Kamis, 6 Jumadil Awwal 1444 H / 1 Desember 2022

Kisah Cinta Nabi Yaqub, Pengabdian 14 Tahun Untuk Mempersunting Gadis Pujaan

Makam Nabi Israel (Ya'qub) 'Alaihissalam - YouTube

Makam Nabi Yaqub AS

eramuslim.com — Nabi Yaqub adalah putra Nabi Ishaq dan terpilih menjadi Nabi bagi Bani Israel. Nabi yang dilahirkan di Palestina ini memiliki empat orang istri dan 12 anak.

Istri pertama Yakub adalah Lea, kakak perempuan Rahel (Rachel) , Rahel yang menjadi istri kedua Yakub. Keduanya merupakan anak dari Laban, paman Yakub.

Dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama dalam Alkitab Kristen (Kejadian 29:18-23) diceritakan bahwa Lea tidak memiliki paras seelok adiknya. Dalam Alkitab Septuaginta (dari abad ke-2 SM) sosok Lea digambarkan sebagai asthenes (lemah/ sakit-sakitan). Sedangkan adiknya, Rahel, memiliki sikap yang ceria dan cantik parasnya.

Yakub sejatinya menaruh hati pada Rahel, bahkan dia rela bekerja pada pamannya selama tujuh tahun demi mendapatkan restu untuk menikahi sang pujaan hati.

“Aku mau bekerja padamu tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel, anakmu yang lebih muda itu.” Laban menjawab, “Lebih baiklah dia kuberikan kepadamu daripada kepada orang lain; maka tinggallah padaku.” tercatat dalam Alkitab Kejadian 29.

Namun setelah genap bekerja sesuai perjanjian, Laban justru membawakan Lea kepada Yakub. “Apakah yang kauperbuat terhadap aku ini? Bukankah untuk mendapat Rahel aku bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?” protes Yakub.

“Tidak biasa orang berbuat demikian di tempat kami ini, mengawinkan adiknya lebih dahulu daripada kakaknya. Genapilah dahulu tujuh hari perkawinanmu dengan anakku ini (Lea), kemudian anakku yang lainpun (Rahel) akan diberikan kepadamu sebagai upah, asal engkau bekerja pula padaku tujuh tahun lagi,” jawab Laban.

Maka Yakub menyanggupi perintah sang paman, dan melangsungkan pernikahannya dengan Lea. Tujuh hari setelahnya Laban pun memberikan Rahel padanya, dan Yakub kembali bekerja pada Laban selama tujuh tahun lagi.

 

Dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama dalam Alkitab Kristen, dari pernikahannya dengan Lea, Yakub memperoleh enam putra, Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, Zebulon, yang kelak menjadi suku-suku bangsa Israel, dan seorang putri bernama Dina. Sedangkan dari pernikahannya dengan Rahel, Yakub memperoleh dua anak, yaitu Yusuf dan Benjamin.

Keganjilan muncul karena meski Yakub lebih mencintai Rahel dibanding istri pertamanya, namun Lea justru memberikan lebih banyak anak. Dalam Alkitab diceritakan bahwa Allah SWT melihat bahwa Lea menikah tanpa dicintai, maka dia dianugerahkan rahim yang subur, sedangkan Rahel menderita kemandulan. Saat Rahel menyadari bahwa dia tidak dapat melahirkan anak bagi Yakub sedangkan kakaknya telah memberikannya empat putra (Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda), muncullah kecemburuan yang membara.

Rahel berkata kepada Yakub, “Berikanlah kepadaku anak! kalau tidak, aku akan mati.” Maka bangkitlah amarah Yakub terhadap Rahel dan dia berkata, “Akukah pengganti Allah, yang telah menghalangi engkau mengandung?” Rahel membalas, “Ini Bilha, budak perempuanku, hampirilah dia, supaya dia melahirkan anak untukku, dan supaya oleh dia akupun dapat mempunyai keturunan.”

Maka diberikannyalah Bilha, budaknya itu, kepada Yakub menjadi istrinya dan Yakub menghampiri budak itu. Setelahnya Bilha melahirkan dua anak, Dan dan Naftali, yang dinamai Rahel. “Allah telah memberikan keadilan kepadaku, juga telah didengarkan-Nya permohonanku dan diberikan-Nya kepadaku seorang anak laki-laki,” ujar Rahel saat Bilha melahirkan anak pertamanya, Dan. “Aku telah sangat hebat bergulat dengan kakakku, dan akupun menang,” ujar Rahel saat Bilha kembali melahirkan anak bagi Yakub, yang kemudian dinamai Naftali.

