organisasi seperti World Muslim Conggress, Muslim World League atau lebih dikenal Rabithah ‘Alam Islami dan Majlis A’la Al Alami Lil Masjid (Dewan Masjid Sedunia).

Kalau diperhatikan dengan seksama, di balik ketokohan Pak Natsir terdapat sesuatu hal yang menarik yang perlu kita cermati. Dengan hal tersebut beliau mampu tampil beda serta memiliki citra yang unik dibandingkan dengan pahlawan-pahlawan di Indonesia yang lain. Hal tersebut pulalah yang menjadi jalan hidup beliau dalam menempuh arus zaman. Sesuatu hal yang dimiliki dan ditempuh oleh Pak Natsir tersebut adalah jalan da’wah.

Da’wah dalam segala aspek

Muhammad Natsir telah menempatkan dirinya untuk berada di jalan da’wah. Sehingga apapun yang dijalankan selalu disebatikan dengan misi da’wah. Kecerdasan yang ada pada pada diri beliau dan kuatnya keyakinan terhadap ajaran islam menjadikannya seorang penda’wah yang ulung. Dan kelebihan yang dimilikinya adalah mampu berda’wah dalam berbagai aspek, seperti politik, pendididkan, keilmuan, keperibadian dan tingkah laku. Selain itu objek da’wah yang disentuh tidak hanya untuk kalangan atau golongan tertentu, namun yang menjadi target da’wah adalah mencakup seluruh masyarakat. Baik golongan atas maupun golongan bawah, bahkan kiprahnya dalam da’wah mulai dari daerah, nasional hingga internasional.

Dalam berda’wah di arena politik Pak Natsir terkenal dengan dua kalimat “berda’wah dijalur politik berpolitik dijalur da’wah”. Bagi Pak Natsir berpolitik adalah suatu medan da’wah, sehingga dalam prakteknya harus dilakukan dengan penuh kejujuran, keikhlasan dan sopan santun. Dalam berpolitik sangat tidak pantas kalau hanya menurutkan hawa nafsu dan menepikan hukum Allah. Berpolitik bukan untuk mencari kekuasaan tetapi yang sangat utama adalah mengutamakan kemaslahatan umat.

Pak Natsir juga sangat mendukung demokrasi, karena menurutnya demokrasi yang benar sesuai dengan ajaran islam. Sehingga selama kiprahnya dalam berpolitik selalu melaungkan demokrasi. Bahkan beliau merupakan tokoh penting dalam membangun demokrasi pasca kemerdekaan Indonesia. Sungguh pun beliau memperjuangkan demokrasi namun dalam prakteknya yang dilakukan pemerintah Orde Lama maupun Orde Baru sangat jauh dengan yang dicita-citakannya. Dalam karirnya di bidang politik, beliau pernah menduduki jabatan-jabatan penting, diantaranya menjadi Menteri Penerangan 1946-1949, dan Perdana Menteri Republik Indonesia 1950-1951, namun beliau tidak pernah berusaha untuk memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi, bahkan beliau merasa takut kalau sampai tidak bisa menunaikan amanah dengan benar.

Di arena pendidikan Pak Natsir sangat memperhatikan pentingnya dua aspek pendidikan, jasmani maupun rohani, agama maupun akademis tanpa harus dipisahkan antara satu dengan yang lain. Pak Natsir sangat prihatin dengan keadaan pendidikan yang diwarisi dari sistem pendidikan penjajah yang dipengaruhi pemikiran barat yang sangat menepikan nilai-nilai agama sehingga tidak sesuai bagi generasi Indonesia.

Maka beliau terpanggil untuk berusaha merubah kenyataan yang berlaku.sehingga pada tahun 1938 pak Natsir tampil mengemukakan konsep “pendidikan integral” atau konsep pendidikan yang menyatukan antara pendidikan agama dengan akademis. Disamping itu juga Pak Natsir aktif mendidik para kader untuk terus mendidik anak bangsa dengan nilai-nilai agama.

Selain itu juga dari gagasan dan ide Pak Natsir telah lahir beberapa perguruan tinggi islam di seluruh pelosok tanah air, seperti UNISBA, UII, UMI,UIR, UISU dan UIKA. Maka dengan melihat kiprah pak Natsir dalam berda’wah di dunia pendidikan, tidak berlebihan sekiranya DR.Gamal Abdul Nasir dalam desertasinya menyebutkan “Muhammad Natsir: pendidik umat”.

Dalam dunia keilmuan Muhammad Natsir tampil sebagai intelektual islam yang menguasai berbagai bahasa sehingga beliau mampu mempelajari karya-karya ilmuan barat. Bahkan beliau mengkritik pemikiran-pemikiran barat yang tersasar. Beliau mampu berargumen yang meyakinkan serta ilmiah dalam menyangkal ide-ide ilmuan barat yang mendiskreditkan ideologi Islam.

