Ahad, 6 Rajab 1444 H / 29 Januari 2023

Gayus Tambunan: Bukti Kesekian Kegagalan Hukum Thaghut

Dewasa ini negara yang menerapkan filososfi hukum adalah panglima kembali dikejutkan oleh sebuah kasus hukum menggelikan. Gayus Tambunan, penjahat kakap Indonesia dikabarkan kabur tanpa kesulitan berarti dari Rumah Tahanan dan malah plesiran ke Bali.

Gayus sebelumnya tersandung oleh kasus penggelapan yang kemudian membawanya ke meja hijau. Uniknya bak bola salju, kasus Gayus kini melebar dan melibatkan sejumlah pihak setelah dirinya tertangkap basah ketika tengah menyaksikan pertandingan Tenis.

Bersama istrinya, mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak ini sempat menyaksikan olahraga elit internasional itu di Nusa Dua. Dugaan ini diperkuat foto-foto yang memperlihatkan lelaki mirip Gayus di tribun penonton hasil bidikan seorang wartawan.

Seperti diberitakan Liputan6.com, delapan polisi dijadikan tersangka terkait bebas berkeliarannya terdakwa mafia pajak Gayus Halomoan Tambunan, beberapa waktu lalu. Sebelumnya, Kepala Rumah Tahanan Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Komisaris (pol) Iwan Siswanto, juga telah dijadikan tersangka. "Kesembilan anggota tersebut telah ditahan dan dibebastugaskan dari tanggung jawab yang selama ini mereka emban," kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Iskandar Hasan di Jakarta, Kamis (11/11).

Iskandar Hasan selaku Kadiv Humas Polri mengakui bahwa penyuapan Gayus kepada 9 polisi tersebut berlangsung sejak bulan Juli 2010. Dengan uang muka sebesar Rp. 50 juta yang diberikan secara bertahap. Penyuapan itu dilakukan semata-mata agar Gayus bisa keluar. Masih menurut beliau, penyidik sejauh ini belum menemukan bukti bahwa transaksi penyuapan itu dilakukan secara tunai ataupun ditransfer melalui rekening bank.

Penyidik baru memiliki bukti berdasarkan pengakuan Karutan Brimob Kelapa Dua Kompol Iwan Siswanto. "Akan dicari barang bukti pengganti. Kalau ada barang bukti yang bisa dikembangkan jadi alat bukti nanti kita sita," jelasnya. Menurut Iskandar, transaksi penyuapan tidak dilakukan oleh perantara melainkan langsung antara Gayus dan para tersangka.

Menariknya Gayus tidaklah seorang diri. Bukanlah rahasia umum bahwa tahanan kelas hiu dalam Negara yang menerapkan Sistem Demokrasi ini amat licin bagai belut jika wibawa dan gelimangan pundi sudah di tangan. Susno Duadji dan Williardi Wizard juga dikabarkan memiliki privilege bagai Gayus. Mereka bisa keluar masuk penjara seenaknya jika uang sudah bicara.

Jauh berbeda dengan tahanan maling ayam dan sandal jepit yang mesti digebuki dulu dan diperas uangnya demi status bebas. Bahkan kadangkala kata bebas itu hanyalah isapan jempol semata mengingat begitu cantiknya permainan hukum, sekali lagi di Negara yang berfilosofi bahwa hukum adalah panglima. Dan lucunya Pihak kepolisian masih saja berujar bahwa kasus itu hanya ulah sebagian kecil oknum.

Betulkah Ini Hanyalah Faktor Oknum?
Kalau memang ini hanyalah hasil dari perilaku oknum, penulis bertanya-tanya, kenapa oknum dalam Negara yang menjadikan Undang-Undang Buatan Manusia sebagai dasarnya ini sering sekali mengkoleksi kasus kejahatan hukum yang justeru dilakukan aparat hukum dan itu tersistematis. Kita mesti ingat bahwa sebelumnya, Artalita Suryani (baca: Ayin), narapidana kasus penyuapan, dengan bebasnya menghias kamar penjaranya layaknya rumah sendiri.

Di dalam kamar yang sejatinya adalah bui itu terdapat pendingin ruangan/ AC, Kulkas, Televisi Flat layar datar, Spring Bed, Laptop untuk browsing Internet, Blackberry, ada juga peralatan Fitnes, Kamar Mandi pribadi yang didalamnya terdapat WC Duduk. Bahkan Ayin mempunyai Asisten pribadi/ Pembantu untuk merawat Anak ayin yang masih kecil dan seorang Dokter Kecantikan untuk perawatan wajah.

