Ahad, 5 Rabiul Awwal 1444 H / 2 Oktober 2022

Mengukur Moralitas Dosen

Diantara karakteristik yang harus dimiliki oleh sebuah lembaga pendidikan yaitu adanya upaya transfer of personality (transfer kepribadian) oleh para pendidik kepada anak didiknya. Tanpa karakteristik ini, label dan fungsi sebagai sebuah lembaga pendidikan niscaya akan dipertanyakan. Lembaga pendidikan, ataukah hanya sekedar mesin pemberi ilmu dan atau sekedar perusahaan pencetak tenaga kerja?.

Ketika di sebuah lembaga pendidikan proses transfer kepribadian ini tidak terlaksana sesuai dengan idealitanya, niscaya akan memberikan dampak yang luar biasa dan berkepanjangan sepanjang hidup pada diri anak didik khususnya, serta masyarakat umumnya. Ketika para anak didik menerima transfer kepribadian yang tidak layak untuk diteladani, maka efeknya akan sangat besar karena ketidakteladanan para pendidik ini dipastiakan akan diserap oleh para anak didik. Alhasil, terjadinya berbagai kekacauan dalam semua tatanan kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara akan menjadi hal yang sulit untuk dihindari.

Dunia kampus adalah dunia yang mestinya selalu dijaga kesucian dan kesterilannya dari unsur-unsur dan elemen yang memproduksi sikap yang tidak layak untuk diteladani oleh mahasiswa sebagai konsumen teladan dosen di kampus. Jujur saja, dosen dalam dunia pendidikan mahasiswa adalah elemen penting yang akan mencetak kepribadian mereka. Segala tindak tanduk sang guru akan tercatat dengan sendirinya didalam memori para mahasiswa. Mahasiswa yang kritis mungkin akan berpikir seribu kali untuk mencontohi sikap sang dosen jika itu berlawanan dengan nalar kritisnya.

Sementara mahasiswa yang cenderung menerima apa saja segala sesuatu yang datang dari dosennya, pada akhirnya akan menjadikan semua tindak tanduk, tutur kata dan prilaku dosennya sebagai model manusia yang akan ditiru untuk kemudian dikembangkan dan dibudidayakan juga kepada calon anak didik sang mahasiswa tadi. Disisi lain, negeri ini tidak mungkin berhenti berharap menyaksikan berbagai agenda dan aksi perubahan yang dipelopori oleh kaum mahasiswa dan para pemuda. Dengan demikian, baik tidaknya contoh yang diberikan oleh sang dosen kepada mahasiswanya hari ini maka akan sangat mempengaruhi dan menentukan kondisi agama, negeri dan bangsa ini esok hari. Sebagaimana pula kondisi kita hari ini adalah berdasarkan bagaimana para pendidik di negeri ini mendidik orang tua hari ini kemaren hari.

Jika hari ini kita saksikan masih ada oknum-oknum dosen yang masih suka menyulitkan mahasiswanya, maka ke dapan hal yang sama dipastikan akan terulang. Dan hal ini akan terus berlanjut sampai entah kapan. Saya berkali-kali menerima keluh kesah beberapa teman mahasiswa yang mengkisahkan sulitnya menyelesaikan skripsi karena begitu sibuknya sang dosen sebagai alasan untuk tidak memeriksa skripsi mahasiswa. Ada pula yang saat ditelpon begitu sulit untuk menjawab. Berkali-kali sms minta jumpa namun tidak ada jawabnnya.

Disini kita pantas tersayat, kondisi ekonomi mahasiswa tidaklah sama semuanya. Ada mereka yang harus bercucuran airmata untuk bisa kuliah dan menargetkan siap tepat waktu untuk kemudian pulang mengabdi pada orang tua dan agamanya, namun terkedala oleh keangkuhan sang dosen yang keseriusannya untuk menjadi pembimbing sangat layak untuk dipertanyakan.

Konsep ‘yasirru wa laa tu’siruu’, ‘permudahlah, jangan dipersulit!’ yang diperkenalkan oleh Rasulullah seakan hanya mampu diulang-ulang saat diruang belajar saja, namun begitu jauh dari aplikasi dan pembuktian di alam nyata. Begitu paradoks antara idealita dan realita. Selain itu, dari cerita rekan-rekan saya, ada oknum dosen yang untuk memeriksa 10 lembar bab skrispi butuh waktu berbulan-bulan, hal saya rasa termasuk diantara ciri-ciri keangkuhan intelektual, karena pada dasarnya seorang yang ilmunya semakain tinggi maka akan semakin menunduklah dia, akan semakin sempurnalah akalnya, akan semakin mudahlah orang lain berinteaksi dengannya.

Seorang dosen perlu memberikan contoh teladan bagi para mahasiswa nya. Baik diruang belajar maupun didepan publik. Bukan sebaliknya mengharap teladan dan pengertian dari mahasiswanya. Tidak semua mahasiswa/i pandai loba-lobi dengan senyuman, kelembutan dan sebagainya. Yang tidak pandai senyum, tidak bisa lembut, tidak ganteng, tidak kaya, tidak cantik juga harus dimudahkan urusannya.

