Rabu, 5 Zulhijjah 1443 H / 6 Juli 2022

Ketiadaan Melahirkan Kemampuan

“beli mobil dong bi, jadi gak capek..sekolah jalan terus kan capek”, begitu celoteh anak saya sore tadi saat kami akan masuk ke stasiun. Saya kaget juga, anak saya yang baru 6 tahun sudah berfikir tentang kepemilikan barang yang mungkin belum ada dikepala anak seusianya.

Saya jelaskan kepadanya bahwa kita harus bersyukur masih bisa jalan, masih bisa naik kereta, masih bisa naik bis, karena pada saat yang sama banyak orang yang tidak bisa jalan, naik kereta atau bis. Saya sampaikan juga padanya bahwa dengan banyak jalan dia menjadi lebih sehat dan kuat. Setiap pulang sekolah anak saya suka balapan lari dengan adiknya. Saat ada lomba di kelasnya anak saya selalu bisa mengalahkan teman-teman Jepangnya meski temannya lebih besar dari dirinya. Saya katakan inilah hikmah yang lain,”dalam ketiadaan kamu memiliki banyak kemampuan”.

Meratapi ketiadaan memang sangat mudah dan ini menjadi perilaku banyak orang. Terkadang mungkin kita juga kesal dengan keterbatasan yang menyebabkan banyak hal tidak dapat dilakukan. Namun percayalah bahwa semua itu hanya akan sia-sia saja tanpa solusi yang nyata.

Siang tadi dosen saya memutarkan film tentang Nigata, salah satu wilayah di Jepang. Nigata termasuk salah satu daerah yang sangat menderita ketika musim dingin tiba. Saat musim dingin salju yang menumpuk bisa lebih dari 5 meter, dan itu berlangsung sekitar 3 bulan. Salju itu bukan hanya menutup lahan-lahan pertanian mereka, melainkan juga semua lahan kehidupan mereka, bahkan mengubur rumah-rumah mereka. 50 tahun lalu, daerah ini juga pernah dilanda banjir besar yang tak surut-surut hingga berbulan-bulan. Tapi berbagai kesulitan dan keterbatasan itu tidak membunuh semangat hidup mereka. Justru sebaliknya, daya hidup mereka tumbuh, kreatifitas mereka lahir, dan berbagai solusi bisa mereka temukan. Dan dunia menyaksikan, meski lahan-lahan pertanian tertutup salju disebagian wilayah jepang selama berbulan-bulan, namun penduduknya tidak pernah kekurangan pangan.

Ketiadaan justru seringkali melahirkan banyak kemampuan, sebaliknya keberadaan bahkan keberlimpahan tidak jarang justru membunuh banyak kemampuan. Teman saya cerita waktu gajinya Rp 2 juta dia bisa menabung, namun saat gajinya Rp 5 juta dia malah pusing bayar hutang setiap bulannya. Dengan jumlah yang sedikit dia memiliki kemampuan mendisiplinkan diri dari pengeluaran yang tidak perlu dan akhirnya bisa menabung. Namun ketika jumlahnya banyak, tiba-tiba kemampuan itu hilang. Sedikitnya berlebih, banyaknya malah kurang.

Dalam konteks kebangsaan kita, kita menyaksikan betapa banyak bangsa-bangsa di dunia yang tidak beroleh karunia yang banyak atas kekayaan alamnya, namun mampu tampil menjadi bangsa yang berkelimpahan. Dan sebaliknya, tidak sedikit bangsa yang beroleh berbagai karunia atas kekayaan alamnya justru tampil dengan serba kekurangan.

Negara-negara seperti Jepang, Korea dan Singapura yang miskin sumberdaya justru memiliki segalanya. Negara sepeti Swiss juga sangat mengesankan. Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi terkenal sebagai negara pembuat coklat terbaik di dunia. Negara Swiss sangat kecil, hanya 11% daratannya yang bisa ditanami. Namun dalam ketiadaan Swiss justru memiliki banyak kemampuan. Swiss menjadi Negara yang mampu mengolah susu dengan kualitas terbaik. Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia. Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi dalam keamanan, integritas dan ketertiban, tetapi saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai dan dipercaya di dunia. Peralatan Swiss Army dan Victorynox dari Swiss menjadi standard pasukan khusus negara di dunia.

