Kamis, 12 Muharram 1444 H / 11 Agustus 2022

Kita Butuh Ramadhan

"Telah datang kepada kalian bulan Ramadan. Bulan keberkahan yang Allah wajibkan kepada puasa di dalamnya. Dalam bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak mendapat kebaikan di dalamnya, maka ia telah luput dari banyak kebaikan." (H.R. Ahmad)

Syukur kepada Allah kita masih dipertemukan dengan bulan yang sangat mulia dan berharga untuk meraih pundi pahala yang tak terbatas. Kita semua sangat membutuhkan datangnya bulan penyucian diri ini. Ramadan datang dengan membawa kebaikan dan keberkahan. Ia datang membawa berita gembira untuk seluruh alam. Ramadan datang untuk mencuci hati hamba-hamba yang berdosa. Ia juga datang untuk mengangkat derajat para hamba yang berbakti semakin tinggi dari sebelumnya.

Ramadan adalah bulan yang Allah pilih untuk menjadi saat turunnya kitab dan risalah-Nya. Ia adalah bulan penghubung antara langit dan bumi. Saat rahmat tercurah dengan lebat, maghfirah mengucur bagai air bah, cahaya terpancar berpendar-pendar ke segala penjuru, dan kebaikan memancar di setiap menit dan detiknya.

Dalam bulan ini, disyariatkan ibadah puasa yang mempunyai banyak sekali keutamaan. Puasa mempunyai pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota tubuh luar dan kekuatan batin di dalam. Puasa juga menjaga dipengaruhi hal-hal yang buruk yang dapat merusak jiwa. Puasa dapat mengangkasakan jiwa menuju ketinggian akhlak, kehalusan budi, keindahan pekerti, kematangan pribadi, kepekaan rasa, dan penghambaan yang seutuhnya kepada Sang Pencipta.

Puasa membebaskan diri dari gurita nafsu yang mengajak kepada hal-hal yang rendah. Ia juga menjadikan jiwanya merdeka dari lilitan nafsu syahwat dan kebinatangan yang bercokol kuat dalam diri. Dengan berpuasa seorang hamba dapat memperkecil jalannya setan dalam aliran darah, mengubah rasa ego menjadi cinta dan kasih sayang, rakus menjadi ridha dan qana’ah, liar menjadi sabar, tenang dan terarah.

Maka jadilah kebahagiaan dirinya tidak lagi terbatas pada pemuasan syahwat semata. Tidak sekedar memuaskan kebutuhan jasmaninya yang tak pernah berujung. Namun lebih dari itu, ia menikmati kenikmatan yang tiada tara dalam dirinya. Ketenangan dan kedamaian jiwa yang luar biasa dan selalu bersamanya kemanapun ia berada. Itulah kelezatan iman yang dapat membawanya kepada bahagia abadi sepanjang masa. Ibnu Abdil Barr berkata: "Cukuplah pernyataan Allah "Ash-Shaumu Li" menjadi keutamaan puasa dibanding ibadah-ibadah lainnya."

Tentang puasa ini , Ibnul Jauzi berkata: "Puasa itu ada tiga macam: Puasa rohani yaitu dengan tidak banyak berangan-angan, puasa akal yaitu dengan menentang hawa nafsu dan puasa anggota tubuh dengan menahan diri dari makan, minum dan berhubungan badan"

Ramadan adalah waktu terapi intensif memperbaiki dan menjernihkan hati. Ibadah puasa, shalat tarawih, infak dan sedekah serta segenap ibadah yang diperintahkan disyariatkan didalamnya merupakan rangkaian program perbaikan diri dan masyarakat.

Saat-saat ramadan ini juga adalah waktu yang tepat untuk membuktikan kekuatan menahan keinginan dan perasaan, kesetiaan dalam ucapan, kesejatian dalam sikap, dan ketabahan dalam melaksanakan komitmen yang sudah diputuskan. Bila saat Ramadan kita kalah, maka bersiaplah untuk kalah di bulan-bulan selanjutnya.

Umarulfaruq Abubakar. Lahir di Gorontalo, 30 Juni 1985. Alumni Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta-Gorontalo. Sedang menempuh pendidikan Pasca Sarjana di Fakultas Syariah Wal Qanun Universitas Al-Azhar. Saat ini juga diamanahi aktif sebagai Koordinator Divisi Kajian SINAI, Koordinator Departemen Keilmuan dan Kepakaran ICMI Orsat Kairo dan Koordinator Majlis Litbang PMIK. Email :[email protected]

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Masyarakat Substantif

Rabu, 26/08/2009 07:10

Ahlan Ya Ramadhan

Jumat, 21/08/2009 07:58

Pemuda & Mahasiswa Lainnya

Trending