Kamis, 3 Rajab 1438 H / 30 Maret 2017

Belajar Dari Mayat Kubu Sebelah

Redaksi – Sabtu, 20 Jumadil Akhir 1438 H / 18 Maret 2017 17:00 WIB

Eramuslim.com – Ini kejadian nyata, belum sampai setahun usianya. Semoga bisa menjadi pengingat bagi kita yang masih hidup, agar jangan sekali-kali meninggalkan agama kita dan jangan sekali-kali melanggar larangan Allah Swt. Nama-nama dan lokasi kisah ini sengaja tidak ditulis, karena akan menggegerkan Indonesia. Apalagi dalam situasi sangat panas seperti sekarang. Inilah kisahnya:

Suatu malam, teman saya ditelpon langsung oleh seseorang yang sangat berpengaruh di negeri ini. Dia bilang kerabat dekatnya barusan meninggal dan minta supaya besok subuh langsung bisa dikuburkan. Teman saya yang belum menyadari siapa yang menelpon tidak menyanggupinya karena memang tidak mungkin bisa menguburkan di kala subuh atau pagi-pagi buta.

“Oke, kalau demikian saya akan kontak bos Anda!” ujarnya dengan nada tinggi. Orang penting itu pun mengontak si Bos yang juga orang yang sangat berpengaruh di negeri ini walau dia bermain di balik layar dan terkesan low-profile, padahal dia TOP OF THE TOP.

Tak sampai hitungan menit, sebuah perintah VVIP tiba di telepon genggam teman saya. Pemakaman harus bisa dan dilakukan pagi jam 7, walau bukan subuh karena memang harus ada beberapa persiapan.

Akhirnya pagi hari, setengah jam sebelum jam tujuh lokasi sudah siap. Persiapan dilakukan dengan sangat cepat. Semua petugas juga sudah berada di tempatnya masing-masing, walau wajah-wajah mereka terlihat kurang tidur dan letih.

Pukul tujuh tiba rombongan jenazah, saya yang ada di tempat menghitungnya, tak sampai sepuluh mobil! Padahal dugaan kami akan banyak sekali pengantarnya, maklum kerabat dekat tokoh sangat penting di negeri ini. Satu-persatu anggota rombongan keliar dari mobil. Saya mendekati salah seorang perempuan yang mengenakan busana serba hitam dengan kerudung juga hitam, untuk mengorek informasi soal kejadian yang mendadak ini.

Meluncurlah cerita dari perempuan sosialita itu:

“Saya sama sekali tidak menyangka dia (almarhumah, red) akan secepat ini. Tadi sore kami baru saja jalan-jalan di mall, biasalah belanja dan cuci mata. Dia sehat-sehat saja dan memang dia tidak punya riwayat penyakit. Dia selalu rajin memeriksakan kesehatannya di Singapura. Ketika pulang dan berpisah pun biasa-biasa saja, malah kami saling tertawa-tawa. Nah, tadi malam kami mendapat kabar jika dia terpeleset di kamar mandi dan langsung gak ada. Kami tentu saja bersedih dan bingung….,” ujarnya.

Dari anggota rombongan yang lain, saya mendapat cerita yang lebih terperinci:

“Dia meninggal setelah jatuh di kamar mandi sekitar jam delapan malam. Namun kami heran, dia tidak memiliki riwayat penyakit apa pun, tapi kondisi mayatnya tadi malam cepat sekali membusuk. Bagian perutnya sudah membusung, kembung, dan baunya busuk. Ustadz yang dipanggil mengatakan jika dia harus secepatnya dikubur karena dicemaskan jika tubuhnya sampai meledak, akan menjadi fitnah besar di negeri ini. Sebab itulah tengah malam tadi “X” (tokoh di negeri ini yang menelpon teman saya) langsung menelpon petugas pemakaman agar bisa secepatnya dimakamkan. Dan pagi inilah baru bisa, untung belum meledak perutnya….”

X sendiri yang katanya mau hadir di pemakaman ternyata tidak hadir. Mungkin dia ingin menghindari keberadaannya jika sewaktu-waktu mayat tiba-tiba meledak sebelum sempat dikuburkan. Bahaya bagi reputasinya jika itu terjadi.

Usai pemakaman yang singkat dan terburu-buru, saya tanya beberapa petugas pemakaman yang langsung mengurusi jenasah. Mereka mengatakan jika di kain kafannya sudah berdarah-darah dan mengeluarkan bau busuk. Padahal mereka sudah dilengkapi dengan maskar berlapis dan diberi zat pewangi di maskernya masing-masing. Pemakaman kerabat orang penting di negeri ini juga tak dihadiri awak media satu pun. Dilakukan dengan diam-diam dan buru-buru.

Saya heran. Tidak punya penyakit apa pun, baru meninggal tadi malam, tapi tengah malam perut sudah kembung dan mulai berbau busuk. Ini sesuatu yang sangat janggal. Seharusnya perut mulai membusuk dan kembung itu memakan waktu berhari-hari, apalagi jika tidak ada penyakit. Tapi ini dalam hitungan tak sampai sepuluh jam!

Akhirnya, kami kembalikan semuanya kepada Allah Swt. Mungkin Allah Swt ingin mengingatkan kepada kita yang masih hidup jika kita harus selalu ingat jika dunia ini cuma sementara, dan sebab itu dalam hidup dan kehidupan kita wajib selalu berpegangan pada ajaran Islam yang kaffah. Janganlah akidah dijual dengan murah. Mudah-mudahan kita selalu ingat itu dan tidak sekali-kali berani melanggar perintahnya. Hidup itu cuma sebentar. [rd]

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Inilah Kondisi “Negeri Kalian”

Rabu, 01/02/2017 13:30

Suara Pembaca Lainnya

Trending