Salah satu contohnya adalah bantahannya tentang sekulerisme yang diterapkan di negara-negara barat dan ingin ditiru oleh negara-negara islam. Bahkan ada sebagian ulama yang mendukung faham sekulerisme, seperti Syeikh Ali Abdul Raziq dari Mesir dengan karyanya Al Islam Wa Usulul Hukm. Pak Natsir dengan tegas membantah faham tersebut. Selain itu pak Natsir aktif dalam penulisan.

 Beliau selalu menulis di berbagai media tentang wacana keislaman, beliau juga menghasilkan beberapa karya besar diantaranya Capita Selecta dan Fikih Da’wah. Dua karya beliau ini sangat dikenal sampai diluar negeri dan menghiasi di hampir seluruh perpustakaan-perpustakaan negara-negara tersebut, seperti Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. Bahkan di Malaysia sedang diusahakan untuk menerbitkan kedua buku tersebut kedalam versi bahasa melayu. Dan buku Fikih Da’wah juga menjadi kajian rutin di beberapa organisasi, masjid dan universitas.

Selain berda’wah di jalur politik, pendidikan dan keilmuan, Pak Natsir juga menerapkan metode da’wah dalam bentuk praktis dalam keperibadian dan tingkah laku. Dan baginya ini adalah sangat penting keberhasilan proses da’wah sangat berkaitan erat dengan keadaan diri sang penda’wah. Pak Natsir selalu mengedepankan sopan santun dalam keriernya sebagai politikus, ulama, ilmuan dan negarawan.

Bahkan terhadap lawan-lawan politik dan tokoh-tokoh beda agama beliau tetap menghormati dan santun. Ini dapat terlihat diantaranya hubungan beliau dengan Soekarno tetap baik walaupun ia pernah ditahan. Beliau juga bisa duduk semeja dengan tokoh komunis D.N Aidit walaupun baru saja beradu argumen. Dan beliau pun akrab dengan Ignatius Joseph Kasimo seorang tokoh politik katolik. Intinya walaupun berbeda pandangan dan keyakinan namun hubungan sebagai sesama manusia harus tetap terjaga.

Beberapa bidang da’wah yang disebutkan di atas telah diterapkan oleh Pak Natsir sehingga keteladanan beliau masih sangat cocok untuk dijadikan acuan dalam pergerakan da’wah di Indonesia. Keadaan masyarakat yang majemuk dan kehidupan sosial yang kompleks menuntut para penda’wah harus pandai menempatkan diri serta memainkan peranan sehingga target da’wah dapat tercapai

Menantikan figur baru

Kaadaan bangsa saat ini sangat memerlukan tokoh-tokoh seperti Muhammad Natsir. Maka dalam hal ini tugas para penda’wah dan pendidik sangat berperan penting dalam membentuk generasi unggul dan saleh seperti Pak Natsir. Sehingga dapat melahirkan para pemimpin yang mampu menuntaskan segala permasalahan yang menimpa bangsa.

Mengingat kondisi masyarakat yang masih dirudung kemiskinan padahal sudah puluhan tahun hidup merdeka dari penjajah. begitu pula budaya korupsi yang masih saja berkembang menjadikan negara kita berjalan lamban dan cenderung terseret-seret untuk mencapai kemajuan.

Hal ini bukannya tidak mungkin untuk dirubah, namun perlu usaha serius dan konsisten kearah itu. Pak Natsir telah memulai perjuangan melalui da’wahnya dalam usaha merubah nasib bangsa. Maka diperlukan figur-figur baru untuk meneruskan perjuangannya.

Caranya tentunya adalah dengan bercermin dan meneladani perjuangan beliau dangan menerapkan metode-metode yang telah beliau gariskan. Pak Natsir boleh saja pergi namun perjuangan da’wahnya harus tetap hidup.

Hambari Nursalam; Mahasiswa di International Islamic University Malaysia,IIUM; Alamat: International Islamic University Malaysia,Jalan Gombak 53100 Kuala Lumpur Malaysia. Kontak:+60132229826 Email:[email protected]

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Visi Butuh Peta

Rabu, 17/06/2009 08:13

Rendahnya Etika Elite Berpolitik

Senin, 15/06/2009 08:06

Antara Hati dan Perbuatan

Jumat, 12/06/2009 08:01

Nasihat Sebagai Kunci Perubahan

Rabu, 10/06/2009 08:15

Neoliberalisme : Analisa Sejarah

Senin, 08/06/2009 08:17

Melawan Hegemoni Yahudi

Jumat, 05/06/2009 08:20

Miskonsepsi Prabowonomics

Rabu, 03/06/2009 14:15

Pemuda & Mahasiswa Lainnya

Trending