Disini bukan berarti kita berharap urusan mahasiswa dimudah-mudahin, yang diharapkan oleh para mahasiswa adalah tetap dalam jalur dan sistem. Kalau satu bab skripsi butuh waktu satu tahun utk periksa (dengan alasan sibuk dan sebagainya) itu kan sudah diluar sistem namanya? Dan bukankah itu sangat jauh dari nilai-nilai etika yang layak diteladani?. Apalagi jika dari mulut sang dosen keluar kata-kata menyakitkan, seperti: ‘itukan sudah nasib lo?’. Jika tak sanggup mengikuti sistem, kenapa kita tidak memilih profesi lain saja sehingga tidak merugikan orang lain, karena dosen dengan keangkuhan seperti itu niscaya akan merugikan mahasiswanya.

Dengan realita seperti ini, kita berharap mahasiswa tidak tinggal diam, meskipun dihadapannya adalah profesor. Gelar bukanlah segalanya bagi mereka yang rindu perubahan!. Mahasiswa harus tetap kritis dihadapan dosennya, kita disini tidak diajari untuk menerima secara membabi buta semua yang datang dari sang guru. Insya Allah demi kebaikan, menyoal sikap mereka tidak akan menjadikan kita murid yang durhaka dan membawa kita neraka, namun sebaliknya saya yakin hal ini akan mendekatkan mahasiswa ke syurga.

Ada pula oknum dosen yang sangat sibuk sehingga jarang sekali masuk ke ruang untuk mengajar, kemudian dihari lain masuk dan mahasiswa diminta untuk menandatangani absensi beberapa kali dalam sekali tatap muka. Menyedihkan bukan? Meski nanti mahasiswa diberi nilai A plus semua, tapi apalah arti nilai tersebut jika perolehan ilmu yang didapat tidak sepadan dengan nilai yang diberikan?. Bahkan adalah hal yang sangat aneh, jika dalam ruang belajar pasca sarjana ada oknum dosen yang terkesan memaksa mahasiswa mengikuti cara pandang dan gayanya dalam berfikir dengan cara meminimalisir kesempatan para mahasiswa untuk bertanya atau memberikan sanggahan.

Disini, kita memang tidak sekalipun memungkiri peran serta para tenaga didik, baik para guru di sekolah, teungku di pesantren-pesantren, atau dosen yang terus konsisten berjalan sesuai dengan rule of the game-nya. Banyak pula diantara mereka yang sangat layak dijadikan sebagai panutan oleh para mahasiswa. Namun disini, penulis hanya bermaksud mengkritisi sebagian kecil saja diantara mereka, karena meski kecil tersebut akan sangat menentukan watak mahasiswa sebagai peserta didik. Fakta kita lihat, peluang bagi peserta didik untuk mengambil contoh yang baik atau buruk dari gurunya adalah sama besarnya.

Maka itu, disini dan hari ini, mari kita berharap, dan berbenahlan wahai para guru kami. Wahai dosen-dosen di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kami akan menerima semua yang baik yang engkau ajarkan, tapi tolong dihadapan kami jangan ada kecurangan. Kami yakin para guru kami mampu melakukannya, dan kami tidak bermaksud menununtut kesempurnaan dari para guru. Kami cuma berharap engkau melakukan sesuatu yang memang bisa engkau lakukan. Kasihanilah negeri ini, kasihanilah generasi ini, kasihanilah generasi yang akan hidup setelah kita nanti.

Terakhir, sudah saatnya kampus-kampus di Indonesia mempelopori falsafah baru untuk merubah birokrasi di negeri ini. Kita berharap agar falsafah ‘Jika bisa dipersulit, untuk apa dipermudah?’ secepatnya ditinggalkan oleh dunia kampus, menuju falsafah baru, ‘Jika bisa dipermudah, untuk apa dipersulit?’. Kampus-kampus di Indonesia secara kelembagaan harus menjadi generator yang mempelopori perubahan.

Dunia kampus harus berani mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak memihak terhadap kepentingan rakyatnya. Bukankah di kampus kami diajari sebuah kebenaran?. Para akademisinya harus lebih kritis mencermati isu-isu yang berkembang di masyarakat. Kepentingan masyarakat harus tetap menjadi orientasi terdepan para akademisi. Kita mengucapkan terimakasih kepada mereka yang hari ini secara konsisten terus berada di garda terdepan membela kepentingan rakyat.

Akademisi yang tidak menjilat penguasa serta konsisten mengamalkan ilmunya, merupakan contoh-contoh teladan yang selayaknya diikuti oleh para mahasiswa. Demikianlah secercah harapan yang tertulis dengan sebuah qalam dan yang lahir dari lubu hati paling dalam. Tanpa bermaksud menyalahi, dan hanya berharap terjadinya perubahan. Dan bangkitlah negeriku, harapan itu masih ada!

Teuku Zulkhairi; Penulis adalah Ketua Senat Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

My Name Is Sony Laksono

Sabtu, 15/01/2011 16:01

Umat Islam Butuh Saluran Televisi

Senin, 10/01/2011 10:56

Muhasabah Awal Tahun

Senin, 03/01/2011 09:12

Pemuda & Mahasiswa Lainnya

Trending