Meski demikian tidak semua negara miskin sumber daya memiliki kemampuan untuk bangkit menjadi negara maju. Kita menyaksikan beberapa negara di Afrika yang miskin sumber daya sampai hari ini masih bergulat dengan kemiskinannya. Bantuan internasional sudah tidak terhitung jumlahnya, namun kematian yang disebabkan oleh kemiskinan sulit untuk ditekan. Apa sebab? Negara-negara tersebut tidak mampu menggunakan dana-dana bantuan internasional sebagai modal awal untuk menggerakkan perekonomian. Yang terjadi justru sebaliknya, mereka terlena oleh bantuan dan menjadi tergantung oleh bantuan. Negara yang seperti ini tidak hanya miskin secara sumberdaya, melainkan juga telah menjadi miskin secara mental.

Indonesia bukanlah negara yang miskin sumberdaya. Setiap jengkal tanahnya memiliki kekayaan yang luar biasa, cuaca yang sangat bersahabat, lautan luas yang begitu kaya raya. Itulah sebabnya para penjajah datang silih berganti, ingin menikmati semua kekayaan alam yang laksana syurga ini. Sayangnya, orang-orang asing begitu mudah menikmati seluruh kekayaan yang kita punya, namun rakyatnya sendiri masih saja banyak yang sulit untuk menikmati kehidupannya.

Keberlimpahan yang kita miliki justru membunuh berbagai kemampuan. Dalam keberlimpahan seakan kita tidak berdaya mengelola segala sumberdaya yang kita punya. Kita tidak mampu mendistribusikan kesejahteraan secara adil dan merata, kita tak mampu menjaga segala warisan budaya, kita juga tak mampu menjaga tanah dan air kita dengan sebaik-baiknya. Derita tercipta dimana-mana meski setiap jengkal tanah dan airnya kaya raya.

Mengapa ketiadaan melahirkan banyak kemampuan sementara keberlimpahan justru membunuh segala kemampuan? Ternyata persoalannya terletak pada kemampuan kita mensyukuri segala apa yang kita miliki. Bersyukur dapat diartikan sebagai kerelaan kita menerima berbagai kenyataan empirik yang kita hadapi yang disertai dengan kemampuan kita melihat berbagai sisi positif dari setiap situasi dan mengambil manfaat dari hal-hal positif yang kita hadapi.

Mereka yang bersyukur akan melihat berbagai sisi positif dan mengambil manfaat dari berbagai hal positif yang ada dalam setiap situasi yang terjadi. Akumulasi dari hal ini akan melahirkan kondisi yang lebih baik dan lebih baik setiap waktunya. Hal ini sesuai dengan janji Allah swt sendiri seperti yang tertera dalam Al Quran “…Sesugguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nimat-Ku), maka sesugguhnya azab-Ku sangat pedih…” (QS.ibrahim /14:7).

Mensyukuri kondisi dan situasi yang kita hadapi akan melahirkan kejernihan dalam memandang keadaan. Dari kejernihan ini kita akan mampu melihat peluang dan tantangan secara objektif dan kita akan dapat mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan untuk meraih semua peluang dan mengatasi semua tantangan. Pada saat itulah nikmat Allah akan terus bertambah dan bertambah.

Semoga bangsa ini bisa menjadi bangsa yang senantiasa bersyukur dalam setiap situasi yang dihadapi. Amin.

[email protected]

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

War on Terrorist

Senin, 21/09/2009 10:03

Di Penghujung Ramadhan

Sabtu, 19/09/2009 08:14

Jeritan yang Makin Tak Terdengar

Rabu, 16/09/2009 09:15

Mengapa Orang Baik Bertindak Buruk?

Rabu, 09/09/2009 07:25

Pemuda & Mahasiswa Lainnya

Trending