Jum'at, 14 Jumadil Awwal 1444 H / 9 Desember 2022

Buah dari Pendidikan: Mari Kita Menerung Sejenak!

1 1Mari kita sedikit idealis, ikut memikirkan nasib bangsa ini.

Kenapa bangsa kita jadi begini yah?  Korupsi merajalela, pemalas, egois, sumberdaya alam rusak, banjir di ibukota, macet dimana-mana, pengamen semakin banyak, dllsb.  Sementara teman-teman yang pernah berkunjung (atau sekolah) di negara-negara lain (Jepang, Jerman, Amerika, Singapura, Malaysia, dll) sering menceritakan di sana tuh lebih tertib, bersih, nyaman, teratur, saling menghargai, urusan mudah, dll.  Apa yang salah dengan bangsa kita?

Katanya kalau soal kepintaran, orang kita enggak kalah dibanding bangsa lain. Tapi kok ngurus ketertiban di  jalan saja enggak bisa-bisa, malah semakin parah.  Adakah teman yang bisa menjawab?

Saya coba merenung.  Dari perenungan itu sementara saya mendapat jawaban seperti ini:  Ternyata akar masalahnya ada pada sistem pendidikan negara kita.  Kalau di negara lain (yang lebih baik), sejak usia dini anak-anak dididik dulu dengan sistem pendidikan yang membangun karakter.  Bukan dengan menjejali ilmu dulu.  Anak usia SD di sana cukup diajari matematika, bahasa, dan sejarah.  Selebihnya mereka dididik tentang kejujuran, kerjasama, saling menghargai, kesopanan, disiplin, kepedualian terhadap sesama, cinta tanah air, hidup teratur di jalan dan tempat umum, kerja keras, tanggungjawab,  dllsb.

Dengan karakter inilah mereka bisa memanfaatkan ilmu untuk membangun, bukan untuk pinter-pinteran dan saling menjatuhkan.  Tidak seperti perilaku anggota dewan kita yang susah akur dan hobbynya jalan-jalan.  Memang ilmu tanpa wadah karakter yang baik, nyaris tidak berfungsi untuk kebaikan bersama.  Jadi tumpul dan kadang jadi alat opportunistik, individualistik.

Mungkin suara hati  individu kita tidak menghendaki keadaan seperti ini, tapi ada perasaan tidak berdaya untuk mengatasi keadaan.  Akhirnya masing-masing terperosok kepada menyelamatkan kepentingan pribadi dan keluarganya masing-masing dulu.  Itu wajar.

Tapi, apakah kita mau seperti ini terus?  Lalu siapa yang bisa merubahnya?  Apakah kita menunggu orang lain untuk merubahnya?  Orang lain itu siapa?

Saya kira kita juga bisa memulai dari diri kita dan keluarga kita sendiri.  Kita bisa mulai dengan memperbaiki karakter kita. Kita bisa mulai dengan belajar membangun kecerdasan sosial kita dalam bentuk kerjasama, saling menghargai, saling mensupport, saling membantu, saling berbagi, saling bercengkrama dengan ramah dan damai, saling peduli, juga keberanian untuk mengakui kekurangan diri, mau belajar dan menimba kebaikan dari orang lain, tidak saling mencemooh, dll.  Demikian juga anak-anak kita diajari hal yang sama, sambil dikontrol dari pengaruh buruk lingkungan.

Ada anekdot yang disampakan seorang dosen kepada saya: Bila ada 10 ahli orang Jepang dikumpulkan dalam satu tim, disuruh membuat sebuah proposal yang bagus, maka mereka akan menghasilkan satu proposal yang sangat bagus.  Sementara bila ada 10 orang ahli Indonesia berkumpul  dalam satu tim disuruh hal yang sama, mungkin hasilnya jadi 10 bahkan 11 proposal individu.  Anekdot ini menggambarkan perbedaan kecerdasan kerjasama.  Dan ini tentu buah dari sistem pendidikan sejak usia dini.

Anekdot ini menjadi tantangan bagi kita Bangsa Indonesia, apakah kita mau dan berusaha untuk berubah? Atau akan tetap terpasung dengan kebiasaan umum bangsa ini?  Bila kita tidak juga segera beranjak, maka jangan salahkan orang lain kalau nasib kita dan anak-anak kita akan semakin sulit ke depan, sebab kita sendiri menjadi mata rantai dari cara hidup yang salah.  MARI BERUBAH, MUMPUNG MASIH ADA WAKTU DAN ADA TEMAN YANG MASIH PEDULI!

eno suwarno <[email protected]>

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Miskin Belum Tentu Hina

Selasa, 23/04/2013 15:19

Suara Pembaca Lainnya

Trending