Di sisi lain, Lea sudah tidak lagi memberikan anak bagi Yakub. Lalu dia memberikan Zilpa, budak perempuannya, untuk dijadikan istri bagi Yakub. Dari pernikahan Yakub dengan istri keempatnya itu, dia dikaruniai dua orang putra yang dinamai Gad dan Asyer.

Dalam Alkitab, Terjemahan Baru, Kejadian 30:14-16, diceritakan, suatu hari, Ruben, anak pertama Lea, sedang memanen gandum dan membawakan buah dudaim, para cendikiawan Alkitab menyebutnya sejenis gingseng, dan diberikan kepada sang ibunda.

Saat itu Rahel melihatnya dan meminta beberapa dudaim pada Lea. “Berilah aku beberapa buah dudaim yang didapat oleh anakmu itu,” ujar Rahel. Lea menjawab, “Apakah belum cukup bagimu mengambil suamiku? Sekarang pula mau mengambil lagi buah dudaim pemberian anakku?” Rahel membalas, “Kalau begitu ku biarkan engkau tidur dengannya (Yakub) malam ini sebagai ganti buah dudaim anakmu itu.”

Ketika Yakub pulang dari ladang waktu petang, Lea menghampirinya dan berkata,

“Engkau harus singgah kepadaku malam ini, sebab memang engkau telah kusewa dengan buah dudaim anakku.” Sebab itu tidurlah Yakub dengan Lea pada malam itu, lalu

Allah mendengarkan permohonan Lea, sehingga dia kembali dianugerahi dua anak laki-laki dan satu anak perempuan bagi Yakub.

Melihat itu, Rahel memohon pada Allah SWT agar kemandulannya dapat terobati. Allah SWT yang melihat kesungguhan Rahel akhirnya menganugerahinya seorang putra yang dinamai Yusuf, kelak menjadi seorang nabi dan penasehat Raja di Mesir. “Allah telah menghapuskan aibku,” ujar Rahel setelah kelahiran Yusuf.

Setelah kelahiran Yusuf, Yakub mendatangi mertuanya, Laban, dan meminta izin untuk kembali ke tanah kelahirannya di Suriah, dan membawa serta istri-istri dan seluruh keturunannya. “Sekiranya aku mendapat kasihmu! Telah nyata kepadaku, bahwa Tuhan memberkati aku karena engkau. Tentukanlah upahmu yang harus kubayar, maka aku akan memberikannya,” ujar Laban.

Akhirnya Yakub mendapat sebagian ternak dari Laban setelah bekerja 14 tahun padanya. Maka sangatlah bertambah-tambah harta Yakub, dan dia mempunyai banyak kambing domba, budak perempuan dan laki-laki, unta dan keledai.

Yusuf merupakan anak kesayangan Yakub, sehingga mengakibatkan iri dengki terhadap saudara-saudaranya. Pada suatu hari, saudara-saudaranya berencana membuang Yusuf dari kehidupan mereka. Mereka mengatur strategi untuk menyingkirkan Yusuf, dan rencana tersebut berhasil. Yusuf terjebak pada sebuah sumur, jebakan tersebut berasal dari saudara-saudaranya yang iri dengki terhadapnya.

Sejak saat itu, Yakub dirundung kesedihan yang berkepanjangan karena kehilangan putra tercintanya, Yusuf. Sepanjang hari dia menangisi kepergian Yusuf dan akhirnya dia menjadi buta. Beberapa tahun kemudian, Yakub mendengar kabar dari anak-anaknya jika putra tercintanya masih hidup.

Yusuf yang sebelumnya bertemu dengan saudara-saudaranya yang iri dengannya, memerintahkan mereka untuk memberikan gamisnya kepada sang ayahanda, untuk diusapkan ke wajah Yakub, agar ayahnya kembali dapat melihat. Atas izin Allah SWT Yakub pun dapat melihat kembali dan berkumpul dengan keluarganya di Mesir. [rol]

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Takut Suami

Jumat, 15/04/2011 17:00

Penguburan Ari-ari Bayi

Selasa, 01/12/2009 13:00

Berbeda ? Untuk Saling Mengenal (5)

Minggu, 09/08/2009 10:44

Bentuk-Bentuk Ibadah Umat Terdahulu

Sabtu, 06/01/2007 05:48

Sikap Pengelola dengan Investor

Selasa, 08/06/2010 11:03

Baca Juga

Tahukah Anda Lainnya

Trending