Lagi-lagi Ayin juga bukan satu kasus dalam bobroknya hukum di Indonesia. Selain Ayin, Di lantai dua tinggal terpidana seumur hidup kasus Narkotika bernama Alin. Di ruangan Alin sendiri terdapat fasilitas karaoke, televisi, dan ruang lebih besar. Ketika mereka berdua tertangkap oleh Satgas Mafia Hukum, tidak ada timbul penyesalan mendalam dalam dirinya. Mereka terlihat tersenyum sambil melambai-lambaikan tangan kepada wartawan, seakan berkata “Sidak dari Satgas Mafia Hukum itu hanya formalitas biasa. Anget-anget tai ayam. Kita sudah tahu celahnya.”

Penulis kemudian pernah mengkonfrontir kepada kawan penulis yang bekerja di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan bertugas di LP Pondok Bambu, ia membenarkan betapa liarnya seorang penjahat kakap jika sudah bersentuhan dengan hukum. Hukum akan layu jika uang telah disiram di sekelilingnya.

Betul ternyata menurut Ahmad Thompson, salah seorang Ulama Inggris dan juga praktisi Hukum di Eropa. Bahwa karakteristik utama Sistem Dajjal yang sekarang tengah berlangsung ini adalah sebuah Sistem yang hanya berorientasi perut. Tidak lebih. Berlaku atau tidaknya hukum tergantung seberapa besar kocek yang dimilikinya. Terlebih kita berada pada sebuah fase ujian terberat dari sebuah iman dimana Sistem Kepemimpinan Islam atau Khilafah sedang tidak ada.

Perbandingan Hukum Thaghut dan Hukum Allah
Jika petinggi hukum di Indonesia geleng-geleng kepala melihat kasus Gayus dan seperti tambal sulam dalam mengentaskannya. Cara efektif dan jitu bagaimana mengentaskan Kasus Gayus justru sudah dengan rinci dibahas oleh Islam. Menurut Dr. Daud Rasyid, Hukum Syari`at bersih dari segala bentuk kecurangan, kelemahan, dan unsur-unsur kepentingan. Karena legislatornya Allah SWT.

Berbeda dengan Hukum Positif yang tak lepas dari faktor-faktor di atas, karena legislatornya manusia. Umpamanya, Syari`at meletakkan prinsip "PERSAMAAN DI MATA HUKUM" (al-Musawah Baynan-Nas) yang pertama sekali dikenal adalah di dalam Islam. Syari`at tidak membeda-bedakan orang atas dasar warna kulit, etnis atau bahasa. (Surat al-Hujurat 13), dan Hadits ‘Perempuan dari Bani Makhzum’. Prinsip itu lahir di tengah masyarakat yang diskriminatif oleh faktor etnis dan kabilah. Tetapi Islam berhasil menghapus diskriminasi itu dengan semboyan Hadits Nabi SAW bahwa, " Tidak ada kelebihan orang Arab dari orang Non-Arab, selain dalam ketakwaan".

Ini pula yang sempat menimpa Ali Bin Abi thalib, saat ia memperebutkan jubahnya dengan salah seorang Yahudi yang mencurinya. Tidak ada pertimbangan Hakim saat itu melihat Ali adalah amirul mukminin. Di meja persidangan Ali tetap kalah. Ia tak memiliki kuasa menjebolkan gugatannya mengingat hakim pada saat itu sangat adil dan tak bisa luluh oleh status Ali yang juga amirul mukminin. Hakim tidak bisa berbuat apa-apa karena Ali tidak memiliki cukup bukti, walaupun ia yakin jubahnya dicuri oleh seorang Yahudi.

Lantas Apa yang terjadi? Ali keluar dari pengadilan dengan tangan hampa, padahal ia kholifah yang bisa jadi pada zaman sekarang status itu yang membuat seorang pemimpin bebas dari jeratan hukum. Namun tak lama berselang, Yahudi itu kemudian mengucapkan syahadat melihat begitu paripurnanya hukum Allah yang tidak mendiskriminasikan mana rakyat kecil dan pejabat. Yahudi itu kemudian mengaku bersalah mencuri jubah Ali dan mengembalikkannya kepada sang pemiliknya. Dan apa kisah selanjutnya, Ali malah memberikannya kembali kepada Yahudi itu sebagai sebuah hadiah. Subhanallah.

Kegagalan Indonesia dalam menjinakkan para pejahat kakap sebenarnya bukanlah faktor oknum. Tapi tidak lebih dari timpangnya pemamahan hukum secara integral. Problemnya menjadi semakin rumit karena Indonesia justru menerapkan hukum musuh Allah, yakni Belanda yang notabene misinya memang menjauhkan Umat Islam Indonesia dari Tuhannya. Naudzubillah.

Islam sudah mengatur jelas betapa konsep adil dalam hukum hanya dapat berlaku jika hukum Allah ditegakkan. Sayyid Quthb dalam Ma’alim Fii Aththariqh-nya sudah menjelaskan bahwa orang yang baik-baik jika dia berkubang dalam lumpur hukum thaghut, cepat atau lambat tinggal menunggu waktu bahwa ia akan terpenjara di dalamnya.

Sebaik-baiknya pejabat hukum ketika ia berada dalam naungan untuk menegakkan hukum buatan manusia, yakinkah ia akan menghadapai dua kendala besar. Pertama, secara pasti ia tidak akan bisa menegakkan hukum seadil-adilnya. Kedua, ia akan berhadapan dengan resiko peredusiran iman yang cukup signifikan. Hal ini dirasa tidak berlebihan karena Allah telah menggariskan untuk kita agar menghindari sejauh mungkin pemberlakuan hukum thaghut menyesatkan ini,

Apakah engkau tidak memperhatikan terhadap orang-orang yang mengaku bahwa mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan (kepada) apa yang diturunkan sebelum engkau? Mereka hendak berhukum kepada thaghut (sesuatu yang menyesatkan, segala pembuat hukum selain Allah SWT), padahal sungguh mereka telah diperintahkan supaya mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya.”(QS. an-Nisa’ : 60)

Problemnya tidak hanya disitu, karena dari itu semua ketika kita menerima hukum thaghut sebagai panglima, ini akan bedampak dengan tauhid kita. Inilah konsekuensi dalam beriman yang tidak bisa dibantah dengan logika dunia. Seperti alasan bahwa karena kita hidup di sistem dimana hukum Islam tidak tegak, mau tidak mau kita harus mengikutinya. Karena khilafah sedang tidak ada, mau tidak mau kita harus mencampuradukkan dulu antara Al Haqq dan Al Bathil. “Ini rukhsakh, akhi”.

Bagaimana mungkin? Ibnu Taimiyyah jelas sekali menyatakan ketika bangsa Mongol menaklukan Baghdad dan kemudian mereka masuk Islam dan mencampur adukkan hukum Allah dengan hukum positif mongol, Ibnu Taimiyyah memberi fatwa: Kafir!!

Imam Ibnu Qoyyim dalam kitab I’lamul Muqi’in telah dengan baiknya menyatakan bahwa siapa saja yang berhukum atau menghukumi dengan selain yang dibawa Rasulullah SAW berarti ia telah menjadikan thaghut sebagai hakim dan berhukum kepadanya. Dan thaghut adalah setiap yang disembah, diikuti, atau ditaati melebihi batas. Jadi, thaghut itu setiap sesuatu selain Allah dan rasul-Nya yang dijadikan penentu hukum oleh suatu bangsa, atau diturut oleh mereka tanpa bukti/penjelasan dari Allah SWT.

Dan Allah telah menggariskan itu semua.
Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang tidak diturunkan Allah. Maka mereka itulah orang-orang kafir” (Al Maidah 44)

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah. Maka mereka itulah orang-orang zalim” (Al Maidah 45)

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah. Maka mereka itulah orang-orang fasik” (Al Maidah 47)
Wallahua’lam bishshawab.

Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, Konselor Muslim.
Ketua Umum Forum Komunikasi Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam se Indonesia
.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Haji dan Jihad

Kamis, 11/11/2010 09:00

Demokrasi Agama?

Selasa, 09/11/2010 11:07

Paradigma Dakwah Kampus

Kamis, 04/11/2010 09:54

Apa Itu Al-Qaeda ?

Sabtu, 30/10/2010 12:14

Pemuda & Mahasiswa Lainnya

Trending